by

Nanik Farida Priatmaja, S.Pd*: Islam Muliakan Kaum Perempuan

-Opini-29 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Peringatan hari ibu 22 Desember 2020, Kemeterian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak telah menyelenggarakan digital event pada tanggal 19 Desember 2020 dengan tema “Perempuan Menggerakkan Ekonomi Keluarga”.

Acara tersebut berslogan “Perempuan Bisa, Mampu, dan Dapat Berperan Sebagai Motor Ekonomi Keluarga”

Slogan tersebut tampaknya mengarus utamakan beberapa hal yang berkaitan dengan pemikiran bahwa bekerja bagi perempuan bukan lagi sebatas kebutuhan, atau sebatas kesetaraan gender, tapi sudah eranya perempuan berkontribusi pada angka pertumbuhan ekonomi dengan cara bekerja.

Buruknya kondisi ekonomi saat ini memang mengkondisikan siapapun – mau tidak mau, harus bekerja demi meraih “sesuap nasi”. Tak hanya seorang laki-laki yang notabene sebagai pemimpin keluarga yang bertanggung jawab menafkahi keluarga, seorang perempuan pun seolah juga wajib menafkahi keluarga.

Bahkan perempuan yang bekerja dan mampu mandiri secara finansial akan terlihat mulia di mata masyarakat dari pada perempuan yang hanya mengandalkan nafkah dari walinya (baik dari ayah ataupun suami).

Padahal seharusnya posisi perempuan tak harus demikian (bekerja di ranah publik dan turut menyokong ekonomi keluarga). Namun sesuai fitrah perempuan sebagai ibu pengatur rumah tangga dan pendidik anak-anaknya.

Kapitalis memang sejalan dengan ide kesetaraan gender yang menuntut posisi perempuan setara dengan kaum laki-laki dalam berbagai hal atau di segala bidang. Minimnya peran negara terhadap pengurusan rakyat dalam sistem kapitalis telah mengkondisikan kaum perempuan banyak berkiprah di ranah publik dan dijadikan penggerak ekonomi yang sangat efektif.

Kaum perempuan banyak tergoda dengan iming-iming yang membius semisal digambarkan bahwa perempuan yang sukses adalah yang mandiri secara finansial, bekerja di luar rumah, berpenampilan cantik, dan sebagainya.

Sesungguhnya hal ini hanyalah tipu daya kaum kapitalis agarĀ  kaum perempuan berlomba-lomba mencari pekerjaan dan tak mempermasalahkan besarnya upah. Sehingga dengan gaji murah para pekerja perempuan akan sangat menguntungkan para kapital dan menggerakkan roda perekonomian. Padahal dampak maraknya kaum perempuan berkiprah di ranah publik amatlah mengerikan, misalnya tinggi kasus KDRT, pencabulan, perceraian, dan sebagainya.

Dikutip dari KPAI, data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), per 1 Januari hingga 6 November 2020 menunjukkan bahwa dari seluruh kasus kekerasan terhadap perempuan (5.573 kasus), mayoritas kasusnya adalah KDRT (3.419 kasus atau 60,75 persen).

Meski tinggi dan termanifes, namun angka tersebut dikhawatirkan belum menggambarkan jumlah kasus sebenarnya yang ada di Indonesia (14/11).

Tingginya kasus yang melanda kaum perempuan ini sejatinya menggambarkan betapa sistem demokrasi kapitalis telah gagal menjamin kesejahteraan kaum perempuan.

Kaum perempuan diaruskan bekerja meninggalkan kewajiban utama mereka sebagai ibu dan manager rumah tangga.

Dalam Islam, perempuan wajib dimuliakan. Perempuan memiliki tugas mulia sebagai seorang anak yang wajib berbakti pada kedua orangtuanya, seorang istri yang wajib taat pada suaminya dan seorang ibu yang bertanggung jawab penuh terhadap anak-anaknya. Sehingga keberadaan kaum perempuan lebih banyak di ranah domestik.

Meski demikian tak dilarang untuk berkiprah di ranah publik demi mengaplikasikan ilmunya kepada umat ataupun turut berperan sebagai sosok yang memberikan manfaat bagi umat. Bukan sekedar meraih sejumput materi atau aktualisasi diri ala perempuan dalam sistem kapitalis.

Islam memberi ruang yang luas bagi perempuan baik di sektor domestik ataupun publik serta menjamin kemuliaannya dengan menerapkan aturan sosial yang menjaga dan melindungi kaum perempuan.

Dalam hal ini negara memberlakukan sejumlah kebijakan yang mengatur interaksi kaum laki-laki dan perempuan di ranah publik dalam berbagai bidang (tidak boleh bercampur baur, berdua-duaan, dan sebagainya).

Sehingga tak akan ada tindak kriminalitas yang begitu marak melanda kaum perempuan layaknya dalam sistem kapitalis yang kian rapuh saat ini.

Kaum perempuan dalam Islam tidak diwajibkan berkerja layaknya paham kapitalis. Karena Islam memandang bahwa tugas seorang perempuan adalah sebagai pengatur rumah tangga dan pendidik anak-anaknya.

Bahkan posisi seorang perempuan yang berstatus sebagai ibu ataupun istri yang shalihah telah Allah SWT muliakan dengan jaminan surga kelak di akhirat.

Dalam konteks pemerintahan, Islam memfasilitasi para wali kaum perempuan untuk giat bekerja. Misalnya dengan menjamin pendidikan gratis dan berkualitas hingga perguruan tinggi, menyediakan lapangan kerja yang luas dan gaji yang layak. Sehingga mampu memberikan nafkah kepada semua yang menjadi tanggungannya termasuk para kaum perempuan (istri, anak, saudara perempuan, ibu).

Islam menjamin kepemilikan harta kaum perempuan tanpa mereka harus bekerja misalnya melalui nafkah (seorang ayah, kakak laki-laki) saat masih berstatus belum menikah, harta waris ataupun hibah yang menjadi hak penuh.

Hal ini hanya dapat terwujud jika Islam benar-benar diaplikasikan dalam kehidupan sehingga mengkondisikan individu-individu yang bertakwa yang begitu takut ketika melanggar aturan Allah SWT.

Islam tentu dapat dan mampu memuliakan semua manusia tak hanya kaum perempuan..[]

*Aktivis Muslimah Gresik

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventeen − seventeen =

Rekomendasi Berita