Oleh: Nuryanti, Lisma Jembrana-Bali
__________
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Masalah pemuda sangat menarik untuk dibahas. Di tangan pemuda, suatu peradaban bisa terganti. Keberadaan pemuda juga menjadi acuan keberhasilan sebuah negeri. Tanpa peran pemuda bisa membuat suatu negeri kelimpungan. Terlebih ketika mengalami demografi yang cukup signifikan.
Oleh karena itu, Islam sangat menghitung betul potensi para pemuda ini. Karena di tangan pemuda, terbukti Islam pernah berjaya menjadi peradaban yang menguasai dunia. Bahkan potensi pemuda disadari oleh semua kalangan, sehingga mereka menjadi incaran kekuasaan.
Pemuda terbaik dalam kaca mata Islam lahir dari seorang ibu yang salehah dengan pemimpin rumah tangga yang saleh. Tentu terciptanya keluarga saleh harus ada dukungan dari pemimpin yang mengimplementasikan Islam secara menyeluruh.
Akan tetapi di era teknologi modern kini, sangat sulit menemukan seorang pemuda dengan jati diri, kepemimpinan dan pola berpikir Islami. Dua faktor penting terkait hal ini adalah kurikulum dan pengajarnya.
Kurikulum yang didapat oleh para pemuda dari sekolah maupun perkuliahan lebih dipengaruhi sekulerisme. Keahlian dunia tidak dibarengi dengan fitrahnya sebagai hamba. Sehingga ilmu yang didapatkan hanya sebatas keahlian semata tanpa tahu bagaimana implementasi untuk akhirat.
Selanjutnya adalah peran pengajarnya. Mereka disibukkan dengan administrasi yang menuntut agar kurikulum yang dirancang dapat tercapai dengan cepat. Sehingga para pengajar tidak maksimal untuk mendampingi pemuda supaya cerdas dalam berpikir jangka panjang. Para instruktur sibuk memenuhi kewajiban dan tugas administratif.
Tantangan yang amat rumit ini tidak bisa terselesaikan dengan mudah jika hanya berusaha sendiri. Harus ada andil secara sistemik untuk mengembalikan potensi para pemuda, khususnya pemuda muslim. Tentu harapan itu bukan berasal dari sistem sekuler yang memisahkan kehidupan dunia dengan agama. Sekulerisme justru memberi pengaruh negatif terhadap ruang gerak dan semangat pemuda dalam konteks berpikir.
Para pemuda masa kini banyak yang tergerus dengan budaya-budaya asing yang masuk melalui sekularisme. Sehingga terpengaruhi dengan kelakuan, penampilan dan perkataan yang mengikuti gaya kebarat-baratan. Akhak maupun adab sebagai pemuda islam perlahan tergerus bahkan hilang dari kepribadian mereka. Mereka lebih bangga dengan budaya asing sehingga tidak ditemukan pola kepemimpinan dan cara berpikir Islam dalam jiwa para pemuda muslim.
Oleh karena itu menjadi PR besar untuk membuat para pemuda paham Islam, mengajak mereka untuk ikut dalam pembinaan Islam secara intensif, membuat kajian Islam secara rutin, dan mengajak mereka turut andil mendakwahkan Islam ke seluruh lapisan masyarakat. Kemudian dari hasil pembinaan ini, diharapkan muncul cara pandang dan pemikiran-pemikiran Islam yang benar.
Bila demikian, maka akan lahirl pemuda bintang, pemuda yang paham Islam secara lengkap dengan hadits-hadits implementatif. Kekuatan Islam akan terbentuk dengan menggerakkan para pemuda menghadapi derasnya arus sekularisme.
Pemuda harus berani menyampaikan kebenaran dan mengatakan bahwa sekulerisme itu rusak dan merusak generasi pemuda. Maka dari itu, aksi menyelamatkan pemuda sebagai generasi penerus dalam upaya mencapai kejayaan peradaban Islam adalah suatu langkah penting.
Wadah yang dimaksud adalah jamaah dakwah yang memiliki visi dan misi demi melanjutkan kehidupan Islam sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah dan khulafaurrasyidiin.[]










Comment