by

Menjaga Rasa dan Empati Mereka yang Berduka

-Opini-72 Views

 

Oleh: Peby Ummu Thoriq, Muslimah Bangka Belitung

__________

 

RADARINFONESIANEWS.COM, JAKARTA — Korban gempa Cianjur terus bertambah. Bupati Cianjur Herman Suherman mengatakan korban meninggal gempa Cianjur kembali bertambah satu orang pada Kamis (1/12). Sehingga total korban meninggal gempa Cianjur menjadi 329 orang.

Herman mengatakan korban luka saat ini berjumlah 595 orang. Jumlah ini masih sama dengan hari sebelumnya.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sebanyak 526 infastruktur rusak, yakni 363 bangunan sekolah, 144 tempat ibadah, 16 gedung perkantoran, dan tiga fasilitas kesehatan. Sedangkan jumlah rumah warga yang rusak sebanyak 56.320 unit.

Dengan begitu banyaknya korban jiwa yang terus bertambah, seharusnya kita semua prihatin dan ikut berduka bukan malah membuat deklarasi politik karena mendekati masa pemilu yang bisa memunculkan kesan tidak ikut berduka.

Inilah realitas politik dalam kapitalisme yang menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan. Demi memperoleh dukungan rakyat, deklarasi pun digelar, tidak peduli situasi sedang sedih dan berduka.

Sebagai satu bangsa dan juga seorang muslim seharusnya memiliki rasa empati terhadap penderitaan rakyat dan muslim lainnya sebagai satu bangsa dan  satu tubuh. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda:

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586).

Dahulu, Khalifah Umar bin Khaththab pernah menghadapi musibah pada masa pemerintahannya. Saat itu, Madinah mengalami “tahun abu (aam ramadah)”. Selama sembilan bulan, tidak ada hujan sama sekali di Semenanjung Arab dan kekeringan melanda, paceklik pun terjadi. Terjadi gagal panen. Hewan-hewan ternak mati. Kalaupun ada yang bertahan hidup, badannya kurus kering. Penduduk Madinah kesulitan mendapatkan makanan. Uang tidak berarti apa-apa karena tidak ada makanan yang bisa dibeli.

Penduduk Madinah masih bisa makan dari cadangan makanan yang selama ini disimpan di gudang negara. Namun, ternyata penduduk di sekitar Madinah berdatangan ke Madinah dan meminta bantuan makanan. Khalifah Umar ra. pun membantu mereka. Cadangan makanan akhirnya menipis karena begitu banyaknya warga yang datang ke Madinah, sedangkan hujan tidak kunjung turun.

Melihat kondisi rakyat yang kesulitan makan, Umar bin Khaththab pun bersumpah tidak akan makan daging, susu, dan samin sampai paceklik berakhir dan kondisi rakyat kembali seperti sediakala. Umar bin Khaththab memenuhi sumpahnya ini. Beliau ra. makan roti dan zaitun saja hingga paceklik berakhir. Akibatnya, kulit Umar ra. yang selama ini putih kemerahan, berubah menjadi hitam.

Demikianlah seharusnya sosok pemimpin, berempati terhadap rakyatnya yang kesulitan bahkan terjun langsung merasakan kesulitan rakyat. Selain itu, ia juga sigap menyelesaikan masalah rakyat, sebagaimana Khalifah Umar ra. yang memerintahkan Gubernur Mesir Amr bin Ash untuk mengirim makanan dari Mesir ke Madinah.

Amr pun mengirimkan kafilah unta yang mengangkut makanan. Begitu panjangnya kafilah itu hingga seakan-akan ujungnya sudah sampai di Madinah, sedangkan ekornya masih di Mesir. Masalah ketiadaan makanan pun terselesaikan hingga paceklik berakhir.

Profil pemimpin seperti Khalifah Umar hanya ada dalam Islam yang mendasarkan amalnya pada akidah dan kememimpinan yang sesuai syariat.

Ia terdepan dalam pelaksanaan amanah. Tidak menyalahgunakan jabatan dan kekuasaan. Senantiasa memiliki rasa empati kepada Mereka yang berduka. Wallahualam.[]

Comment