No Kings, Lonceng Kematian AS dan kembalinya Islam

Opini362 Views

Penulis: Puput Hariyani, S.Si |
Bussines Woman

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– “No Kings” (Bukan Raja) merupakan tajuk aksi massa terbesar yang pernah terjadi di negeri Paman Sam. Gelombang protes raksasa yang meledak di seluruh penjuru Amerika Serikat (AS) terjadi pada Sabtu (28/3/2026). Gerakan ini disebut-sebut bukanlah demonstrasi biasa melainkan akumulasi kegerahan rakyat terhadap gaya kepemimpinan Trump yang dinilai otoriter dan didikte oleh elite miliarder.

Data dari BBC menyebutkan lebih dari 3.000 titik aksi telah dikoordinasikan di 50 negara bagian. Estimasi massa mencapai angka fantastis, yakni 5 hingga 7 juta orang. Jumlah ini melampaui rekor demonstrasi mana pun dalam setahun terakhir.

Dikutip dari kompas.com, Koalisi lintas sektor ini menyuarakan tuntutan yang menyentuh berbagai isu krusial:

1. Stop Kebijakan “Ala Raja”: Menolak segala tindakan presiden yang mengabaikan Kongres dan Konstitusi.

2. Hentikan Perang Iran: Mendesak AS menarik diri dari konflik berdarah di Iran.

3. Reformasi Imigrasi: Menolak razia agresif dan penahanan massal oleh pihak ICE.

4. Tarik Aparat Federal: Mendesak militerisasi di kota-kota besar segera dihentikan.

5. Lindungi Hak Sipil: Menuntut jaminan hak pilih dan kebijakan lingkungan yang pro-rakyat.

6. Atasi Biaya Hidup: Mendesak pemerintah fokus pada inflasi yang mencekik ekonomi warga.

Dikabarkan utang nasional AS juga menembus angka fantastis. Pada maret 2026 sebesar US$ 39 triliun (Rp 661.440 triliun). Utang bengkak, menyusul lonjakan pengeluaran akibat konflik AS-Israel-Iran. Artinya, per kepala warga AS atau setiap bayi yang baru lahir di AS akan menanggung beban utang Rp 1,93 miliar (CNBCIndonesia.com).

Ambisi Trump untum menguasai dunia dengan kebijakan militernya membuat hutang AS berlipat. AS kini menjadi negara dengan beban utang terbesar di dunia, melampaui gabungan beberapa negara maju seperti Jepang, Inggris, dan Prancis. Jelas hal ini merupakan tanda kejatuhan AS paling nyata.

Bengisnya AS (Trump) yang mendukung Israel untuk menguasai Palestina dengan BoP nya, juga bersekutu dengan Eropa dan negara teluk untuk kompak memerangi Iran telah membuka mata dunia dan menelanjangi kejahatan Trump dan hegemoni kapitalisme.

Tentu penghianatan negeri-negeri muslim yang telah berada di pihak AS harus dihentikan. Umat harus disadarkan bahwa hegemoni AS dengan kapitalisme dan demokrasinya telah merusak dunia dan kehidupan antar bangsa.

Kaum muslim menjadi korban adu domba demi keserakahan AS. Sesama kaum muslim saling memusuhi dan saling serang. Namun disisi lain gelombang kesadaran umat kian membesar. Hal ini harus diiringi dengan upaya penyadaran sistematis oleh sebuah kelompok dakwah ideologis.

Edukasi yang diberikan kepada kaum muslim tentu harus semakin kuat, massif dan bersifat politis. Umat harus memahami politik Islam, sistem Islam dan kepemimpinan Islam untuk memberangus ideologi sekuler kapitalis yang rusak dan merusak kemudian diganti dengan ideologi Islam.

Sehingga tatanan dunia kembali berkah dengan lenerapan syariah kaffah. _Wallahu ‘alam bi ash-showab.[]

Comment