Pasukan Elite AS Tangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro

Internasional211 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Dalam operasi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya di abad ke-21, Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya Cilia Flores dilaporkan telah ditangkap oleh pasukan khusus Amerika Serikat pada dini hari 3 Januari 2026.

Menurut sejumlah laporan media internasional, termasuk Reuters dan The Guardian, operasi itu dilakukan oleh Delta Force, unit elit Angkatan Darat AS yang dikenal atas misi kontra-terorisme dan penyelamatan sandera.

Kronologi operasi menunjukkan bagaimana pasukan khusus menyergap kediaman Maduro di Caracas pada saat yang paling tak terduga, saat sang presiden dan istrinya sedang tidur, lalu diseret keluar dari kamar mereka dalam penggerebekan terkoordinasi dan cepat.

Delta Force, yang pernah terlibat dalam operasi besar seperti pembunuhan pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi, kembali menunjukkan kapasitasnya dalam operasi teritorial berskala besar.

Setelah ditangkap, Maduro dan Flores dilaporkan diterbangkan ke Amerika Serikat dan dibawa ke New York, di mana mereka akan menghadapi dakwaan serius di Pengadilan Federal Manhattan terkait tuduhan termasuk konspirasi narkotika dan kepemilikan senjata.

Jaksa Agung AS menyebut bahwa pemimpin Venezuela itu akan “menghadapi murka penuh keadilan Amerika.”

Operasi yang Memecah Dunia
Peristiwa ini bukan hanya momen penting dalam hubungan AS–Amerika Latin, tetapi juga titik balik geopolitik dunia.

Intervensi unilateral yang mengakibatkan penangkapan kepala negara yang sedang menjabat memicu gelombang reaksi internasional.
PBB, negara-negara besar seperti Brasil, Prancis, dan Rusia telah mengkritik tindakan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional dan kedaulatan nasional.

Para ahli hukum internasional juga mempertanyakan legitimasi operasi ini karena tidak ada persetujuan dari Dewan Keamanan PBB atau mandat internasional lain menjadikannya kontroversial secara legal.

Penangkapan Maduro terjadi di tengah tekanan AS terhadap jaringan yang disebut “Cartel de los Soles”, sindikat narkoba besar yang dituding memiliki hubungan erat dengan rezim Caracas.

Tuduhan semacam ini menambah dimensi kompleks terhadap strategi AS yang menggabungkan penegakan hukum, keamanan nasional, dan politik luar negeri.

Namun, para kritikus menilai bahwa tindakan militer semacam ini berpotensi membuka preseden berbahaya di mana kekuatan besar bisa menggunakan capaian hukum domestik untuk justifikasi operasi militer lintas batas tanpa setujuannya.

Meski spektakuler, penangkapan pemimpin Venezuela itu bukan yang pertama dalam sejarah AS.
Pada 1989, Manuel Noriega, diktator Panama, ditangkap dalam Operation Nifty Package oleh pasukan AS dan diserahkan kepada otoritas AS atas tuduhan narkoba.

Namun, penangkapan Maduro, kepala negara aktif yang masih menjabat saat operasi  menandai skenario yang jauh lebih kompleks dan berisiko tinggi bagi tatanan hukum dan politik global.[MA]

Berita Terkait

Baca Juga

Comment