Prof Didik J. Rachbini: Try Sutrisno dan Peringatan tentang Arah Reformasi Bangsa

Nasional751 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Kepergian Try Sutrisno bukan sekadar kehilangan seorang mantan wakil presiden, melainkan berpulangnya seorang negarawan yang hingga akhir hayatnya tetap memikirkan arah bangsa.

Bagi Prof. Didik J. Rachbini, sosok Pak Try adalah figur yang konsisten menjaga kewarasan diskursus kebangsaan.

“Saya memang tidak dekat secara personal, tetapi setiap kali bertemu beliau selalu menyapa dengan hangat. Itu menunjukkan keluasan jiwa seorang pemimpin,” ujar Rektor Paramadina ini  mengenang.

Menurut Didik, di usia yang tidak lagi muda, Pak Try tetap menunjukkan kejernihan berpikir. Bahkan pada 21 Juli 2025, dalam forum Pembinaan Ideologi Pancasila di Universitas Indonesia, ia masih menyampaikan kritik terbuka terhadap praktik demokrasi di Indonesia.

“Beliau mengatakan bahwa demokrasi kita sudah sangat liberal, bahkan lebih liberal dari Amerika Serikat. Itu kritik yang keras, tetapi lahir dari kegelisahan seorang negarawan,” kata Didik.

Didik menilai, kritik tersebut tidak boleh dibaca sebagai nostalgia masa lalu, melainkan sebagai peringatan atas arah reformasi yang dinilai terlalu jauh bergeser dari nilai dasar bangsa.

“Pak Try mengingatkan bahwa demokrasi hanyalah alat, bukan tujuan. Tujuannya tetap keadilan sosial dan integritas nasional sebagaimana termaktub dalam Pancasila,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pandangan Pak Try terkait perubahan sistem ketatanegaraan pasca-amandemen UUD 1945. Menurut Didik, Pak Try melihat adanya inkonsistensi antara praktik demokrasi yang berkembang dengan semangat Pembukaan UUD 1945.

“Beliau berharap ada evaluasi serius. Bukan untuk mundur ke belakang, tetapi untuk memastikan bahwa sistem kita tetap berpijak pada karakter bangsa sendiri,” jelas Didik.

Salah satu hal yang paling ditekankan Pak Try, lanjut Didik, adalah hilangnya semangat musyawarah sebagai pilar utama demokrasi Pancasila.

“Ketika arah politik hanya ditentukan oleh siklus lima tahunan dan kepentingan jangka pendek, maka kita kehilangan horizon kebangsaan,” ujarnya.

Didik bahkan menyebut bahwa kritik tersebut relevan dengan realitas hari ini. “Kita menghadapi gejala kepemimpinan transaksional. Politik menjadi arena jangka pendek. Di situlah pesan Pak Try menemukan momentumnya,” katanya.

Bagi Didik, reformasi tidak boleh identik dengan liberalisasi tanpa batas. “Reformasi harus berakar pada nilai keindonesiaan. Kalau tidak, kita hanya menjadi peniru sistem luar tanpa fondasi moral yang kuat,” ungkapnya.

Di mata Didik, warisan terbesar Pak Try bukanlah jabatan yang pernah diemban, melainkan keberanian moral untuk tetap bersuara.

“Beliau menunjukkan bahwa cinta kepada bangsa tidak berhenti setelah tidak lagi menjabat. Justru pada masa itulah suara kenegarawanan menjadi murni,” ujarnya.

Kepergian Try Sutrisno, menurut Didik, menjadi momentum refleksi nasional. “Ini saatnya kita merenungkan kembali arah demokrasi kita. Apakah sudah sejalan dengan Pancasila, atau justru semakin menjauh?” tuturnya.

Bagi Didik J. Rachbini, pertanyaan itulah yang menjadi warisan intelektual dan moral dari seorang Try Sutrisno untuk generasi bangsa hari ini.[]

Comment