Pembantaian Kaum Muslim Terus Terjadi, Mengapa Dunia Diam?

Opini208 Views

 

 

Penulis: Depi Fitriyani | Aktivis Kampus Jambi

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA–  Kejam! Pasukan Israel dilaporkan menembaki warga Gaza, penduduk Palestina yang menyerbu truk makanan saat diberikan, Kamis waktu setempat. Hal ini menyebabkan lebih dari 100 orang tewas. Menurut AFP, militer Israel (IDF) memberondong warga dengan senata ketika ribuan orang putus asa dan lapar mengepung konvoi 38 truk bantuan.

Hal ini menyebabkan puluhan terluka, termasuk beberapa orang tertabrak truk. Dalam update Kementerian Kesehatan, Jum’at (1/3/2024), setidaknya 112 orang tewas dan 750 orang mengalami luka-luka. Insiden ini menambah jumlah korban tewas warga Palestina akibat serangan Israel, setelah sebelumnya kemarin resmi mencapai 30.000 jiwa.

Kini warga Palestina yang tewas dan terluka dibawa ke beberapa rumah sakit di Gaza Utara, termasuk rumah sakit al-Shifa, rumah sakit Kamal Adwan dan rumah sakit Al-Ahli Arab. Kementrian Kesehatan Gaza mengatakan Rumah Sakit Al-Shifa dan Rumah Sakit lain di Gaza Utara mengalami kerusakan parah sejak agresi Israel dimulai, dan hampir tidak berfungsi akibat kekurangan bahan bakar dan pasokan.

Kondisi ini seperti ditulis CNBC Indonesia (1/3/2024), kian diperparah dengan minimnya bantuan makanan dan kesehatan, hingga menyebabkan giri buruk akut bagi ribuan anak Palestina.

Dunia Diam Seribu Bahasa

Setiap hari tiada hentinya kita disuguhkan dengan pemberitaan betapa menderitanya saudara-saudara kita di Palestina. Sudah lebih dari 150 hari kekejaman zionis yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023 namun belum juga berakhir hingga hari ini.

Mereka kian menderita, sebab entitas Yahudi terus melancarkan serangan balasan membabi-buta. Serangan yang mereka lakukan bukan hanya tertuju kepada para pejuang Palestina, tapi juga para warga sipil, anak-anak, perempuan, tenaga medis dan juga jurnalis.

Kini tinggal menghitung hari kaum muslim dunia akan segera kedatangan bulan suci Ramadhan. Dunia menyambut Ramadhan dengan penuh suka cita, sudah mampu merencanakan hidangan apa yang kelak akan disantap ketika sahur dan berbuka. Berbanding terbalik dengan saudara muslim kita di Palestina.

Keadaan mereka semakin memburuk dan memilukan, bagaimana tidak hanya untuk memenuhi urusan perut saja mereka harus bertaruh nyawa.
Kita melihat di sosial media, begitu banyak orang baik muslim ataupun yang non muslim berisik atas genosida yang dilakukan oleh zionis Israel. Protes pro-Palestina dengan seruan “Free Palestine” menggema di seluruh dunia dari Johannesburg hingga Washington DC.

Tak ketinggalan para pemimpin di negeri-negeri muslim pun juga mengecam dan mengutuk kekejaman yang dilakukan oleh Israel. Hal ini mereka tunjukkan dengan mengirimkan bantuan pangan kepada warga Palestina, baik melalui jalur darat maupun jalur udara seperti yang dilakukan oleh Negara Yordani baru-baru ini.

Kaum muslim Palestina jelas membutuhkan bantuan, dan bantuan ini bukan hanya bantuan pangan sebagai penyambung hidup bagi mereka. Bantuan pangan tidak akan mampu mengeluarkan Palestina dari penderitaannya, namun Palestina membutuhkan tentara yang akan membantu perjuangan mereka.

Sayangnya, negeri-negeri muslim tidak banyak yang membantu melenyapkan penjajah. Mereka hanya diam menyaksikan penderitaan saudaranya sendiri. Bahkan Mesir sebagai negara terdekat Palestina malah membangun tembok beton tinggi di sepanjang perbatasannya dengan jalur Gaza, seolah menutup mata dan telinga atas penderitaan Palestina.

Penjajahan dan genosida yang dialami palestina selama berpuluh-puluh tahun ini seakan menjadi peristiwa yang tiada henti dan sengaja dipelihara agar abadi. Padahal penjajahan, pendudukan bahkan genosida Palestina oleh zionis Yahudi seharusnya mengingatkan kaum muslim termasuk penguasa negeri muslim akan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pentingnya perlindungan darah dan harta kaum muslim.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Sungguh darah dan harta kalian itu haram atau suci seperti sucinya hari kalian ini, di negeri kalian dan pada bulan kalian”. (HR. Muslim).

Apa maksud dari hadits tersebut? Artinya tidak boleh sedikitpun darah kaum muslim tertumpah tanpa hak, di mana konsekuensinya para penguasa muslim tidak boleh membiarkan ada darah seorang muslimpun di dunia ini ditumpahkan tanpa ada pembelaan. Sayangnya penguasa muslim hanya diam menyaksikan jeritan rakyat Palestina.

Di sisi Allah, hilangnya nyawa seorang muslim lebih lebih besar perkaranya dari pada hilangnya dunia. Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Tirmidzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Free Palestine? Butuh Persatuan, dong!

Ketika seruan ini terus terdengar baik dari kalangan muslim ataupu nonmuslim juga tidak ketinggalan untuk menyuarakan pembebasan Palestina, maka suatu kemustahilan hal ini terjadi di tengah-tengah kepemimpinan yang disetir oleh penjajah Barat.

Hal ini terlihat dari ketidakberdayaan penguasa negeri-negeri muslim untuk menolong muslim Palestina.
Seharusnya hal ini mengingatkan kita dan para penguasa muslim tentang persatuan dan kesatuan kaum muslim sedunia berdasarkan ikatan yang shohih.

Ikatan yang berdasarkan akidah Islam bukan kebangsaan ataupun nasionalisme termasuk sekat-sekat negara bangsa (nation state). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Wahai sekalian manusia! Rabb kalian satu, dan ayah kalian satu, ingat! Tidak ada kelebihan bagi orang arab atas orang ajam dan bagi orang ajam atas orang arab, tidak ada kelebihan bagi orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit merah kecuali dengan ketakwaan”. (HR. Ahmad).

Para penguasa negeri-negeri muslim harus ingat bahwa kekuasaan adalah amanah dan amanah tersebut akan dimintai pertanggung-jawaban di hadapan Allah kelak.

Untuk itu harusnya mereka sadar bahwa dengan kekuasaan ini bisa dipergunakan untuk menolong muslim Palestina dengan mengirimkan jutaan tentara yang mereka miliki. Namun negeri-negeri muslim yang berasaskan ideologi kapitalisme sekuler tidak akan memilih jalan tersebut sampai kapanpun. Sebab ideologi kapitalisme sekuler secara otomatis menjadikan negeri-negeri muslim tunduk pada kepentingan negara adidaya Amerika Serikat.

So, mengharapkan bantuan dari negeri-negeri muslim dalam hal ini adalah suatu kemustahilan atau ilusi belaka. Sekalipun ada lembaga dan hukum internasional nyatanya sampai hari ini tidak mampu menghentikan genosida yang telah berlangsug berpuluh-puluh tahun ini.

Free Palestine Butuh Solusi Hakiki!

Sudah tidak diragukan lagi bagaimana kepedulian kaum muslim terhadap permasalahan Palestina. Tidak perlu menjadi muslim untuk peduli kepada Palestina, cukup menjadi manusia.

Iyups, secara perasaan mungkin seluruh kaum muslim dunia punya rasa prihatin yang sama. Namun secara pemikiranpun kaum muslim juga harus sama.

Menyamakan pemikiran bahwa masalah Palestina adalah masalah kaum muslim dan solusi atas permasalahan ini ada pada Islam.

Dalam Islam jelas bahwa tidak boleh seorang pun yang berhak untuk menyerahkan tanah kharajiyah kepada pihak lain, apalagi itu kepada para penjajah zionis yang tidak tahu diri.

Maka seharusnya kaum muslim dengan tegas dan tidak membiarkan tindakan zionis yang begitu kejam ini. Hal ini pernah dilakukan oleh Khalifah pada masa penerapan Islam.

“Selama aku masih hidup, tak akan kubiarkan siapapun merampas tanah kaum Muslimin!“.

Ucapan tegas tersebut dilontarkan oleh Sultan Abdul Hamid II,  Khilafah Turki Utsmani (Ottoman), kepada pendiri gembong Zionisme, Theodore Herzl yang berusaha membujuknya agar memberikan sebagian wilayah Palestina yang saat itu berada di bawah kekuasaan Ottoman untuk bangsa Yahudi.

Sikap tegas yang dilakukan oleh Khalifah Abdul Hamid II ini sesuai dengan sebagaimana yang Allah perintahkan yakni perangi dan usir zionis tersebut.

Firman Allah swt, “Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman”. (TQS. At-Taubah ayat 14).

Untuk itu, jika ingin membebaskan Palestina dari penjajahan ini butuh adanya kekuasaan yang menyerukan jihad fii sabilillah. Tidak ada solusi lain bagi Palestina selain dengan penegakan Khilafah Islamiah sebagai wadah bersatunya umat islam dunia.

Dengan Khilafah, sekat bangsa akan tercerai, persatuan kaum muslim akan terwujud, karna akidah Islam menjadi fondasi kekuatan Islam. Khilafah akan menyerukan jidad memerangi musuh-musuh Islam, sehingga tidak ada pembiaran ketika menyaksikan penjajahan kaum muslim, khususnya Palestina.

Hal ini terbukti dalam 1400 tahun lalu dunia dipimpin oleh kepemimpin yang satu yaitu Khilafah Islam.

Sepanjang penerapan Islam tersebut, Khilafah mampu menjaga dan melindungi Palestina hingga tiga agama yang ada di sana pada saat itu, yakni Islam, Nasrani dan Yahudi hidup berdampingan secara damai.[]

Comment