Penulis: Santi Kartika | Aktivis Muslimah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Momentum Hardiknas sejatinya menjadi ruang refleksi untuk membangun harapan baru bagi masa depan pendidikan nasional. Namun, realitas di lapangan justru masih menyisakan berbagai ironi struktural dan kecemasan publik. Mulai dari pemangkasan anggaran pendidikan, kesejahteraan guru honorer yang masih jauh dari standar kelayakan hidup, hingga banyaknya sekolah dengan infrastruktur rusak dan keterbatasan fasilitas dasar.
Kondisi ini menunjukkan ketimpangan akses pendidikan yang hingga kini belum terselesaikan secara sistematis.
Sebagaimana dilansir Kompas.com (3/5/2026), Menteri Pendidikan Tinggi pada momentum Hardiknas 2026 sempat menyinggung evaluasi terhadap sejumlah program studi yang dinilai tidak terserap dunia industri.
Wacana tersebut memperlihatkan adanya pergeseran orientasi pendidikan ke arah kebutuhan pasar tenaga kerja. Pendidikan akhirnya berisiko direduksi hanya sebagai pencetak tenaga kerja semata. Padahal, pendidikan seharusnya menjadi sarana pembentukan peradaban dan pembinaan manusia yang bertakwa.
Sebagaimana diberitakan CNNIndonesia.com (4/5/2026), berbagai persoalan pendidikan nasional masih membayangi dunia pendidikan Indonesia, mulai dari kualitas infrastruktur sekolah hingga kesejahteraan tenaga pendidik.
Kondisi ini membuat visi Indonesia Emas 2045 dikhawatirkan hanya menjadi slogan tanpa fondasi kuat. Terlebih, berbagai kasus amoralitas di lingkungan pendidikan belakangan ini semakin menunjukkan jauhnya negeri ini dari cita-cita melahirkan generasi unggul yang berakhlak dan berintegritas.
Tempo.co (5/5/2026) melaporkan, pengurangan anggaran perpustakaan dan rendahnya budaya literasi menjadi salah satu tantangan serius dunia pendidikan nasional. Di sisi lain, kesejahteraan tenaga pendidik belum terjamin dan distribusinya masih timpang.
Lebih memprihatinkan lagi, dunia pendidikan juga tengah menghadapi krisis moral yang kian mengkhawatirkan. Kasus perundungan, kekerasan, hingga pelecehan seksual di lingkungan pendidikan menunjukkan tren peningkatan, bahkan terjadi di tingkat perguruan tinggi.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka cita-cita melahirkan generasi emas bukan hanya tertunda, tetapi berisiko gagal total.
Islam menawarkan paradigma pendidikan yang lebih komprehensif dan mendasar. Dalam Islam, ilmu ditempatkan sebagai kewajiban sekaligus jalan menuju kemuliaan. Rasulullah ﷺ bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR Ibnu Majah).
Tujuan pendidikan dalam Islam tidak semata-mata melahirkan ilmuwan atau saintis pembangunan peradaban. Pendidikan Islam bertujuan membentuk kepribadian Islam yang utuh (syakhshiyyah islamiyyah). Hal ini sejalan dengan tujuan penciptaan manusia, yakni menjadi hamba yang tunduk dan taat kepada Allah SWT.
Islam juga mewajibkan pemimpin negara untuk memuliakan ilmu, para penuntut ilmu, dan para pengajarnya. Dalam pandangan Islam, guru adalah profesi mulia yang wajib dihormati dan disejahterakan. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا، وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
“Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, bahkan semut di lubangnya dan ikan di laut, semuanya mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR At-Tirmidzi).
Hadits ini menegaskan betapa mulianya profesi guru dan orang-orang yang mengajarkan ilmu kepada manusia. Karena itu, negara berkewajiban menyediakan sistem pendidikan yang berkualitas, merata, dan didukung infrastruktur memadai.
Dalam Islam, pemimpin adalah pengurus rakyat yang bertanggung jawab penuh atas kebutuhan masyarakat, termasuk pendidikan.
Sejarah mencatat bagaimana lembaga pendidikan seperti Baitul Hikmah pada era Kekhilafahan Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia yang mendapat dukungan penuh dari negara.
Dari lembaga-lembaga tersebut lahir para ulama dan ilmuwan besar yang memberikan kontribusi luar biasa dalam berbagai disiplin ilmu.
Pendidikan Islam juga diarahkan untuk membangun kekuatan umat agar mandiri, berpengaruh secara global, serta terbebas dari penjajahan ekonomi dan ketergantungan teknologi.
Dengan landasan aqidah yang kokoh, sistem pendidikan Islam diyakini mampu melahirkan peradaban besar yang memimpin arah dunia.
Fakta sejarah menunjukkan bahwa pada masa Kekhalifahan Islam, umat Islam pernah menjadi pusat inovasi dan peradaban dunia. Para ilmuwan dan cendekiawan Muslim berhasil mewariskan khazanah ilmu pengetahuan yang hingga kini menjadi fondasi perkembangan peradaban modern.
Karena itu, jika Indonesia ingin benar-benar mewujudkan peradaban emas sekaligus menjadi negara maju dan kuat, maka pembenahan pendidikan harus dilakukan secara mendasar.
Pendidikan tidak cukup hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri, tetapi harus mampu membentuk manusia beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Dalam pandangan Islam, hal tersebut hanya dapat terwujud melalui penerapan sistem pendidikan Islam yang berlandaskan aqidah Islam. Wallahu a’lam bishshawab.[]













Comment