Ruang Aman dan Empathi dalam Majlis Ilmu

Opini1590 Views

 

Penulis: Rizka Adiatmadja | Praktisi Parenting, Homeschooling, dan Penulis Buku

 

RADARINDONESIANEWS COM, JAKARTA — Di banyak majelis ilmu, kita melihat wajah-wajah teduh, mushaf di pangkuan, pena di tangan. Sekilas tampak damai, seolah dunia luar tak lagi mengganggu. Tapi siapa yang tahu, beban apa yang pulang bersama mereka setelah halakah usai?

Mengaji tidak menghapus fakta bahwa mereka tetap manusia. Hafal ayat-ayat Al-Qur’an bukan berarti bebas gelisah saat malam tiba. Bisa saja mereka fasih bicara sabar dan tawakal, namun masih menyimpan luka masa kecil yang belum sembuh.

Di balik kerudung rapi dan jubah panjang, ada yang menyimpan trauma, dihantui insomnia, atau merasa hampa meski zikir tak pernah putus. Ini bukan soal kurang iman. Jiwa manusia jauh lebih kompleks dari sekadar hitungan pahala dan dosa.

Musyrif, murabbi, atau guru pembimbing bukan sekadar penjaga ilmu. Mereka—sadar atau tidak—memegang kunci untuk menjaga kesehatan mental para muridnya. Nasihat keras bisa jadi beban tambahan bagi hati yang sedang rapuh. Semangat yang redup bukan selalu tanda malas, bisa jadi itu tanda sedang berjuang dalam diam.

Kita terlalu sering menyederhanakan: “Kurang iman, makanya overthinking.” atau “Kurang syukur, makanya cemas.” Padahal, kalimat seperti itu justru bisa memutus jembatan kepercayaan. Tidak semua masalah jiwa berasal dari lemahnya ibadah.

Bisa jadi penyebabnya biologis—ketidakseimbangan kimia otak. Atau faktor sosial dari lingkungan yang menekan. Mungkin juga luka psikologis akibat kekerasan atau kehilangan yang tak pernah terungkap. Ditambah sistem hidup sekuler dan kapitalistik yang kerap menjauhkan manusia dari fitrah pikir dan rasa.

Di titik inilah peran pembimbing menjadi penting. Ya, ajarkan ayat. Ya, dorong ibadah. Tapi juga sediakan ruang aman. Tempat di mana murid bisa menangis tanpa takut dicap lemah. Ruang di mana kalimat pertama bukan, “Kamu harus lebih banyak tahajud,” tapi, “Kamu ingin bercerita? Aku siap mendengar.”

Bukankah Allah pun mengingatkan,
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159).

Jika upaya rohani belum cukup, tak mengapa merekomendasikan bantuan profesional. Psikolog dan psikiater bukan tandingan ruqyah dan doa—keduanya bisa saling melengkapi. Hal yang ingin kita jaga bukan hanya iman, tapi juga kesehatan jiwa.

Majelis, halakah, harakah—semua akan lebih kuat jika ditopang empati. Karena jamaah bukan hanya kumpulan hafalan, tapi himpunan hati. Hati yang retak, kadang butuh lebih dari sekadar dalil untuk kembali utuh.

Bayangkan jika para guru mulai peka dan mau belajar ilmu kejiwaan dasar. Mau berkata, “Tak apa merasa lemah. Itu bukan dosa. Itu manusiawi. Mari kita cari cara untuk bangkit bersama.”

Akan lahir generasi yang bukan hanya paham syariat tapi juga sehat mentalnya. Bukan hanya hafal ayat jihad, tapi juga bisa memeluk saudaranya yang sedang berperang melawan diri sendiri.

Mengaji menuntun kita kepada Allah dan kepedulian kepada sesama adalah buah dari ilmu sejati. Sebab iman tak membuat kita kebal terhadap rasa sakit. Iman justru mengajarkan untuk peduli pada luka sesama umat.

Semoga kita tak hanya mencetak kader cerdas, tapi juga membentuk jiwa-jiwa yang selamat. Semoga para guru tak hanya fasih berbicara, tapi juga ahli mendengar. Wallahu a’lam bisshawab.[]

Comment