Prof. Dailami Soroti Konsep dan Kriteria Abang None Jakarta 2026

Budaya32 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA –  Pemilihan Abang None Jakarta 2026 kembali menjadi perhatian setelah malam final yang digelar di Ciputra Artpreneur Theater, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (18/9/2026).

Ajang yang memasuki penyelenggaraan ke-54 itu menetapkan Herve Pierre Sidarta dari Jakarta Selatan sebagai Abang Jakarta 2026 dan Citra dari Jakarta Timur sebagai None Jakarta 2026.

Menanggapi penyelenggaraan tersebut, Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta sekaligus anggota Dewan Adat Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi, Prof. Dr. H. Dailami Firdaus, meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan penyelenggara melakukan evaluasi menyeluruh terhadap konsep serta kriteria Pemilihan Abang None Jakarta.

Prof. Dailami mengatakan, persoalan yang perlu menjadi perhatian bukan semata-mata mengenai siapa yang terpilih, melainkan bagaimana ajang tersebut tetap mampu merepresentasikan marwah dan jati diri budaya Betawi.

“Saya ingin menegaskan satu hal. Kalau kita membawa nama dan budaya Betawi, maka jati diri Betawi harus dihormati secara utuh. Jangan Betawi hanya ditampilkan melalui pakaian, kesenian, atau simbol-simbolnya, sementara nilai yang menjadi ruhnya justru ditinggalkan,” ujar Prof. Dailami, Senin (21/9/2026).

Menurut dia, budaya Betawi sejak dahulu bertumpu pada tiga pilar yang saling berkaitan, yakni agama, adab, dan adat. Karena itu, ketiga unsur tersebut dinilai perlu mendapat perhatian dalam konsep maupun proses pemilihan Abang None Jakarta.

“Karena itu, saya sangat memahami kegelisahan masyarakat dan para tokoh Betawi terhadap penyelenggaraan Abang None Jakarta tahun ini. Persoalannya bukan semata-mata siapa yang terpilih, tetapi bagaimana marwah dan jati diri Betawi tetap dijaga,” katanya.

Sementara itu, penyelenggara secara resmi menempatkan kebudayaan Betawi sebagai salah satu materi pembekalan bagi para finalis. Selain itu, materi yang diberikan mencakup Jakarta sebagai kota global, pengembangan kesenian, serta kepemanduan wisata.

Dalam penilaian final, 36 finalis yang mewakili lima kota administrasi dan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu dinilai oleh dewan juri lintas disiplin.

ANTARA melaporkan indikator penilaian meliputi pengetahuan tentang Jakarta, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, pola pikir global dan kreatif, kemampuan berkolaborasi, serta kemampuan menghadirkan solusi.

Komposisi juri juga berasal dari sejumlah bidang, antara lain kebudayaan Betawi, pemerintahan, psikologi, tata busana, public speaking dan bahasa asing, pariwisata, ekonomi kreatif, serta etiket dan kepribadian.

Dalam konteks tersebut, Prof. Dailami mengusulkan agar aspek representasi budaya Betawi diperkuat dan memiliki standar yang lebih jelas.

Ia menyampaikan tiga langkah yang dapat dipertimbangkan. Pertama, melakukan evaluasi terhadap konsep dan kriteria Abang None. Kedua, menetapkan standar representasi budaya Betawi yang berlandaskan agama, adab, dan adat. Ketiga, melibatkan ulama, tokoh adat, budayawan, serta lembaga kebetawian sejak tahap perencanaan hingga penilaian.

“Abang None jangan hanya beratribut Betawi, tetapi harus memahami, menghormati, dan mampu membawa nilai-nilai Betawi,” tegasnya.

Prof. Dailami menilai upaya menjadikan Jakarta sebagai kota global tidak harus dipertentangkan dengan upaya menjaga identitas budaya Betawi. Menurutnya, keterbukaan terhadap perkembangan zaman tetap dapat berjalan bersamaan dengan pelestarian nilai dan budaya lokal.

“Jakarta boleh mendunia, tetapi Betawi jangan kehilangan jati dirinya. Agama dijaga, adab dijunjung, dan adat dilestarikan,” tutupnya.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri dalam malam final menyampaikan bahwa Abang dan None Jakarta diharapkan menjadi representasi generasi muda yang mampu memperkenalkan budaya, kreativitas, dan potensi Jakarta kepada masyarakat nasional hingga dunia internasional.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno juga menekankan pentingnya menjaga akar budaya dan jati diri Jakarta di tengah transformasi menuju kota global.[]

Comment