by

Muharram, Momentum Totalitas Hijrah

-Opini-39 views

 

 

 

Oleh: Mesi Tri Jayanti, S.H, Freelance Writer

__________

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA–  Tanggal 1 Muharram menjadi tanda pergantian tahun bagi umat Islam. Tak terasa kaum muslim telah memasuki tahunnya yang ke 1443 H semenjak peristiwa hijrah Rasulullah Saw dari Mekah ke Madinah. Peristiwa yang sarat makna dan menjadi awal mula penanggalan Islam.

Umat Islam mengakhiri tahun sebelumnya dengan doa akhir tahun dan mengawalinya pun dengan doa pula. Dengan harapan semoga segala dosa atas maksiat yang dilakukan, diampuni oleh Allah Swt dan Allah sentiasa memberi perlindungan-Nya serta petunjuk-Nya dalam menjalani kehidupan ini.

Momentum ini  memberikan lecutan semangat hijrah pada umat Islam saat ini yang sepatutnya tidak berhenti pada perbaikan individu saja. Namun diarahkan pada terwujudnya perubahan menuju negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Penerapan syariat Islam kaffah pada hakikatnya adalah suatu hal yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw dengan mengawalinya ketika menjalani proses hijrah dari Makah ke Madinah. Sehingga dalam hal ini, proses hijrah yg dilakukan Rasulullah saw bukan hanya sebatas makna berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Tetapi lebih daripada itu, berpindahnya dari penghambaan kepada selain Allah menuju penghambaan hanya pada Allah. Makkah yang menjadi wilayah pertama Rasulullah Saw dan para sahabat menyebarluaskan Islam, ternyata belum siap menerima dan menerapkan hukum Islam secara totalitas, maka Allah memerintahkan untuk Hijrah ke Madinah dan menerapkan sistem Islam dalam berbagai aspek hingga dalam lingkup pemerintah.

Mulai dari syariat yang mengatur hubungan antara manusia dengan Rabb-nya, yang mencakup aturan ibadah dan jihad. Aturan yang mengurusi hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri, berupa syariat tentang makanan minuman, pakaian dan akhlak. Juga aturan yang mengatur hubungan manusia dengan sesama yakni dalam ranah muamalah, politik pemerintahan, sistem pendidikan, sistem ekonomi bahkan hingga sistem pemidanaan.

MasyaAllah! Begitu universal dan menyeluruh syariat Islam mengatur semua bidang kehidupan. Selain karena alasan mengambil syariat sebagai jalan hidup adalah kewajiban, di masa ini kehidupan yang jauh dari penerapan syariat Islam telah nyata membawa kepada kerusakan.

Berbagai problematika kehidupan bermunculan dan tak berkesudahan. Baik di tataran individu, masyarakat, bahkan negara. Seperti tanpa solusi, kian hari permasalahan yang sama terulang kembali bahkan muncul persoalan baru.

Jika di telisik, semua persoalan kehidupan ini sejatinya berakar dari penerapan sistem kapitalis sekuler yang berasaskan pemisahan agama dari kehidupan. Agama tidak hadir sebagai pengatur kehidupan, tetapi hanya dibatasi dalam hal spiritual saja.

Padahal sebagai seorang muslim, selayaknya kita berkacamata pada keimanan. Karena ternyata segala kerusakan yang terjadi di atas bumi, bukan semata-mata ketetapan (Qadla) dari Allah. Tapi, di sana ada andil tangan-tangan jahil manusia yang memperturutkan hawa nafsu.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Ruum:41).

Kemudian juga secara jelas Allah SWT telah memperingatkan,
”Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS Thaha:124)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud waman a’radla an dzikri yaitu sikap menolak perintah Allah dan apa yang diturunkan kepada Rasul-Nya, kemudian mengambil aturan/hukum selain dari petunjuk Allah. Penerapan hukum selain hukum Allah hari ini menjadi fakta yang jelas bagi kita. Maka, wajar bila Allah menurunkan kesempitan kepada umat karena keengganannya menerapkan sistem Islam.

Oleh karenanya, kunci untuk lepas dari segala kesempitan hidup tiada lain adalah dengan menyadari bahwa kita harus kembali kepada aturan Islam. Kembali menerapkan hukum yang Allah Swt. dan Rasul-Nya telah perintahkan. Bukan Islam sebatas aturan ruhiyah saja, tapi juga sebagai aturan siyasi (politik).

Dengan kata lain, kunci tuk mereguk kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat adalah menerapkan Islam Kaffah (menyeluruh).

Sebab jika suatu negeri telah Allah berkahi, maka kecukupan dan ketenteraman bagi umat akan pasti dirasakan. Begitupun sebaliknya.

”Jika sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan limpahkan kepada mereka keberkahan dari atas langit dan dari perut bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al A’raf:96).

Sudah saatnya, momentum hijrah ini kita kerahkan untuk hijrah secara totalitas. Tidak hanya pada ranah individu tapi juga dalam sistem kehidupan.

Berpindah dari sistem kapitalis sekuler kepada sistem Islam kaffah. Hijrah dari Liberalisasi menuju Islam. Hijrah dari sistem ekonomi kapitalis menuju sistem ekonomi Islam. Hijrah dari sistem demokrasi kepada Islam. Hijrah dari Darul Kufur menuju Darul Islam. Inilah hijrah ma’ani yang dikehendaki Allah Swt. dan Rasul-Nya.

Karena Islam sebagai sebuah sistem yang sempurna dan paripurna sudah terbukti belasan abad mampu mengatasi semua masalah umat. Khilafah sebagai institusi yang menerapkan syariat mampu mensejahterakan umat. Memberikan kebahagiaan dan kegemilangan yang belum pernah dialami peradaban dan sistem hidup manapun di dunia hingga detik ini. Kewajiban semua umat untuk menegakkannya.

Semoga tegaknya Islam Kaffah sebagai sebuah sistem kehidupan segera terwujud sesuai janji Allah dan kabar gembira dari Rasulullah. Wallahua’lam bishshawwab. []

Comment

Rekomendasi Berita