by

Prof.Efrizal Umar: Kini Saatnya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Dalam konteks pembangunan, Indonesia membutuhkan sumber
energi yang lebih besar menghadapi besarnya pertumbuhan penduduk dan
pasokan energi. Dalam hal ini, terobosan untuk bisa memenuhi itu
pembangunan energi nuklir ramah lingkungan sangat dibutuhkan, khususnya
dalam rangka menunjang ketersediaan energi nasional hingga pasokan
listrik dapat terpenuhi, hingga target 23% penggunaan energi terbarukan
dari total penggunaan energi Indonesia pada tahun 2025 dapat terwujud
dengan adanya PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir).
PLTN
diharapkan mampu menggantikan sumber energi berbasis energi fosil yang
pasokannya akan habis. Prof Efrizal Umar, Deputi Bidang Sains dan
Aplikasi Tekhnologi Nuklir BATAN mengatakan, “Sumber energi berbasis
energi fosil yang pasokan akan habis. Namun memang patut disadari
semenjak era PD II, di mana bom atom dijatuhkan, maka image terhadap
nuklir konotasinya berbahaya. Karena imagenya tadi maka dianggap
berbahaya. Padahal reaksi energi nuklir terbesar itu ada di matahari.
Jadi tinggal bagaimana kita mengelolanya saja, karena itu penting.
Nuklir itu sebenarnya reaktor atom,” kata mantan kepala pusat reaktor
atom di bandung, saat menjadi narasumber Seminar Nasional
bertajuk ‘Nuklir Ramah Lingkungan Dalam Pembangunan Nasional’ yang
diadakan oleh KMI (Kaukus Muda Indonesia) di di hotel Le Meridien, jalan
Sudirman. Jakarta, Rabu (27/7).
Memang,
kondisinya setelah di Jepang mengalami musibah di Fukshima, perlahan
disana sebanyak 30-40% hilang PLTNnya, namun menurut Prof Efrizal Umar,
mungkin ada energi terbarukan yang sudah dikembangkan juga disana. PLTN
memang eranya sekarang, negara-negara berkembang mulai membangun.
Seperti di Bangladesh saja juga sudah membangun. 
“Silahkan
saja. Inilah perbandingannya tadi, asal dikelola, diikuti prosedurnya
dengan baik, tidak apa apa itu membangun PLTN. Tinggal bagaimana kita
mengelolanya saja, karena itu penting,” imbuhnya lagi menyampaikan
sembari menceritakan sewaktu dirinya sempat juga pernah ke beberapa
tempat reaktor nuklir, yang ada di di Inggris, Ontario yang berjumlah
ada 4 reaktornya dan di Perancis ada 2. 
“Namun,
bila memang energi terbarukan (seperti angin, sollar shell, ombak, air
laut, dan lainnya) telah siap. Buat apa BATAN memaksa maksa untuk
membangun ? tapi untuk membantu, memang tugas kita seperti itu,”
tambahnya lagi mengatakan.
Seperti diketahui,
beberapa negara maju di dunia seperti Jepang, Jerman, Prancis, dan
lainnya sudah mengembangan energi nuklir, dan lagi menurut data IAEA per
April 2014 mendata kalau ada sekitar 435 pembangkit listrik tenaga
nuklir yang beroperasi di 31 negara di dunia.
Dalam
acara seminar nasional bertajuk ‘Nuklir Ramah Lingkungan Dalam
Pembangunan Nasional’ yang diadakan oleh KMI (Kaukus Muda Indonesia),
nampak yang menjadi narasumber adalah Prof Efrizal Umar (Deputi Bidang
Sains dan Aplikasi Tekhnologi Nuklir BATAN), Bpk Rendroyoko (Senior
Manajer PLN Pusat), Prof. Rinaldy Dalimi (anggota Dewan Energi
Nasional/DEN), Dr. Mochamad Dimyati (Dirjen Penguatan Riset , Tekhnogi
dan Perguruan Tinggi),
Ibu Dra. Dahlia Cakrawati Sinaga, MT (Direktur Bapeten), dan
Bob
Randelawe (Direktur Bumi Indonesia) selaku Moderator, saat seminar yang
dilangsungkan di hotel Le Meridien, jalan Sudirman. Jakarta, Rabu
(27/7).
Lalu juga dalam ketentuannya, dimana
dalam UU nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional (RPJN) juga telah dinyatakan bahwa PLTN sudah beroperasi pada
2015-2019 dengan keselamatan yang ketat. Namun, hingga saat ini
pembangunan energi nuklir untuk pambangkit listrik belum menjadi
Kebijakan Nasional, hingga belum masuk dalam RUPTL (RUPTL) 2019-2025.
Padahal dari sisi teknis operasional dan pengalaman, Indonesia sudah
siap untuk melaksanakannya. Disinilah dibutuhkan kebijakan politik dari
Pemerintah untuk menelurkan kebijakan tentang nuklir setelah tentunya
ada perhitungan baik dari sisi tekhnologi, ekonomi, dan keamanan dan
keselamatan bagi lingkungan di sekitar daerah pengembangan reaktor
nuklir.
Selanjutnya, pada kesempatan dan waktu
yang sama, Bpk Rendroyoko, selaku Senior Manajer PLN Pusat saat menjadi
narasumber menyampaikan bahwa pengembangan PLTN, bila ditinjau dari sisi
Offtakkeer.”Ini adalah merupakan overview PLN, dimana yang sejauh sudah
mengoperasikan energi listrik dan diusahakan sesuai standard. Yang mana
sejumlah 75% generate sendiri, dan 25% hasil kerjasama, ” tuturnya.
“Memang
selama ini menggunakan coal (batu bara), minyak bumi dan gas alam untuk
pembangkit tenaga listrik. Dan patut juga disadari jumlah pelanggan
(konsumer) sudah makin naik jumlahnya juga,” ungkapnya menjelaskan.
“Nuclear
Power Plant (pembangkit listrik tenaga nuklir) sudah menjadi pilihan
dasar kita, kalau pilihan terakhir kita sudah membuka. Dimana dari sisi
regulasi sudah memungkinkan itu, dan lagi secara neraca energi nasional
selalu kami support yang kuat. Namun harganya diharapkan lebih
terjangkau. “imbuhnya.
Sedangkan, sementara itu
Prof. Rinaldy Dalimi selaku perwakilan anggota Dewan Energi Nasional
(DEN), mengatakan beberapa aspek ekonomi, anggaran, kesiapan SDM, bahkan
bisnis sudah acapkali menjadi rangkaian pembahasan mengenai nuklir ini.
Yang
memang ada kebijakan baru di dalam energi nuklir, dimana telah dimulai
baru 5 tahun yang lalu, bahkan saat sidang pleno di DPR RI saja masih
menjadi perdebatan.
“BATAN, Perguruan Tinggi
(PT), LSM, PLN dimana perbedaan pendapat seperti hitam-putih. Hasilnya
nol, akhirnya keputusan terakhir sepakat dengan itu. Penting menjadi
catatan adalah Kemandirian, dan Ketahanan Energi. Dimana kemandirian,
menggunakan potensi energi dalam negeri, sedang ketahanan energi, bahwa
kita mesti dengan sadar peraturan perundangan dimana harus menjamin dan
harga terjangkau. Biarkan pengambil keputusan, memutuskan dengan hasil
sebenarnya. Jadi saya katakan Energi Nuklir sebagai Pilihan Terakhir, ”
kata anggota DEN (Dewan Energi Nasional) yang mana ketuanya langsung
dibawahi oleh Presiden, dan ada 7 menteri,serta ada 8 stakehoulder di
dalamnya tergabung.
Subsidi energi akan bisa
menjadi keniscayaan apabila masyarakat belum bisa mecapai ketahanan
nasional.” Maka itu perlu maksimalkan energi baru, dan minimalkan
penggunaan minyak. Penting untuk dicatat, Nuklir dikeluarkan dari opsi
energi baru. Kita keluarkan ketentuan, dan ini keputusan nasional. Untuk
di negara besar (maju) saat ini tengah mengembangkan dan mempelajari
tekhnologi Fusi, mempelajari bahan bakar dari air berat. Tepatkah bila
kita memilih PLTN menjadi pilihan terakhir ?,” pungkasnya.[Nicholas]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 3 =

Rekomendasi Berita