by

Riza Maries, S.Pd: Kebersamaan Membahagiakan VS Kebersamaan Membahayakan

Riza Maries, S.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Saat ini gema khilafah menggaung menjadi pembicaraan oleh semua kalangan tanpa batas umur, latar belakang pendidikan maupun sosial kemasyarakatan. Banyak orang yang mencari tahu apa itu khilafah dan banyak pula yang turut memperjuangkannya. Namun tak sedikit orang yang berusaha menghalangi tegaknya khilafah, padahal orang yang menghalangi ini mengerti bahwa khilafah bagian dari Islam.
Tuduhan keji yang dialamatkan kepada khilafah pun beraneka ragam tak berdasar apalagi berdalil. Tuduhan yang sering digunakan untuk mengadu domba salah satunya pluralisme. Mereka mengatakan bahwa khilafah akan membumi hanguskan non muslim, akan memaksa mereka masuk Islam dan sebagai warga negara hak-hak mereka akan dirampas.
Masyarkat dalam khilafah sangat plural atau sangat beragam namun bukan pluralisme. Plural dan pluralisme, keduanya tampak sama. Tetapi keduanya memiliki makna yang berbeda. Plural artinya beraneka ragam. Sedangkan pluralisme sendiri merupakan suatu paham yang menyamakan kedudukan setiap keyakinan. Paham pluralisme sangat bertentangan dengan apa yang menjadi akidah dari setiap ajaran. Apabila pluralisme ini diterapkan akan berbahaya bagi keberagaman kehidupan manusia karena bisa terjadi bias antara yang haq dan yang bathil. Jangan heran jika LGBT tumbuh subur, aliran sesat dan pemikiran-pemikiran kufur bermunculan.
Plural adalah suatu keniscayaan karena sangat jelas bahwa kita terlahir berbeda-beda. Allah SWT berfirman dalam surat Al Hujaray ayat 13 : “Hai manusia, sesunggunya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal”
Sejarah telah mencatat bahwa khilafah Islam pernah memberikan kenyamanan dan keamanan kepada masyarakatnya yang memiliki latar belakang yang berbeda termasuk perbedaan agama. T. W. Arnold dalam bukunya Eaching of Islam menuliskan perlakuan khilafah Ustmani terhadal masyarakatnya yang tidak beragama Islam. Toleransi keagamaan diberikan pada mereka dan perlindungan jiwa dan harta yang mereka dapatkan membuat mereka mengakui kepemimpinan Sultan atas seluruh umat kristen.
Di dalam khilafah ahlu dzimmi (masyarakat yang beragama selain islam) diperbolehkan menjalankan segala aturan agama mereka dalam wilayah yang diatur oleh syariat. Bahkan darah mereka pun dilindungi. Rosulullah saw bersabda : “Barang siapa membunuh seorang muahid (kafir yang mendapatkan jaminan keamanan) tanpa alasan yang haq, maka ia tidak akan mencium wangi surga, bahkan jarak empat luluh tahun perjalanan sekalipun”. (HR. Ahmad)
Sedangkan untuk seluruh fasilitas umum seperti pendidikan, kesehatan, hukum dan sebagainya semua dijamin untuk semua lapisan masyarakat khilafah. Khilafah akan mengayomi sehingga apa pun agamanya akan hidup sejahtera dan rukun.
Islam merupakan agama rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam. Bukan hanya manusi yang dilindungi dan dipenuhi kebutuhan hidunya bahkan tumbuhan dan hewan pun hidupnya terjamin. Maka tidak ada yang perlu ditakutkan jika khilafah yang merupakan bagian dari Islam tegak berdiri. Wallahu a’lam bi ashashawab.[]
Penulis adalah lulusan S1 Pendidikan Guru SD, staf pengajar di SD Koiru Ummah, Sukabumi

Comment

Rekomendasi Berita