Memahami Aliran, Gaya dan Seni Kepemimpinan dalam Organisasi

 

Penulis: DR H. J. Faisal  | Pemerhati Pendidikan dan Sosial |  Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor | Anggota PJMI

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA–  Kepemimpinan adalah sebuah proses mempengaruhi orang lain agar mengikuti apa yang menjadi kehendak sang pemimpin. Dalam teori kepemimpinan modern saat ini, banyak sekali aliran, gaya, dan tipe-tipe kepemimpinan yang dikemukakan oleh para ahli sosiologi yang berkhidmat secara khusus di dalam dunia teori kepemimpinan Barat, seperti Hargreaves & Fink, Douglas McGregor, Chaudhry & Javed, dan yang lainnya.

Adapun aliran atau teori kepemimpinan yang dikembangkan oleh dunia pengetahuan Barat, antara lain Great Man Theory, Trait Theory, Contingency Theory (Situational), Process Leadership Theory, Transactional Theory, Transformational Theory, dan Style and Behavior Theory.

Sedangkan gaya kepemimpinan yang dikenal secara luas adalah gaya kepemimpinan otokratik / otoriter, birokrat, karismatik, demokratis / partisipatif, Laissez-Faire, dan gaya kepemimpinan transaksional.

Semua aliran atau teori, serta gaya-gaya kepemimpinan tersebut tentu saja dapat dipelajari secara lebih mendalam dari sumber-sumber keilmuan yang dapat dipercaya, seperti dari buku-buku kepemimpinan yang ditulis oleh para ahli, dari jurnal-jurnal ilmiah tentang kepemimpinan, bahkan dapat kita pelajari dari sumber-sumber primer secara langsung, yaitu dari mereka yang sedang atau pernah memegang sebuah tampuk kepemimpinan organisasi.

Terlepas dari semua teori di atas, menurut pengamatan saya sebagai seorang pembelajar dalam ilmu pendidikan dan ilmu sosial, kepemimpinan adalah seni bagaimana membuat sebuah kesatuan kepentingan yang sama dari seluruh anggota organisasi (member interest) yang kemudian diatur dengan konsep-konsep rencana organisasi dan rencana kerja yang jelas, demi meraih tujuan bersama (organisation interest).

Sebab jika sebuah organisasi yang dipaksakan untuk ‘berjalan’ tanpa konsep dan tanpa rencana kerja yang jelas, dapat dipastikan organisasi tersebut akan berjalan secara ‘sempoyongan’ dan ‘terseok-seok’ tanpa tujuan, dan akan menjadi organisasi yang ‘hidup segan mati tak mau.’

Dengan kata lain, seorang pemimpin harus bisa memetakan atau membuat mitigasi tentang apa sebenarnya kepentingan atau hal yang membuat anggota organisasinya menjadi bersemangat (interest) untuk berkarya di dalam organisasi tersebut.

Sebagai contoh sederhana, jika dalam teori pembelajaran dalam dunia pendidikan, seorang guru harus mampu membuat sebuah apersepsi untuk murid-murid terhadap pelajaran yang akan dia terangkan. Sebagai seorang pemimpin di dalam sebuah ‘organisasi’ kelas tersebut, maka sang guru harus mampu ‘melihat’ minat dan ‘interest’ sampai sejauh mana murid-murid tersebut tertarik dengan pelajaran yang akan dia terangkan kepada mereka, agar dapat menangkap inti dari pelajaran tersebut.

Artinya, guru tersebut harus mampu membangkitkan minat murid-murid dengan ‘memancing’ interest mereka sebelum masuk kepada pelajaran inti, dengan cara mengajak mereka berdiskusi dengan cara yang menyenangkan terlebih dahulu, dan memetakan tingkat ketertarikan mereka.

Dari diskusi yang menyenangkan tersebut, maka kondisi otak murid-muridnya akan berada pada kondisi yang tenang (kondisi Alpha). Kondisi tenang dan menyenangkan tersebut, akan mampu membuat sebuah gaya pembelajaran yang menyenangkan untuk murid-muridnya. Dapat dipastikan, jika ada banyak kesenangan dan kebahagiaan di dalam diri dan pemikiran murid-murid tersebut, maka tujuan pembelajaran pun akan dapat diraih dengan mudah.

Dari contoh deskripsi di atas, maka dapat kita tarik sebuah pembelajaran sederhana, bahwa seorang pemimpin yang baik bukan hanya pandai berbicara, selalu membanggakan diri dan ilmunya, atau selalu membuat perbandingan antara organisasi yang dipimpin dengan organisasi lain.

Seorang pemimpin yang baik mampu mendengar dan melihat apa yang membuat para anggota menjadi senang untuk bergabung dan memahami apa yang ingin mereka raih di dalam organisasi tersebut.

Ketika seorang pemimpin mampu melihat apa ‘interest’ para anggota organisasi tersebut, maka dia akan mampu membuat berbagai macam rencana kerja organisasi yang sesuai untuk didelegasikan kepada para anggota, dan mampu membuat sebuah motivasi yang tinggi bagi para anggota untuk berprestasi dan mendapatkan ‘pengakuan’ atas prestasinya tersebut, sehingga kinerja mereka pun akan meningkat dengan sendirinya.

Satu hal yang harus kita ingat bahwa kebutuhan manusia yang tertinggi bukanlah mendapatkan materi yang banyak tetapi mendapatkan apresiasi dan pengakuan yang layak dari sesamanya, terlebih dari lagi dari pemimpinnya.

Meskipun tentu saja, tidak semua teori kepemimpinan dan gaya-gaya kepemimpinan tersebut dapat diterapkan sepenuhnya di dalam sebuah organisasi. Jika kita memang mendapatkan amanah untuk menjadi seorang pemimpin, maka kita harus memilih teori dan gaya kepemimpinan yang cocok diterapkan di dalam organisasi.

Tetapi satu hal yang pasti, jika ‘seni’ keterampilan dasar sebagai seorang pemimpin sudah mampu untuk kita kuasai, yaitu mampu melihat kekuatan dan kelemahan organisai kita sendiri, serta mampu untuk mendengar dan melihat apa kebutuhan atau keinginan para anggota organisasi, maka itu artinya separuh tugas kita sebagai pemimpin sudah mampu untuk kita selesaikan, tinggal dilanjutkan untuk menyelesaikan masalah teknis lainnya untuk dibagi kepada seluruh anggota organisasi secara adil.

Pastinya kita juga harus menyesuaikan diri kita, apakah kita memang mempunyai kemampuan untuk menguasai ‘seni’ keterampilan dasar sebagai seorang pemimpin (leadership), dan mampu menjalankan amanah serta tanggung jawab kepemimpinan kita tersebut, atau jangan-jangan kita hanya mempunyai kemampuan untuk menjadi seorang pengikut saja (followership).

Sebab dapat dipastikan, akan sangat berbahaya sekali dampaknya bagi sebuah organisasi, jika ternyata pemimpinnya sebenarnya tidak mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk menjadi seorang pemimpin, namun tetap ‘dipaksakan’ untuk menjadi seorang pemimpin, padahal kemampuan sebenarnya baru sekedar menjadi seorang pengikut (follower).

Inilah masalah yang sebenarnya banyak terjadi dalam dunia keorganisasian di Indonesia, terlebih lagi dalam organisasi kenegaraan.

Apakah organisasi anda atau negara anda termasuk di dalamnya? Jika ya, segeralah diadakan sebuah evaluasi kepemimpinan, agar organisasi tidak terjerumus ke dalam kegagalan organisasi (management failure) yang lebih dalam, hanya karena salah memilih seorang pemimpin.[]

Comment