Nakba 78 Tahun: Luka Palestina yang Terus Menganga

Opini767 Views

 

Penulis: Siti Maisyah, S.Pd. | Pendidik

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Tanggal 15 Mei 1948 menjadi salah satu catatan paling kelam dalam sejarah rakyat Palestina. Peristiwa yang dikenal sebagai Nakba atau “malapetaka” itu menandai terusirnya ratusan ribu warga Palestina dari tanah kelahirannya setelah berdirinya negara Israel. Hingga kini, 78 tahun berlalu, luka tersebut belum juga menemukan ujung penyelesaian.

Rakyat Palestina hidup dalam bayang-bayang penjajahan yang panjang. Mereka kehilangan tanah, rumah, bahkan hak hidup secara merdeka di negeri sendiri. Di tengah penderitaan yang terus berlangsung, rakyat Palestina tetap bertahan memperjuangkan kehormatan dan hak kemanusiaannya.

Namun, perjuangan itu berlangsung dalam situasi yang jauh dari seimbang. Dukungan dunia internasional maupun para pemimpin negeri-negeri Muslim kerap berhenti pada pernyataan empati, kecaman, atau seruan perdamaian yang tidak menyentuh akar persoalan.

Setelah berbagai kecaman disampaikan, rakyat Palestina kembali menghadapi serangan, blokade, dan kekerasan yang terus berulang.

Sebagaimana dilansir aljazeera.com⁠ (15/5/2026), sejumlah negara anggota Liga Arab kembali menyerukan perlindungan internasional bagi rakyat Palestina.

Sementara itu, sebagaimana ditulis reuters.com⁠ (16/5/2026), kelompok BRICS juga menyerukan gencatan senjata permanen di Gaza serta dukungan terhadap kemerdekaan Palestina.

Meski demikian, berbagai seruan tersebut belum menghadirkan perubahan nyata bagi rakyat Palestina di lapangan.

Kegagalan Sistem Global

Jika konflik Palestina hanya dipandang dari peristiwa 7 Oktober 2023, maka dunia sedang mengabaikan akar sejarah panjang yang telah dimulai sejak 1948.

Luka kolektif rakyat Palestina bukanlah persoalan sesaat, melainkan akibat dari siklus penjajahan, kekerasan, dan perampasan hak yang terus berlangsung selama puluhan tahun.

Realitas ini menunjukkan kegagalan sistem global yang selama ini mengklaim diri sebagai penjaga keadilan, perdamaian, dan hak asasi manusia.

Dalam praktiknya, sistem tersebut justru terlihat lebih banyak melindungi kepentingan politik dan kekuatan negara-negara besar dibanding menghadirkan keadilan bagi rakyat yang tertindas.

Di sisi lain, konsep nation-state atau negara-bangsa dinilai turut memperlemah persatuan umat Islam. Sekat nasionalisme membuat dunia Islam terpecah dalam batas-batas geografis dan kepentingan politik masing-masing negara.

Akibatnya, solidaritas terhadap Palestina sering kali berhenti pada dukungan moral tanpa kekuatan kolektif yang nyata.

Harapan kepada negara-negara adidaya maupun lembaga internasional pun kerap berujung pada kekecewaan. Sebab, dalam berbagai momentum, mereka justru dinilai memiliki peran dalam mempertahankan status quo yang menguntungkan pihak penjajah.

Pentingnya Persatuan Umat

Persoalan Palestina bukanlah persoalan sederhana. Karena itu, perjuangan membebaskan Palestina tidak dapat dipisahkan dari agenda besar kebangkitan umat Islam itu sendiri.

Kebangkitan tersebut membutuhkan persatuan yang kokoh, visi bersama, serta kepemimpinan yang mampu menyatukan potensi umat dalam bidang politik, ekonomi, maupun pertahanan.

Dengan persatuan yang kuat, umat Islam dinilai memiliki peluang lebih besar untuk menghadirkan solusi yang menyentuh akar persoalan.

Tanpa persatuan dan kepemimpinan yang terintegrasi, potensi besar umat Islam akan terus terpecah dan sulit memberikan pengaruh nyata bagi perjuangan Palestina.

Karena itu, kesadaran umat mengenai pentingnya persatuan dan kepemimpinan yang kuat perlu terus dibangun. Kesadaran tersebut dapat menjadi fondasi bagi lahirnya solidaritas yang lebih konkret, terarah, dan berdaya dalam memperjuangkan keadilan bagi Palestina.

Peringatan 78 tahun Nakba seharusnya tidak berhenti sebagai romantisme kesedihan sejarah semata. Momentum ini perlu menjadi ruang refleksi untuk melihat kembali akar persoalan serta merumuskan langkah yang lebih nyata ke depan.

Sebab, selama akar masalahnya belum terselesaikan, Nakba bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan kenyataan pahit yang masih terus dirasakan rakyat Palestina hingga hari ini.[]

Comment