by

Pahlawan, Sebuah Inspirasi Untuk Anak Negeri Yang Terlupakan

Furqon Bunyamin Husein, Pemred radarindonesianews.com
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Tidak seperti peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia, Hari Pahlawan yang kita peringati setiap tanggal 10 November itu seakan sepi tanpa inspirasi. Padahal dari merekalah bangsa ini merdeka dan menikmati kekayaan di dalamnya.
Pahlawan yang telah gugur dengan segala pengorbanan itu tidak lebih seperti  halnya sebuah piringan CD yang diletakkan di pojok lemari dan sama sekali tidak diputar dan diperlihatkan kembali sebagai pelajaran untuk generasi berikutnya.
Teronggok mengenaskan tanpa kepedulian. Sejarah dan perjuangan mereka hanya menjadi sebuah pegantar tidur tanpa makna. Padahal dari kerigat, darah dan nyawa merekalah kini kita menetap di bumi pertiwi.
Perjuangan dengan nyawa sebagai taruhan, tidak membuat kita belajar dan menghargai. Mereka berada di satu sisi pararel yang tidak pernah bertemu dalam satu titik persimpangan sejarah. Di manakah anak negeri ini berada? Apakah yang mereka lakukan terhadap para pahlawan yang telah bersusah payah memerdekaan rumah yang kini kita tinggali?
Bangsa besar, kata Soekarno, adalah bangsa yang menghargai sejarah dan pahlawannya. Kita sibuk berseteru dengan dan antar agama, berseteru dalam kepentingan politik praktis demi jabatan dan kekuasaan, berseteru dalam hawa nafsu dan hedonisme kelewat batas, berseteru dalam syahwat keduniaan yang berorientasi  materialistik semata.
Bahkan perseteruan semua itu menjadikan kita lupa tentang nilai dan arti persaudaraan kebangsaan yang telah mereka wariskan kepada kita. Perseteruan dalam segala hal dan hanya berbasis pada kepentngan politis itu juga telah menyingkirkan pahlawan itu sendiri baik dalam  konteks sejarah maupun semangat perjuangannya. Sebuah inspirasi yang hilang dan terlupakan.
Lebih jahat lagi adalah, para pahlawan yang masih tersisa dalam kehidupan di negeri yang mereka wariskan itu justeru termarginalkan dalam segala hal. Mereka hidup dalam segala kekurangan. Tempat tinggal mereka tak lebih sekedar kamar yang hanya cukup untuk merebahkan badan dari letih karena usia. Tidak ada pendingin, tidak ada kursi empuk, tidak ada segala yang enak yang kita berikan sebagai penghormatan untuk mereka. 
Wahai anak bangsa, renungkanlah apa yang telah kita perbuat untuk pahlawan yang telah berjuang dan mengorbankan nyawa mereka. Kembalilah kalian kepada sejarah dan belajarlah menghargai mereka yang telah menjual nyawa mereka demi kemerdekaan bangsa ini.
Pertahankan semua batas negeri yang telah mereka rebut dengan darah dan nyawa. Jangan terlena dengan kehidupan dan kekuasaan semata sementara sedikit demi sedikit wilayah negeri terampas oleh sebuah hegemoni.[]

Comment