Memutus Generasi: Anak Anak Gaza dalam Kepungan  Genosida

Opini51 Views

Penulis: Alfira Khairunnisa | Aktivis IDARI | Ikatan Daiyah Riau

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Bukan salah sasaran, melainkan memang menjadi sasaran utama. Siapa lagi kalau bukan anak-anak Gaza? Mereka seharusnya berlindung di sekolah, bukan bersembunyi di balik reruntuhan bangunan.

Mereka semestinya memiliki cita-cita, bukan dimakamkan secara massal. Mereka seharusnya menggenggam pensil, bukan serpihan bom. Namun, sejak Oktober 2023, logika kemanusiaan di Gaza seolah dibalik sepenuhnya.

Ini bukan sekadar perang. Ini bukan pula bentrokan bersenjata. Yang terjadi adalah pembantaian yang disengaja, sistematis, dan terencana. Sasarannya pun jelas, yakni anak-anak Palestina—generasi yang semestinya menjadi harapan masa depan bangsanya.

Angka yang Berteriak

Laporan lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat fakta yang sulit dibantah. Menurut laporan tersebut, lebih dari seribu anak Gaza telah syahid sejak Oktober 2023. Artinya, rata-rata setiap hari satu anak kehilangan nyawanya.

Satu kehidupan, satu nama, satu masa depan, lenyap dari daftar manusia yang masih dapat melanjutkan hidup.

Mereka yang selamat pun tidak berada dalam kondisi yang lebih baik. Ribuan anak mengalami luka fisik permanen. Ada yang kehilangan tangan akibat serpihan bom, ada yang harus menjalani amputasi tanpa anestesi, dan ada pula yang wajahnya rusak akibat reruntuhan bangunan.

Bersamaan dengan itu, mereka juga memikul trauma psikologis yang mendalam dan berkepanjangan.

Ketakutan yang terus menghantui, mimpi buruk setiap malam, hingga kehilangan kedua orang tua dalam satu serangan menjadi bagian dari keseharian mereka.

Sekolah-sekolah hancur. Rumah sakit dibombardir. Bahkan tenda-tenda pengungsian pun tidak lagi menjadi tempat yang aman. Tidak ada ruang bermain, tidak ada ruang hijau. Yang tersisa hanyalah suara drone, dentuman ledakan, dan tangisan anak-anak. Masa depan sebuah generasi sedang diputus secara sadar.

Ketika anak-anak dibunuh, dibisukan, dicacatkan, atau ditraumatiskan secara massal, itulah gambaran paling nyata dari sebuah genosida.

Zionis tidak sekadar memerangi kelompok bersenjata atau mempertahankan diri, melainkan berupaya menghabisi generasi penerus suatu bangsa agar tidak lagi memiliki kesempatan untuk bangkit.

Mengapa Anak-Anak Menjadi Target?

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, mengapa justru anak-anak yang paling banyak menjadi korban?

Pertama, hal itu merupakan bagian dari strategi genosida yang dirancang secara sistematis. Dalam doktrin Zionis, anak-anak Palestina dipandang sebagai ancaman demografi di masa depan.

Pertumbuhan populasi Palestina dianggap membahayakan proyek negara Yahudi. Karena itu, membunuh anak dipandang sebagai cara memutus mata rantai perlawanan pada masa mendatang.

Menghabisi anak berarti menghapus harapan, sejarah, dan identitas suatu bangsa. Inilah esensi genosida: memusnahkan suatu kelompok agar lenyap dari peta kehidupan.

Kedua, penulis menilai tidak ada batas yang diindahkan demi mewujudkan ambisi Israel Raya. Berbagai cara ditempuh untuk menguasai seluruh wilayah Palestina, dari sungai hingga laut.

Gencatan senjata berulang kali dilanggar. Kecaman PBB diabaikan. Berbagai resolusi internasional tidak menghasilkan tindakan nyata karena tidak disertai sanksi yang efektif.

Dalam pandangan penulis, tujuan tersebut dianggap menghalalkan segala cara, termasuk menyerang anak-anak di tenda pengungsian, rumah sakit, sekolah, bahkan ketika mereka berada dalam pelukan ibunya.

Ketiga, penulis berpandangan bahwa dunia Islam dan PBB belum mampu menjadi tameng yang efektif bagi rakyat Palestina. Menurutnya, pergantian pemimpin Israel tidak akan mengubah karakter penjajahan. Penulis juga menilai PBB tidak memiliki daya paksa yang cukup karena kerap terhambat mekanisme veto.

Di sisi lain, sebagian penguasa negara-negara Islam dinilai lebih mengutamakan kepentingan politik dan hubungan strategis dengan negara-negara besar dibandingkan membela kepentingan umat Islam.

Dalam pandangan penulis, nasionalisme membuat negara-negara Muslim lebih sibuk menjaga batas wilayah masing-masing daripada membangun solidaritas umat.

Sementara politik kapitalistik dinilai lebih mempertimbangkan keuntungan ekonomi dan perdagangan daripada keselamatan anak-anak yang menjadi korban konflik.

Selama cara pandang tersebut tetap mendominasi, menurut penulis, Gaza akan terus menjadi tempat pembantaian terbuka. Anak-anak akan terus menjadi sasaran karena mereka adalah kelompok yang paling lemah sekaligus paling besar dampak psikologisnya.

Konstruksi Islam: Hanya Sistem Islam yang Mampu Menghentikan

Jika sistem yang berlaku saat ini gagal melindungi anak-anak, maka umat Islam harus kembali kepada sistem yang ditetapkan Allah SWT. Perbaikan yang bersifat tambal sulam dinilai tidak akan mampu menghentikan genosida.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash-Shaff: 4).

Ayat tersebut dipahami penulis sebagai landasan bahwa kekuatan umat harus berada dalam satu komando, satu barisan, dan satu institusi politik yang mampu mengerahkan seluruh potensi umat, yakni Sistem Pemerintahan Islam.

Pertama, Sistem Pemerintahan Islam merupakan satu-satunya institusi politik yang memiliki kewenangan, kekuatan militer, dan landasan syariat untuk membebaskan Palestina.

Solusi yang ditawarkan bukan sekadar aksi unjuk rasa atau bantuan kemanusiaan, melainkan jihad fi sabilillah untuk mengalahkan Zionis dan mengakhiri penjajahan.

Selama berabad-abad Palestina berada di bawah naungan pemerintahan Islam, masyarakat Yahudi, Nasrani, dan Muslim hidup berdampingan. Situasi berubah setelah institusi tersebut runtuh pada 1924 dan Deklarasi Balfour mulai diwujudkan.

Kedua, menurut penulis, Sistem Pemerintahan Islam menjamin hak-hak anak secara menyeluruh. Anak dipandang sebagai amanah yang wajib dilindungi.

Negara berkewajiban menjaga keselamatan jiwa mereka, menyediakan layanan kesehatan fisik maupun mental secara gratis, menjamin pendidikan berkualitas tanpa diskriminasi, serta memastikan terpenuhinya kebutuhan hidup dan masa depan mereka.

Seorang imam adalah raa’in (pemelihara) yang akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya.

Ketiga, penulis menilai penerapan Sistem Pemerintahan Islam merupakan qadhiyah masiriyah atau persoalan yang menentukan nasib umat.

Baginya, ini bukan agenda kelompok tertentu, melainkan persoalan seluruh kaum Muslim. Selama sistem tersebut belum diterapkan, penulis meyakini penderitaan anak-anak Palestina akan terus berlangsung.

Karena itu, memperjuangkan tegaknya Sistem Pemerintahan Islam dipandang sebagai bagian dari upaya menyelamatkan generasi Gaza dan menjaga kemuliaan umat Islam.

Diam Adalah Kezaliman

Menurut penulis, pembunuhan terhadap anak-anak Gaza bukanlah sekadar dampak sampingan dari peperangan, melainkan sebuah kebijakan yang memiliki tujuan tertentu.

Selama dunia masih menggantungkan harapan pada PBB, nasionalisme, dan kapitalisme, penulis menilai anak-anak akan tetap menjadi korban.

Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan bukan sekadar kecaman di media sosial, melainkan perubahan sistem secara menyeluruh.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh turut merasakan sakit dengan tidak dapat tidur dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bagi penulis, Gaza hari ini adalah bagian tubuh umat yang sedang menjerit kesakitan. Jika umat Islam memilih diam ketika anak-anak dibantai di depan mata, maka mereka tengah mempertaruhkan masa depan generasi mereka sendiri.

Karena itu, penulis menyerukan agar Palestina dikembalikan ke dalam naungan Sistem Pemerintahan Islam, sehingga perlindungan terhadap anak-anak dapat diwujudkan secara menyeluruh. Wallahu a’lam bishshawab.[]

Comment