by

Narkoba Makin Marak, Bukti Kapitalisme Merusak Generasi Bangsa

-Opini-29 views

 

 

Oleh: Ghaziya Al-Ayyubi, Aktivis Muslimah

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Penyalahgunaan narkoba telah berhasil menyumbang angka sekitar 296 juta orang di dunia menjadi korban. Kasus Indonesia, UNDOC (United Nation Office On Drugs and Crime) mencatat bahwa Indonesia sebagai negara muslim terbesar masuk ke dalam list “segitiga emas” perdagangan narkoba, bersama dengan Jepang, Australia, Selandia Baru, dan Malaysia. Fakta ini menunjukkan betapa mengguritanya peredaran narkoba di dunia.

Mulai dari yang kaya sampai yang miskin, muda maupun tua, pejabat ataupun rakyat jelata, pemakai barang haram ini nyaris merata ke semua kalangan, tanpa pandang bulu, termasuk para pelajar dan mahasiswanya.

Sebagaimana yang dikatakan PNN dan LIPI, pada juni 2019 saja terdapat 2,3 juta pelajar dan mahasiswa yang mengkonsumsi narkotika.

Lebih-lebih di masa pandemi ini, jumlah pemakainya makin hari kian tak terbendung lagi.

Sebagai apologi, pandemi mereka jadikan sebagai peralihan, demi mendapat kesenangan yang terhalang. Padahal mengkonsumsi narkoba banyak sekali mudharatnya, baik di dunia maupun di akhirat. Na’udzubillah.

Artis Terjerat Kasus Karkoba

Baru-baru ini pasutri dari kalangan selebriti yang tertangkap polisi tengah menjadi perhatian publik. Mereka ditetapkan sebagai tersangka atas penggunaan narkoba jenis sabu-sabu. Padahal, publik figur cenderung menjadi contoh masyarakat. Apalagi mereka adalah orangtua yang pasti menjadi contoh bagi anak-anaknya. (Muslimah News 14/72021)

Semestinya mereka wajib dihukum agar jera dan tak mengulangi perbuatan keji ini lagi. Namun alih-alih diberatkan, justru pengajuan rehabilitasi langsung dipenuhi. Hal inilah yang membuat publik ragu atas ketegasan pemerintah terhadap pengguna narkoba.

Keadilan kapitalisme

Bila yang terjerat kasus narkoba berasal dari rakyat biasa, hukum yang ada bergegas untuk ditegakkan. Namun bila perbuatan semacam ini dilakukan oleh masyarakat terpandang baik pejabat tinggi, politisi, pemilik modal, artis dsb,  maka sikap pemerintah seolah memberi kelonggaran hukum atas perbuatan mereka.

Hukum Di tataran praktis masih tampak tebang pilih. Beginilah hukum kapitalisme sekuler.  Keadilan dan penetapan peraturan tak ubahnya bagaikan barang mahal yang hanya bisa dimiliki oleh orang-orang berduit saja. Sedangkan bagi rakyat kecil dan orang miskin, mengemispun belum tentu mendapat hak keadilan.

Miris, hukum di dalam kapitalisme ternyata sangat mudah disulap dan disetir sesuai kehendak para pemilik modal. Tentu, tak semua rakyat kuasa atas hal itu. Hanya segelintir rakyat saja, dari kalangan terpandang yang bisa mengendalikan peraturan sesuka hatinya. Maka pantaslah bila hukum buatan manusia ini disematkan tumpul ke atas dan tajam ke bawah.

Kapitalisme, Rusak Dari Akar Hingga Buah

Narkoba yang semakin marak ini sejatinya hanyalah problem cabang umat. Perlu kita pahami, bahwa dibalik tingkah laku masyarakat yang semakin bebas dan bablas tanpa batas seperti saat ini, sesungguhnya ada andil besar orang orang tertentu yang sengaja ingin merusak generasi bangsa. Pemerintah melalui kekuasaannya seharusnya mampu menghentikan ini semua.

Semakin dicegah semakin banyak  peminat narkotika ini. Mengapa pabrik dan pengedar barang haram ini terus eksis dan tak pernah habis?

Islam Solusi Tunggal
Fakta di atas agaknya cukup menggambarkan kebobrokan sistem kapitalisme sekuler. Oleh karena itu, kegagalan pemerintah dalam hal ini bukan terletak pada rezim maupun peraturannya yang mudah disulap melainkan juga terletak pada sistem yang menjadi landasan dan pijakan baik hukum ekonomi dan sosial.

Untuk mengakhiri kondisi ini, harus ada solusi hakiki. Maka jawabannya hanya Islamlah satu-satunya sistem peraturan hidup yang adil.

Islam, dari sisi hukum, sistem dan pandangan hidup sangat sesuai dengan fitrah manusia dengan segala latar belakang suku, ras dan kebangsaan.

Begitupun halnya dengan hukum-hukum Islam yang sangat paripurna, kompleks dan sama sekali tak ada banding. Maka, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَ  ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?”(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 50). Wallahua’lam bishawab.[]

Referensi

Comment

Rekomendasi Berita