by

Rima Septiani, S. Pd*: Perempuan Dalam Arus Liberalisme

-Opini-25 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Tahun 2020, menjadi tahun yang paling berbeda selama ini. Semenjak wabah covid-19 melanda seluruh dunia, problematika kehidupan semakin melonjak tinggi. Bukan hanya masalah resesi ekonomi yang mengguncang seluruh dunia, ternyata masalah perempuan justru menjadi pembahasan yang paling menyita perhatian dunia.

Seperti yang dikatakann Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ketika memberikan keterangan kepada media melalui video conference di Jakarta, Selasa (24/3/2020).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan banyak negara di dunia, termasuk Indonesia yang hingga saat ini masih menempatkan kedudukan perempuan di posisi yang tidak jelas.

Dia pun mengatakan berdasarkan hasil studi Bank Dunia, ada lebih dari 150 negara memiliki aturan yang justru membuat hidup perempuan menjadi lebih susah.

“Di dunia, enggak cuma di Indonesia memang cenderung meletakkan perempuan di dalam posisi apakah itu dari sisi norma nilai-nilai kebiasaan budaya, agama sering mendudukan perempuan itu di dalam posisi yang tidak selalu jelas,” kata Sri Mulyani dalam acara Girls Leadership Class (Kompas.com, 20/12/2020).

Kondisi Perempuan Dalam Arus Sistem Liberalisme

Masalah perempuaan memang tak ada habisnya. Kasus kekerasan seksual menjadi kasus paling masif terjadi pada perempuan. Baik itu dalam lingkup keluarga ataupun masyarakat umum. Tidak jarang kita temui berita yang cukup memprihatinkan tentang kondisi perempuan.

Saat ini bisa dikatakan perempuan berada pada kondisi tidak aman dan nihil perlindugan. Baik itu dari keluarga, masyarakat ataupun negara.

Sementara itu, apa yang dilakukan negara masih minim dalam menyelamatkan perempuan dari kubangan masalah. Jaminan perlindugan yang diprogramkan pemerintah pada faktanya pun belum mampu memberi perlindungan bagi perempuan secara signifikan.

Fakta di lapangan justru menunjukkan masih banyak kasus yang diderita kaum wanita baik itu anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua. Kasusnya pun beragam, mulai dari KDRT, pelecehan seksual, penganiayaan hingga kasus bunuh diri.

Problematika ini telah menjadi penyakit akut yang tak kunjung usai. Maka perlu ditanyakan sebenarnya, di mana peran negara untuk menjaga keselamatan jiwa kaum hawa?

Undang-undang tentang perlindungan perempuan yang diklaim sebagai solusi tuntas nyatanya belum dapat berbuat banyak. Tindak kekerasan dan penganiayaan yang kerap didapatkan kaum perempuan, belum menunjukan akhirnya. Justru fenomena tersebut terus terjadi dan menggunung, hingga menambah daftar panjang tindak diskriminatif bagi perempuan di negeri ini.

Peneliti dari CEDAW (The Convention on the Elimination of all Forms of Discrimination Against Women) Working Group, Estu Fanani, mengatakan bahwa saat ini tindakan diskriminatif terhadap kaum perempuan masih banyak terjadi.

Menurutnya, praktik diskriminasi tersebut banyak terjadi di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan sipil. Bentuknya pun bermacam-macam, antara lain kekerasan fisik maupun psikis, stigma negatif, domestikasi dan marginalisasi.

Bukam hanya pada tataran fisik, ternyata masalah perempuan yang sifatnya global justru mendominasi saat ini. Sebut saja Indonesia. Negeri ini adalah negeri yang menerapkan sistem kapitalis liberalis. Sistem yang mendewakan kebebasan yang membuat para perempuan berada pada kondisi yang parah.

Sistem inilah yang melahirkan aktivis perempuan yang mengklaim memperjuangkan hak-hak perempuan agar dipandang sama dengan para lelaki.

Kondisi ini semakin diperparah dengan munculnya ide feminisme yang seolah menjadi pahlawan penyelamat bagi kedudukan kaum hawa. Dengan alasan terjajah dari kaum lelaki, mereka menyuarakan dengan semangat ide ini kepada seluruh negeri kaum muslim. Sehingga, aturan agama dirasa tak perlu mengatur dalam urusan kehidupan para wanita.

Feminisme menempatkan posisi wanita harus setara dengan laki-laki. Jargon “Wanita dijajah pria” menjadi batu pijakan bagi seluruh kaum wanita agar bisa bangkit mengungguli kaum laki-laki. Pemikiran inilah yang meracuni para perempuan agar bisa mencari uang sendiri, mandiri tanpa suami, hidup bebas tanpa anak dan bisa menjadi pekerja kasar sekalipun.

Liberalisme pun telah berhasil menjadikan kaum Muslimah jauh dari identitas agamanya. Racun liberalisme ini menjadikan kaum hawa lupa akan kodrat dan fitrahnya yaitu menjadi ummu wa rabbatul bayt.

Hal ini bisa nampak dengan fakta yang yang dapat kita saksikan saat ini, betapa tidak sedikit wanita yang memilih memprioritaskan menjadi wanita karir, ketimbang mengurus keluarga di rumah. Memprioritaskan kerja dan begitu tergila-gila dengan materi.

Dengan alasan pemenuhan ekonomi. Parahnya jika orientasi hidup mereka hanya sekedar mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Menelisik lebih jauh bahwsanya ide kesetaraan gender ini berasal dari sejarah pemikiran-pemikiran wanita di zaman kegelapan Eropa yang selalu diperlakukan tidak adil oleh suami, masyarakat ataupun negara.

Hingga saat ini pun kita masih menyaksiakan perjuangan para perempuan tak kunjung reda. Mereka terus berjuang demi mendapatkan pengakuan dunia.

Inilah bukti bahwa sistem kapitalis liberalis gagal memberikan perlindungan bagi kaum wanita hingga saat ini. Betapa banyak wanita yang tergabung dalam gerakan ini hanya untuk memperjuangkan hak-hak mereka yang selama ini tidak diakui oleh sistem yang menaungi mereka.

Kondisi ini semakin menunjukan bahwa kaum perempuan saat ini sedang berada dalam masalah besar.

Perempuan Dalam Naungan Islam
Dalam sistem Islam, perempuan tidak diremehkan apalagi dihinakan. Kemuliaannya sangat jelas dicantumkan dalam banyak dalil-dalil syar’i. Dalam sejarah pun, perempuan memiliki kontribusi besar bagi kebangkitan Islam dan perjalanan dakwah Islam.

Posisinya dinobatkan sebagai penentu generasi ke depan. Karena ditangannyalah masa depan Islam dan generasi yang akan datang ditentukan.

Perempuan harusnya sadar dengan kerusakan yang diakibatkan oleh penerapan sistem kapitalis liberalis. Sistem inilah yang mengundang malapetaka bagi kehidupan perempuan. Bukan hanya itu, sistem inilah yang menjadikan perempuan berada pada posisi tidak jelas dan hidup perempuan menjadi lebih susah.

Sejatinya, Islam menempatkan perempuan sebagai kehormatan yang wajib dijaga. Negara memberi full support kepada perempuan untuk menjalankan peran utama sebagai ibu bagi anak-anaknya (Ummun) sekaligus ibu bagi generasi (Ummu ajyal).

Semua ini akan ditunjang dengan peraturan dan kebijakan yang menjamin hidup dan kebutuhan perempuan. Jadi tidak akan ada fenomena eksploitasi perempuan sebagai barang komoditas sektor ekonomi, seperti yang dilakukan sistem kapitalis liberalis saat ini.

Di samping itu, seorang Muslimah wajib mengetahui kodrat dan fitrahnya sebagai perempuan, yaitu menjadi ummun wa rabbatul bayt (ibu dan pengatur rumah suami) dan Ummu ajyal (ibu generasi). Fungsi ini akan terlaksana secara sempurna jika perempuan memahami tugas ini sebagai kewajiban dari Allah Swt.

Secara khusus, Islam memberi perhatian besar bagi perempuan. Rasulullah SAW bersabda, “Perempuan adalah saudara kandung laki-laki. Tidak memuliakan kaum wanita kecuali orang mulia dan tidak merendahkan mereka kecuali orang hina.” (HR. Ahmad, At-Tirdmidzi, dan Ibnu Asakir).

Dengan demikian, kejelasan sistem Islam dalam melindugi kaum perempuan tak perlu diragukan lagi. Karena hal tersebut telah dijamin oleh pencipta alam semesta, yaitu Allah Swt.

Untuk itu, mengapa kita ragu untuk menerapkan sistem Islam yang berasal dari Sang Pencipta yang akan melindungi jiwa, harta, darah, dan kehormatan kaum perempuan. Wallahu a’lam bi ash-shawab.[]

*Relawan media

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × 2 =

Rekomendasi Berita