Membentuk Mental Health Keluarga di Tengah Pusaran Kehidupan Kapitalistik

Opini191 Views

 

 

Penulis: Faizul Firdaus, S.Si | Pengamat Politik dan Kebijakan Publik

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Akhir akhir ini banyak tersaji berita di ruang informasi yang begitu memprihatinkan. Banyak sekali tragedi yang dialami keluarga-keluarga di negeri ini pada beberapa tahun terakhir. Kasus bunuh diri satu keluarga di antara peristiwa yang terbaru.

Beberapa waktu lalu juga beredar berita ibu membunuh anak-anaknya kemudian bunuh diri. Fenomena ini tentu tidak bisa dianggap biasa. Ini tragedi kemanusiaan yang kita juga terbebani tanggung jawab sosial untuk ikut menyelesaikannya.

Naluri menyayangi orang tua kepada anak-anaknya atau sebaliknya, saat ini benar-benar berada di level yang memprihatinkan. Tentu hal ini ada pemicunya. Beberapa hal yang menjadi pemicu di antaranya adalah pertama, faktor eksternal. Faktor dari kehidupan masyarakat hari ini yang bercorak sekuler atau memisahkan agama dari kehidupan dan sekaligus bercorak kapitalistik yang mengukur segala sesuatu dengan tolak ukur materi.

Kondisi masyarakat yang sekuler dan kapitalis ini membuat semua orang diseret untuk hidup hanya berorientasi pada capaian materi. Bahkan sah-sah saja bila harus menghalalkan segala cara.

Standar bahagia diukur dari capaian harta. Standar penghargaan juga ditetapkan berdasarkan tampilan fisik dan kepemilikan harta. Sehingga fokus kehidupan masyarakat diarahkan hanya untuk bekerja dan bekerja saja.

Budaya konsumtif juga begitu massif diaruskan oleh perusahaan-perusahaan barang dan jasa. Inilah di antara faktor besar yang membuat tingkat stress individu di tengah-tengah masyarakat terus tinggi.

Faktor kedua adalah faktor internal dari individu masyarakat, berkaitan tentang keimanan dan kefahaman kaum muslimin terhadap agamanya yang rendah sekali. Hal ini sebenarnya tidak lepas dari faktoreksternal bahwa masyarakat hari ini ditata dengan tatanan kehidupan yang sekuler yang memisah agama dari kehidupan keseharian. Sehingga tidak heran peradaban sekuler ini akan menghasilkan generasi Islam yang tidak faham agamanya. Agama dianggap tidak berkaitan dengan keseharian. Sehingga individu masyarakat hidup tanpa bimbingan agama.

Di tengah potensi stres yang tinggi juga ketiadaan pemahaman agama menjadikan mental masyarakat kacau. Sehingga prilaku-prilaku menyimpang seringkali menjadi fenomena yang muncul di dalamnya. Oleh karena itu penting untuk membimbing masyarakat  agar kesehatan mental ini bisa terpelihara. Sehingga tidak memunculkan kecenderungan berprilaku destruktif,

Membangun mental health keluarga perlu diupayakan serius. Di antara yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Membangun keluarga dengan pondasi agama. Setiap anggota keluarga difahamkan bahwa semua adalah hamba Allah SWT yang kelak akan kembali kepadaNya. Ditanamkan kesadaran untuk terus berusaha menjadi pribadi muslim yang taat kepada semua hukum syariat.

2. Membangun keperdulian keluarga pada kondisi orang lain. Hal ini perlu menjadi bagian yang ditanamkan agar senantiasa tumbuh rasa syukur kepada Allah atas segala nikmat dan karuniaNya.

3. Mencetak keluarga yang cinta ilmu agama, agar memahami bahwa Islam itu agama yang juga merupakan panduan hidup baik untuk skala individu, keluarga maupun bernegara.

Demikianlah diantara 3 hal yang perlu untuk terus ditanamkan agar keluarga muslim memiliki mental yang sehat sehingga tidak mudah melakukan perbuatan menyimpang. Wallahu a’lam bisshowwab.[]

Comment