by

Ns. Sarah Ainun, M.Si: Warning! “Kucumbu Tubuh Indahku”

Ns. Sarah Ainun, M.Si
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pemahaman bahwa free sex mencerminkan seseorang  itu modern, menjadi dasar perbuatan yang membentuk perilaku generasi cenderung tersesat dalam  pergaulan yang salah. Pemahaman tersebut sudah merasuki dan bercokol di benak mereka. Di saat pencarian identitas dan jati diri remaja yang masih labil terhadap  pengaruh dunia luar. Jadi tidak perlu heran, jika generasi saat ini memiliki  mental yang membebek pada gaya hidup bebas negara-negara barat.
Free sex lahir dari rahim Sekulerisme dimana agama dan ajaran-ajarannya tidak boleh memasuki fungsi negara yang mengatur semua aspek kehidupan, Liberalisme yang melahirkan paham kebebasan yaitu; kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, kebebasan berperilaku dan kebebasan kepemilikan dan Kapitalisme  yang dibangun atas dasar materi semata dengan mengumpulkan pundi-pundi fulus bagi pemilik modal. Semua paham tersebut dibungkus dalam sistem negara Demokrasi.
Paham kebebasan berperilaku dijadikan dalil untuk menghalalkan sex bebas, terlebih diperkuat dan dilindungi oleh HAM Made in barat yang mencabut dirinya dari paham berketuhanan. Indonesia dengan mayoritas penduduk Islam yang menganut paham negara berketuhanan. Namun, pada realitasnya kebijakan dan aturan yang diterapkan cenderung menganut paham Sekuler Kapitalis dan Liberal yang menjadi sumber suburnya free sex yang merusak generasi.
Free sex tidak hanya dilakukan antara laki-laki dan perempuan, namun hombreng dan lesbiong (sesama jenis) pun mulai menjadi sesuatu yang biasa dan mencari tempat untuk dapat diterima sebagai bentuk dari Hak Asasi Manusia (HAM) yang harus dihormati dan dilindungi keberadaanya di tengah-tengah masyarakat. 
Film “kucumbu tubuh indahku” karya Garin Nugraha ditanyakan serentak di beberapa Bioskop di Indonesia mulai 18 April 2019. Film yang mengemas budaya lokal Lengger Lanang dibalut budaya global dengan mengeksplorasi sisi-sisi kelainan seksual kelompok eljibite ini pun diakui kualitasnya di dunia Internasional. Dan memenangkan Asia Pasific Screen Award, film terbaik festival Desember 3 Continents Nantes 2018 (tiroid, 27/04/2019). Tentu saja penghargaan terhadap film KTI ini tidak terlepas dari ikut mempromosikannya budaya barat gaya hidup bebas sesama jenis.
Namun, dari dalam negeri sendiri film tersebut menuai reaksi dari berbagai kalangan dan daerah dengan melayangkan petisi dan penolakan (boikot). Seruan tersebut datang dari Wali Kota Depok Mohammad Idris dan bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan yang menyampaikan keberatan dan melarang penayangan film tersebut di wilayahnya.
Hal serupa juga datang dari pemerintah daerah dan ketua MUI Garut KH. Sirojul Munir serta wali kota Pontianak Edi Rusdi Kamtoro yang melayangkan surat keberatannya kepada Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Kalimantan Barat, minggu 28/04/2019 selain menegaskan  keberatan atas pemutaran film tersebut juga meminta KPID Kalbar menutup akses informasi terhadap film tersebut baik di media cetak, media sosial, maupun media massa di kota Pontianak (liputan6.com, 28/04/2019). 
Konten film tersebut yang terlalu vulgar mengumbar aurat dianggap melanggar norma agama dan memiliki pesan terselubung untuk melegalkan praktik lesbian, gay, biseksual dan transgender. Dampak yang ditimbulkannya selain mempengaruhi cara pandang masyarakat juga menginspirasi perilaku khususnya generasi muda yang menjadikan tontonan sebagai dasar untuk berperilaku. 
Menanggapi petisi penolakan dari berbagai pihak tersebut. Garin sang sutradara pun menanggapi bahwa hal tersebut sebagai bentuk penghakiman sepihak tanpa ada ruang dialog yang melahirkan anarkisme massal dan menurunkan daya kerja serta mengancam kebebasan untuk hidup bersama tanpa adanya diskriminasi dan kekerasan sebagai tiang demokrasi (Tribun-Timur.com, 26/04/2019).
Film merupakan sebuah karya seni audio visual yang cara penyampaiannya merangsang penglihatan, pendengaran dan mempengaruhi emosional penonton. Pesan yang disampaikan lebih mudah untuk diingat dan pengaruhnya tidak hanya selama/sewaktu duduk menonton tetapi terus sampai waktu yang cukup lama. Katagori penonton yang paling mudah terpengaruh adalah anak-anak dan generasi muda. Disinilah butuh peran negara yang harus membatasi segala kontens negatif yang meracuni pemikiran generasi muda.
Dalam Islam seni harus dapat mengungkapkan keindahan dan konsep tauhid sebagai esensi Aqidah, tata nilai dan norma Islam,  yaitu menyampaikan pesan keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada  dasarnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyukai hal-hal yang bersifat indah. Namun Islam menentukan ukuran halal dan haramnya sebuah karya seni. Yaitu; haruslah baik dalam bentuk maupun maknanya; tidak merusak budi pekerti serta melalaikan orang dalam ibadah, tidak merusak moral dan menyebabkan kemusyrikan serta tidak menjadikan sebuah karya seni sebagai yang diagung-agungkan.
Di segi lain seni dalam Islam dibatasi oleh nilai-nilai asasi, etis dan norma-norma Illahi serta dibatasi oleh kedudukan bahwa manusia sendiri adalah abdi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Artinya suatu karya seni (film) dari segi bentuk dan maknanya harus berlandaskan Syariat yang bukan hanya terbatas pada masalah ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti pandangan paham Sekuler, namun juga mengatur pergaulan hidup antar sesama manusia.
Maka film salah satu media edukasi publik sebagai bahasa universal harus mampu menjadikan sarana atau alat untuk mengajak perbuatan baik (ma’ruf) dan mencegah perbuatan tercela (Munkar) serta membangun peradaban dan moral generasi yang tidak bertentangan dengan Aqidah dan Syara’. Bukan mengembalikan peradaban jahiliah dengan mengajak pada kemaksiatan. Menyelamatkan generasi dari karya seni yang dapat menghancurkan masa depan generasi hanya bisa dilakukan dengan mengembalikan sistem Islam secara total dalam kehidupan. Wallahu’alam.[]

Comment

Rekomendasi Berita