by

Yuli Ummu Raihan: Ratusan Anggota KPPS Meninggal Dunia, Ada Apa?

Yuli Ummu Raihan
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Innalillahi wainna ilaihi rojiun, telah meninggal dunia  lebih kurang 550 orang  petugas atau anggota KPPS semenjak pemilu 17 April 2019 lalu.
Ini adalah pemilu terburuk sepanjang sejarah demokrasi di Indonesia. Beragam opini berkembang di masyarakat terkait penyelenggaraan pemilu tahun ini. Mulai dari kecurangan yang bersifat masif dan terencana, money politik, serta drama menghiasi hari-hari sebelum ,dan pasca pemilu kali ini.
Kematian ratusan anggota KPPS adalah sesuatu yang ganjal, penuh misteri. Dan harus diungkap secara tuntas karena ini menyangkut nyawa manusia.
Salah seorang dokter syaraf, Ani Hasibuan, mengadukan masalah banyaknya petugas KPPS yang meninggal dunia saat menjalankan tugas, kepada Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah di kompleks Parlemen Senayan, Senin (6/5/2019).
Beliau menyebutkan beberapa nama petugas KPPS yang meninggal diantar anya karena kelelahan, sakit,  terjatuh di kamar mandi bahkan yang bunuh diri.
“Membunuh tanpa alasan 1 nyawa saja sama dengan membunuh satu dunia ini. Ini ada 500 orang meninggal dan kita mau diam”, ujar Ani dalam dialog di Tv One, Selasa (7/5/2019) malam.
” Yang ingin saya minta di sini, sebagai dokter sebagai rakyat, ayo dong diperiksa,” tambah Ani. “Di Jogha ada korban punya anak empat, istrinya tidak bekerja, mau diapain sama negara tuh?”.
Masih dalam talk show tersebut terbongkar proses rekrutmen anggota KPPS yang banyak kejanggalan dan manipulasi, terutama terkait surat keterangan kesehatan, Wartakotalive.Com, (8/5/2019).
Dilansir oleh Tribunnews.Com, (9/5/2019), dr Norman Zainal mengomentari terkait kematian 554 petugas KPPS. Menurutnya tugas KPPS adalah pekerjaan yang ditarget waktu dengan beban fisik dan konsentrasi yang tak boleh salah sehingga kemungkinan terjadi tekanan mental.
Masih menurut Norman, mengacu pada UU ketenagakerjaan maka seharusnya jam kerja itu  sekitar 8 jam sehari atau tidak lebih 40 jam seminggu.
Sejumlah dokter yang tergabung dalam komunitas Kesehatan Peduli Bangsa menyoroti tragedi ini. Perwakilan komunitas ini dr. Bakta mengatakan, ini sebagai bencana kesehatan nasional”. Mereka juga menuntut Kapolri Tito Karnavian untuk mengeluarkan surat perintah autopsi jasad para anggota KPPS yang meninggal dunia, Viva.co.id, (9/5/2019).
Komisioner Komnas HAM Amiruddin ikut berkomentar perihal tragedi ini. Mengaku independen dan tidak ada kepentingan politik apapun,  misinya mencari fakta secara investigatif dilakukan demi menepis isu liar yang berkembang.
“Kan isunya sudah kemana-mana, ada yang bilang diracun, dan sebagainya, kita cari fakta yang sebenarnya agar publik menjadi tenang,” kata Amiruddin.
Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik juga menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki kepentingan politik apapun, apalagi mengakomodir salah satu pihak yang berkontestasi.
Sebagai seorang Muslim kita meyakini bahwa kematian adalah ketetapan Allah sang pecipta, dan itu bersifat pasti tidak dapat dimajukan atau dimundur meski sedetikpun. Kematian juga tidak membutuhkan alasan seperti sakit, kecelakaan atau hanya kelelahan, karena seseorang yang segar bugar bisa juga meninggal jika Allah sudah berkendak.
Tapi kita tidak boleh berdiam diri saja, kematian ratusan petugas KPPS ini adalah musibah, ada misteri yang harus diungkap, dan dituntaskan.
Menurut dr. Ani Hasibuan kelelahan tidak bisa menjadi COD (Cause Of Dead). Jika tubuh kelelahan maka yang terjadi adalah lapar, mengantuk, bukan kematian. Kecuali sejak awal seseorang telah memiliki penyakit tertenru yang memang tidak boleh kecapean misalnya jantung, ginjal, liver dll.
Maka penyebab kematiannya adalah penyakit tersebut yang dipicu kelelahan. Maka sangat ganjil jika semua korban meninggal karena kelelahan. Apalagi tugas anggota KPPS hanyalah aktivitas menulis bukan pekerjaan fisik yang berat, seperti kuli bangunan, pekerja jalan tol, kuli panggul, buruh atau pekerjaan yang membutuhkan fisik yang kuat lainnya.
Mirisnya tragedi ini belum mendapat perhatian serius dari pemerintah. Padahak 550 orang telah meninggal hanya dalam waktu 20 hari belum ribuan lainnya yang masih menjalani perawatan.
Seharusnya pemerintah bertindak cepat, jika perlu menetapkan kejadian ini sebagai kejadian luar biasa, membentuk tim pencari fakta untuk melakukan investigasi menyeluruh, agar misteri ini dapat dipecahkan.
Ini juga menjadi pelajaran bagi pemerintah untuk pemilu yang akan datang, agar tidak terulang lagi.
Perlu ada upaya serius dari pemerintah membuka misteri ini, tidak hanya menggeneralisir penyebabnya karena kelelahan.
Jika memang faktor kelelahan maka perlu mencari upaya meminimalisirnya dengan seleksi petugas KPPS, membuat jam kerja, menambah personil, atau memberi fasilitas kesehatan yang memadai agar petugas KPPS bisa bekerja dengan aman dan nyaman tanpa mengorbankan nyawa mereka.
Dalam Islam urusan nyawa apalagi seorang muslim berat perkaranya, serta berat ancamannya.
Nyawa seorang Muslim lebih berharga dari pada dunia dan seisinya.
Nabi Muhammad saw bersabda, ” Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibanding  terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak”.( HR.Nasai, dan dishahihkan Al Albani).
Ancaman hukuman membunuh seorang Muslim juga tidak ringan, diantaranya neraka jahannam, kekal di dalamnya, murka Allah, serta laknatNya, dijauhkan dari rahmat Allah, serta azab yang besar, (QS An nisa’ : 93).
Kelak yang pertama kali dihisab dalam urusan sesama manusia adalah urusan darah (nyawa), Rasulullah SAW bersabda, ” Perkara yang pertama kali dihisab adalah shalat, sedangkan yang diputus pertama kali diantara manusia adalah yang berkaitan dengan darah ( nyawa).” ( HR. An nasa’i dishahihkan oleh Al albani).
Maka jelaslah bahwa kematian ratusan petugas KPPS ini bukan perkara sepele, apalagi jika kematian mereka ada unsur kesengajaan, kelalaian, maka ini harus dibuka, dan dijelaskan pada publik agar tidak ada asumsi liar yang berkembang.
Demokrasi adalah biang kerusakan, maka sudah sudah saatnya kita tinggalkan. Dalam Demokrasi semua hal bisa dihalalkan termasuk masalah kecurangan, politik kotor, bahkan sampai menghilangkan nyawa orang lain. Ambisi kekuasaan menutup mata hati dan nurani manusia,   sehingga kasus ratusan korban meninggal hanya mendapat ucapan duka cita, bela sungkawa, atau hanya sekedar santunan bagi para korban dan keluarganya.
Saatnya kita kembali pada aturan Allah swt yang akan memanusiakan manusia, dimana nyawa setiap orang begitu dihargai, dan penguasa yang peduli akan perlindungan pada  rakyatnya, mementingkan kebutuhan rakyat ketimbang kebutuhan pribadi atau kelompok, yang berkuasa untuk menerapkan aturan Allah secara kaffah, agar terwujud Islam yang rahmatan lil alamaiin. Wallahu a’lam.[]
*Member Akademi Menulis Kreatif)

Comment

Rekomendasi Berita