by

Meraih Surga Dengan Birrul Walidain

-Berita-70 views

 

Oleh: Tsani Tsabita Farouq, Muslimah Peduli Umat

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Melalui ayat-Nya, Allah Swt. memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua dan menghindari perilaku kasar. Sangat disayangkan saat ini banyak sekali anak yang tidak mengamalkan ayat tersebut. Contoh saja baru-baru ini terjadi peristiwa yang sangat menyayat hati.

۞وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفّٖ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلٗا كَرِيمٗا ٢٣

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al Isra ayat 23).

Dilansir dari Kabupaten Bandung, IDN Times-Polresta Bandung meringkus seorang pemuda berinisial GR (25 tahun) yang dengan teganya melakukan penganiayaan terhadap ayah kandungnya, ES (65) hingga tewas. Pembunuhan itu dilakukan karena GR menganggap jika sang ayah ingkar janji.

Sangat miris bukan? Pada zaman sekarang ini, ketika agama tak lagi menjadi aturan di dalam kehidupan, nilai-nilai moral serta akhlak pun tercerabut dari diri kaum muslimin. Sikap pada orang tua tak lagi penuh santun dan hormat, melainkan penuh amarah dan berbuat keji. Tak segan-segan seorang anak memarahi bahkan hingga membunuh ayahnya hanya karena masalah-masalah sepele. Sungguh memprihatinkan dan sangat tidak manusiawi sekali.

Rasulullah Saw. bersabda, “Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.” Ada yang bertanya, “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Sungguh hina seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.” (HR. Muslim).

Maka hendaknya seorang anak berupaya mencari keridaan orang tua dengan menyenangkan hati mereka, bukan justru menghardik ataupun berlaku keji pada mereka. Bahkan, jika kedua orang tua menangis, mengharuskan bagi anak untuk membuatnya tersenyum kembali. Sebagaimana diriwayatkan Ibnu Majah, ia berkata:

“Wahai Rasulullah, aku sesungguhnya datang kepadamu untuk berjihad bersamamu, aku menginginkan wajah Allah dan kampung akhirat, aku telah datang dan sesungguhnya kedua orang tuaku dalam keadaan menangis.” Maka, Rasulullah Saw. berkata, “Kembalilah kepada kedua orang tuamu buatlah mereka berdua tertawa sebagaimana engkau telah membuat mereka berdua menangis.” (HR Ibnu Majah no. 2782).

Semoga kita tidak lupa bahwa surga memiliki beberapa pintu, dan salah satunya adalah pintu birrul walidain. Dari Abu Darda ra, Rasulullah Saw bersabda, “Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya.” (HR Ahmad no. 28276).

Kepiluan dan kenestapaan ini tidak akan terjadi jika urusan rakyat diatur oleh Islam, karena Islam diturunkan bukan hanya sebagai agama ritual semata, jauh dari itu Islam merupakan agama ideologis yang mengatur seluruh sistem kehidupan manusia, termasuk di dalamnya mengatur upaya agar membangun keluarga yang kokoh di mana masing-masing anggota keluarga menunaikan hak dan kewajibannya dengan dilandaskan keimanan, semua anggota keluarga akan saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Hingga berkumpul bersama di jannah menjadi misi sebuah keluarga.

Rumah akan menjadi tempat berkumpul nan hangat dan dirindukan. Menjadi tempat melabuhkan rasa lelah setelah seharian beraktivitas di luar. Itu semua bisa terwujud melalui pelaksanaan syariat Islam secara kaffah dalam keluarga. Jika ada anggota keluarga yang tak menjalankan kewajibannya, maka ada mekanisme sosial.

Para dai di dalam sistem Islam akan mengajarkan tentang keluarga sakinah. Sistem pendidikan Islam juga akan membentuk akidah seorang anak yang menjadi fondasi ketaatan pada Sang Khalik. Sistem peradilan di dalam Islam akan memberi sanksi yang efektif bagi anggota keluarga yang zalim.

Di dalam Islam juga, negara akan turut memperhatikan relasi keluarga, sudahkah terwujud sakinah ataukah belum. Negara juga nantinya akan memfasilitasi para anggota keluarga yang konflik untuk dinasihati, dimediasi, dan dihibur. Khalifah Umar bin Al Khaththab contohnya, beliau pernah membuat rumah tepung untuk para perempuan yang sedang konflik dengan suami. Di sana mereka makan dan istirahat, hingga hatinya terhibur dan tak sedih lagi, sehingga bisa kembali pulang dengan gembira. Khalifah Umar ra. juga pernah “memaksa” seorang laki-laki agar bekerja untuk menafkahi keluarganya.

Negara juga menyejahterakan ekonomi agar kefakiran tak menjadi hal yang merongrong keharmonisan keluarga. Para penguasa Islam terus mengingatkan rakyatnya agar bertakwa, sehingga suasana masyarakat adalah suasana takwa.

Maka, sudah saatnya kita beralih kepada sistem Islam yang sangat sempurna di dalamnya mengatur seluruh aspek kehidupan dan semoga Allah mampukan kita semua untuk berbakti kepada orang tua, tidak menyakiti keduanya, dan membersamai mereka hingga hari tua.

Merawat dan mengurusi segala kebutuhan mereka, mengharapkan rida mereka, dan yang paling utama amalan itu ialah amalan yang paling dicintai Allah Swt. Wallahu’alam Bish-showab.[]

Comment