by

Ricky Perdana Khawatir Dan Miris Dengan Penegakkan Hukum Di Indonesia

Ricky Perdana saat beradegan sebagai Wijaya di film Hitam Putih Keadilan.[Suroto/radarindonesianews.com]

 

RADARINDONESIANEWS.COM, CIREBON – Artis dan aktor Ricky Perdana yang telah malang melintang di dunia hiburan, kini tampil memerankan tokoh
Wijaya dengan karakter antagonis yang belum pernah dilakoni dalam film sebelumnya.
“Aku berperan sebagai Wijaya, seorang mafia dan koruptor dengan karakter sebagai seorang bos.” Ujar Ricky Perdana usai pengambilan adegan di Cirebon, Senin (12/12).
Tokoh Wijaya yang diperankan pesinetron yang sudah familiar di kalangan pemirsa terutama kaum hawa ini, sangat licin dan sulit ditangkap oleh penegak hukum. Sebagai bos, lanjut Ricky, tokoh Wijaya yang diperankan
sebagai bos itu tidak percaya dengan sang anak buah yang asal bapak senang
alias ABS itu.
Ricky mengakui perannya sebagai Wijaya di film Hitam Putih Keadilan garapan sutradara Pradipta Dewabrata ini belum pernah dilakoni dalam film yang diperankan sebelumnya. Namun dirinya melakukan pendalaman dari film God Father dan film-film China dengan tokoh mafia.
Wijaya adalah tokoh dengan karakter yang sangat ganas. Sebagai pengusaha kaya namun culas dengan kelakuannya yang korup dan tak segan membunuh. Siapa saja bisa dibunuh melalui anak buah dan kaki tangannya tanpa kecuali. Penegak hukum seperti pengacara, hakim dan jaksa juga bisa dihabisi tanpa rasa takut. Tokoh Wijaya memang sangat ditakuti karena hubungan dekat dengan para pejabat yang memiliki pengaruh kuat.
Namun dalam film Hitam Putih Keadilan yang dibintanginya ini, sosok Wijaya sepertinya menjadi alur utama di mana terjadi pergumulan dan pergolakan dua hati, antara penegakkan keadilan dan vonis hukum yang harus dijatuhkan kepada saudara. Hubungan Wijaya dan Bagas sebagai jaksa penuntut umum ternyata sebagai adik dan kakak ipar. Isteri Bagas, sang jaksa, adalah adik
Wijaya yang dikenal sebagai sosok penjahat dan selama ini sulit dijamah hukum.
“Di sinilah terjadi klimaks antara hati yang memperjuangkan nilai keadilan dan keluarga yang melakukan kejahatan.” Ujar Ricky.
Pergolakan bathin juga terjadi terhadap isteri Bagas yang menjadi jaksa terkait penegakkan hukum sebagai tugas sang suami. Ada lirih dalam hati Lestari. Bagaimana tidak? Di satu sisi, Bagas, suami Lestari itu seorang jaksa yang harus menegakkan hukum dan di sisi lain, Wijaya adalah kakak Lestari yang baru bertemu setelah puluhan tahun terpisahkan. Sebuah pilihan yang sangat berat dan tidak mudah bagi seorang wanita.
Namun, Lestari pada akhirnya lebih memilih untuk mendorong Bagas, suaminya yang berprofesi sebagai jaksa itu untuk melaksanakan tugas sebaik-baiknya. Hitam tidak akan pernah menjadi putih dan putih tidak akan
menjadi hitam.
Berbeda dengan pesan yang disampaikan dalam film ini, Ricky Perdana  agak khawatir dan miris melihat ketidakadilan yang terjadi. Hukum di Indonesia katanya, tajam ke bawah tumpul ke atas. Kalau orang atas yang melakukan kesalahan, kasusnya menguap begitu saja namun bila rakyat kecil yang melakukan kesalahan langsung diadili dan ditahan. Ricky mencontohkan bagaimana hukum tidak tajam terhadap pelaku yang menabrak
motor di Gandaria City beberapa waktu lalu hingga tergilas.
“Dalam penegakkan hukum, seorang jaksa hendaknya menuntut sesuai prosedur hukum, hakim menghakimi sesuai hukum dan untuk pengacara, kalau sudah tahu salah, ga usah membela banget. Karena yang namanya
salah berurusan nanti dengan yang di atas (Allah SWT,red).” Ujar Ricky.
Ricky berharap agar masyarakat menonton film ini sehingga mengerti peran dan tugas seorang jaksa dan hakim dalam proses penegakkan
keadilan.[GF]

Comment