Prank Berujung Maut, Jejak Materialisme Akut

Opini1535 Views

 

Oleh. Ika Misfat Isdiana, Pemerhati Remaja

__________

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Sosial media kembali digemparkan dengan kasus prank berujung maut. Seorang wanita tewas karena tergelincir saat berniat membuat konten gantung diri. Belum sempat membuat konten, na’as niat awalnya terkabul.

Kejadian ini bukanlah yang pertama. Kasus prank berujung maut telah menggejala dinegri ini. Seolah eksistensi adalah segalanya. Mereka rela melakukan hal berbahaya hanya demi menghidupkan sosial medianya. Walau kematian menjadi ujung rencananya.

Sebelumnya kita mendengar kasus pelajar yang nekad menghadang truk diexit tol Gunung Putri Jabar. Aksi gila itu akhirnya merenggut nyawa pelaku. Hal itu dilakoni hanya demi konten dunia virtual semata. Dan kejadian tersebut bukanlah satu-satunya. Karena banyak aksi serupa, yakni menghadang truk demi konten didaerah lain.

Semua demi eksistensi

Kasus prank, canda yang berlebihan, konten yang berbahaya semua dibuat hanya demi meraih eksistensi. Eksistensinyapun hanya sebatas dunia maya. Dimana aktivitas yang dilakukan tidak lebih hanya demi mendapatkan perhatian publik. Baik dalam bentuk like, share, follow, admit dan sejenisnya. Aktivitas tersebut minim sekali pertimbangan yang melibatkan akal. Yang sering terjadi adalah tes ombak. Jika mendapat atensi positif dari netizen mereka merasa aman.

Namun saat mendapatkan banyak kritik dan peringatan, mereka baru mengambil langkah untuk meminta maaf lalu menghapus konten unfaedahnya.

Sungguh perilaku yang sangat pragmatis dan berbahaya. Karena mereka tidak memiliki prinsip hidup yang jelas. Mereka hanya menyandarkan nilai perbuatannya pada respon netizen yang beragam. Viral adalah penentu kebenaran, apapun aksinya.

Parahnya walaupun banyak yang kontra, mereka masih merasa aman untuk tetap memviralkan aksinya. Karena tidak adanya sanksi hukum, membuat mereka semakin menggila. Sehingga wajar jika ada aksi nyeleneh yang mengancam jiwa, namun tetap ada yang mengikutinya sebagai tren.

Sungguh materialisme akut telah mencengkram pemikiran masyarakat, khususnya pemuda saat ini. Mereka menganggap viral adalah satu-satunya tujuan hidup, yang harus diraih apapun caranya.

Miris, padahal hidup yang singkat ini membutuhkan banyak sekali peran dari para pemuda. Eksistensi mereka sangat penting untuk meneruskan eksistensi sebuah bangsa. Agar bangsa ini bisa berkembang, maju dan bermartabat. Tentunya kemajuan yang diraih bukan sebatas materi semata. Tapi maju dalam hal pola pikir dan pola sikap.

Pola pikir yang terinstal dalam memori para pemuda bukanlah materialisme. Namun pemikiran yang membuat mereka paham apa sejatinya tujuan hidup sebagai seorang manusia. Apa yang membuat manusia itu mulia dan berharga.

Dimana islam telah menunjukkan, seseorang yang paling mulia ditengah-tengah manusia adalah seseorang yang bertakwa. Dimana taqwa ini adalah manifestasi seorang manusia yang ingin mengabdi pada tuhannya dengan menjadi makhluk yang paling bermanfaat bagi sekitarnya.

Ia berusaha menjadi manusia yang berprestasi secara akademik, berakhlak mulia dilingkup sosialnya, berkontribusi dalam masyarakatnya, mengabdikan karya terbaiknya untuk kemajuan bangsa. Bisa jadi orang seperti mereka tidak viral didunia maya, karena Islam senantiasa menanamkan sikap ikhlas pada diri seorang muslim. Namun ia viral diakhirat sana.

Sebuah penampakan manusia Shalih yang dirindukan oleh masyarakat. Ditengah hampanya dunia matrealistis yang Membentuk karakter taqwa ini adalah tugas lembaga pendidikan yang sangat penting.

Agar remaja memiliki bekal yang benar dalam menyalurkan eksistensinya didunia maya. Sehingga tidak membuat konten yang mengancam keselamatan jiwa.

Selain itu, kepedulian lingkungan masyarakat juga tak kalah penting. Karena masyarakatlah tempat hidup seorang individu. Adanya kepedulian, empati dan saling mengingatkan menciptakan kontrol masyarakat yang kuat. Dalam melindungi pemuda dari tingkah yang ‘nyleneh’.

Negara juga berkontribusi dengan memberikan wadah positif bagi pemuda untuk berkarya.  Memberikan apresiasi untuk menambah semangat mereka berkontribusi positif di tengah masyarakat. Misal memfasilitasi training-training kepemudaan berbasis islam,  memberikan beasiswa atau memberi hadiah untuk mereka yang memiliki prestasi akademik dan positif dan membuat challenge yang meningkatkan ketaqwaan mereka.

Sinergi antara sekolah, masyarakat, negara dan orangtua tentunya akan bisa menuntaskan persoalan prank yang berujung maut ini.[]

Comment