by

Miras Haram, Sumber Kejahatan Dan Merusak Kesehatan

-Opini-70 views

 

 

 

Oleh Cebiana Nur Andini*

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Khalifah ‘Umar bin al-Khaththâb Radhiyallahu anhu mengatakan khamar yakni mâ khâmara al-‘aqla, sesuatu yang melenyapkan akal sehat. Bukankah akal dan kesadaran yang hilang akan mencelakakan dirinya dan orang-orang di sekitarnya?

Demikian juga ‘Utsmân bin ‘Affân Radhiyallahu anhu  pernah mengatakan khamar sebagai ummul khabâits, pusat segala keburukan.

Dua khalifah yang sangat masyhur dan dikenal sebagai Khulafaur Rasyidin, telah menyampaikan ijtihad mereka mengenai khamar atau minuman keras kepada masyarakat pada waktu itu.

Sebuah ijtihad yang disandarkan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, bukan berdasarkan atas hawa nafsu.

Menjual miras tak lagi memperdulikan halal haram di negeri yang mayoritas masyarakatnya adalah muslim. Sungguh ironis!

Miras dan turunannya telah menjadi polemik yang mengkhawatirkan karena kerusakan yang terjadi. Persoalan dari sisi kesehatan sampai dengan maraknya kejahatan akibat miras, telah banyak menghiasi tv Nasional maupun Internasional.

Khamar yang sifatnya menghilangkan akal sehat, menyebabkan dampak yang cukup signifikan dan jauh dari solusi yang diharapkan.

Meskipun WHO berpendapat jika Indonesia adalah pengonsumsi miras paling sedikit karena adanya batasan, tetapi dampak yang diakibatkan oleh miras dari sisi kerusakan sangat besar.

Terdapat 70 persen tindak kejahatan umum di Sulawesi Utara akibat mabuk sesudah mengonsumsi miras. (Manado, Kompas 21 Januari 2011).

Selain itu di Jayapura yang digelari oleh seorang tokoh bahwa miras merupakan salah satu budaya setempat yang membawa kearifan lokal memiliki data yang mencengangkan.

Kepolisian Resort Jayapura mengatakan bahwa kasus pemerkosaan terhadap anak di Jayapura meningkat tajam pada awal tahun 2020, tercatat di dalam laporan, sembilan kasus pemerkosaan menimpa anak di bawah umur dari bulan Januari hingga Februari.

Dari sembilan kasus, lima di antaranya memicu kekisruhan masyarakat di Jayapura. Alasannya lantaran pelaku dan korban mempunyai hubungan darah. Mirisnya lagi, rata-rata aksi pemerkosaan dilakukan saat dalam pengaruh miras.
(Indonesiainsideid, 18/02/2020)

Belum lagi tingkat kecelakaan yang meningkat dari tahun ke tahun akibat miras.

Pada periode 2019, Kasubdit Laka Direktorat Penegakan Hukum Korlantas Polri Komisaris Besar Agus Suryo Nugroho mengatakan bahwa jumlah total kecelakaan lalu lintas sebanyak 121.641 kejadian.

Dari jumlah itu disampaikan beliau sebanyak 888 kejadian atau 0,73 persen diakibatkan miras yang menyebabkan 241 orang kehilangan nyawanya, 195 luka berat, dan 533 orang luka ringan. (CNNIndonesia, 02/03/2021)

Sedangkan dari dunia Internasional salah satu produsen bir terbesar di Korea Selatan, Hite-Jinro memberikan label peringatan di produknya bertuliskan “Tidak ada lagi kejahatan karena alkohol! Mari kita tinggalkan budaya minum yang salah kaprah!”. Hite-Jinro menuliskan peringatan sebab kejahatan marak terjadi di Korea Selatan seperti pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga. Bagaimanapun menurut data yang ada, Korsel merupakan negara pengonsumsi alkohol tertinggi di dunia. (Republika, 12 Juli 2012)

Demikian beberapa contoh kecil kerusakan yang terjadi karena miras. Bagaimana alkohol dapat memberikan keuntungan dan sisi baik untuk negara? jika dengan mengonsumsinya saja seseorang akan kehilangan kesadaran bahkan tidak bisa membedakan perbuatan baik dan buruk di depannya.

Pengambilan keputusan atas investasi miras ini bukanlah tidak berdasar. Sistem ekonomi kapitalis sekularisme menguatkan bahwa sah-sah saja jika ekonomi bisa didongkrak dengan jalan yang tak lagi mengedepankan halal dan haram.

Wajar karena sekularisme memisahkan antara agama dan kehidupan. Sistem ini mengabaikan norma-norma yang termaktub di dalam agama demi meningkatkan ekonomi yang saling berkesinambungan.

Miras sebagai kearifan lokal dijadikan alasan utama demi melancarkan akal bulus sebagian pemasok ide briliant nan menyesatkan. Padahal miras tidak hanya merugikan dirinya saja tetapi juga orang-orang yang berada di sekelilingnya.

Berbeda dengan Islam, sistem ekonomi Islam memberikan aturan yang sangat jelas mengenai miras. Besarnya pendapatan yang akan didapatkan dari miras tidak akan pernah merubah statusnya.

Bagaimanapun hukum Allah harus ditinggikan karena didalamnya banyak sekali kebaikan yang tidak bisa dilihat secara sekilas oleh manusia.

Islam memberi sanksi tegas mengenai miras. Tidak hanya peminumnya saja akan tetapi orang-orang yang terkait dengan miras, akan terkena sanksi dan dosa.

Minum khamar sedikit maupun banyak tetaplah haram. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassa bersabda: “Minuman apapun kalau banyaknya itu memabukkan. Maka sedikitnyapun adalah haram.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan At Tirmidzi)

يٰٓأَيُّهَا    الَّذِينَ    ءَامَنُوٓا۟    إِنَّمَا    الْخَمْرُ    وَالْمَيْسِرُ    وَالْأَنصَابُ    وَالْأَزْلٰمُ    رِجْسٌ    مِّنْ    عَمَلِ    الشَّيْطٰنِ    فَاجْتَنِبُوهُ    لَعَلَّكُمْ    تُفْلِحُونَ    ﴿المائدة:٩۰﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (Q.S. Al-Maidah [5]: 90)

Dalam Islam tidak hanya orang yang meminumnya yang dilaknat Allah tetapi mereka yang turut mendistribusikan minuman keras tersebut juga terkena dampaknya sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata,

“Rasulullah SAW melaknat tentang khamr sepuluh golongan: yang memerasnya, Yang minta diperaskannya, yang meminumnya, yang mengantarkannya, yang minta diantarinya, yang menuangkannya, yang menjualnya, yang makan harganya, yang membelinya, dan yang minta dibelikannya”. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 380, no. 1313]

Yang Memerasnya

Di zaman dahulu miras yang terbuat dari anggur diperas secara manual, belum menggunakan teknologi seperti saat ini. Sehingga siapapun yang memerasnya akhirnya menjadikan profesinya sebagai pekerjaan yang haram.

Yang Minta Diperaskan

Mereka yang mempunyai bahannya dan memberikan bahan tersebut kepada orang lain untuk dibuatkan miras.

Yang Meminumnya

Peminum khamar dan turunannya itu sendiri.

Yang Mengantarkannya

Misalnya seorang pelayan yang mengantarkan pesanan miras ke meja – meja pengunjung. Di Indonesia mengantarkan miras menjadi hal yang lumrah, sebut saja tempat karaoke dimana mereka meletakkan banyak miras di lemari dan tersusun rapi.

Yang Minta Diantari

Konsumen yang memesan khamar minta diantarkan ke tempatnya.

Yang Menuangkannya

Pelayan yang mengisi khamar ke gelas – gelas pengunjung.

Yang Menjualnya

Pemilik diskotik, toko, termasuk minimarket, karaoke, restoran,hotel yang menjual khamr.

Yang Makan Harganya

Maknanya cukup luas, bisa jadi pabrik khamar, pemasok (distributor), termasuk bea cukai yang didapat dari pengiriman khamar tersebut. Dengan kata lain negara memperoleh keuntungan dari bisnis barang haram.

Yang Membelinya

Pembeli khamr tersebut, baik untuk dikonsumsi sendiri atau tidak.

Yang Minta Dibelikannya

Yang meminta orang lain untuk membelikannya.

Itulah 10 orang yang terkena laknat Allah karena minuman keras.

Maka jelaslah peredaran miras yang ada di Indonesia sebab tidak dicabutnya perpres lampiran III poin 40 akan memberikan ketidakberkahan di negeri  tercinta ini.

Abaikan pula suara parau yang menggema di tengah negeri terutama di media sosial seperti, tidak usah mencampuri urusan kami, ini uang kami sendiri dan kami tidak merugikan orang lain.

Dan jangan urusi masalah dosa karena yang menanggungnya adalah kami sendiri.

Bagaimana menanggapi pernyataan yang sering disampaikan oleh orang seperti ini?  Islam dalam hal ini memiliki jawaban tegas sebagaimana sabda Shallallahu ‘alaihi wassalam,

”Tidaklah suatu kaum yang di tengah-tengah mereka dilakukan kemaksiatan-kemaksiatan. Sedang mereka mampu mencegahnya tetapi tidak mau mencegahnya. Melainkan Allah akan menimpakan azab secara merata kepada mereka..” (HR. Abu Dawud). Naudzubillahi min dzalik.

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”.
(QS. Ali-Imron [3]: 104).

Aturan Islam yang sempurna memberi keberkahan kepada seluruh umat manusia di muka bumi tanpa melihat perbedaan suku dan agama.

Mencegah lebih baik dari mengobati. Karena munculnya kerusakan yang terlampau besar akan banyak menbulkan kesulitan untuk manusia sendiri. Jangan biarkan kebenaran habis dimakan zaman.

Masalah miras demi ekonomi ini jelas hanya bisa diselesaikan oleh syariat Islam.

Pernyataan lokal dari pihak-pihak tertentu dan nyinyir dari negara lain pun tak akan mempengaruhi bisa aturan Islam.[]

*Anggota Akademi Menulis Kreatif

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 + 3 =

Rekomendasi Berita