by

Sa’adah, S.Pd: Islam Politik; Identitas Ter-Istimewa

Sa’adah, S.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Akhir-akhir ini perpolitikan Indonesia kian memanas, kenapa tidak, pilpres 2019 sudah didepan mata. Masyarakat pun harap-harap cemas siapa yang akan menjadi pemimpin Indonesia lima tahun mendatang (2019-2024). Pun dua kubu paslon yang tak hentinya gencar berkampanye jelang pesta demokrasi yang akan digelar pertengahan April nanti. 
Kedua paslon baik kubu 01 ataupun 02 telah melakukan kampanye akbar disejumlah daerah. Seolah menjadi momok yang menakutkan, kampanye akbar yang digelar oleh paslon nomor urut 02 Prabowo-Sandi mengundang sorotan sekaligus kritik dan saran dari salah satu politisi ternama sekaligus mantan presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono terkait urutan acara kampanye akbar sebelum digelar. “Pak SBY mengingatkan. Hari ini kita perhatikan apa yang wujud dalam kampanye hari ini sudah mengikuti apa yang kira-kira diingatkan oleh Pak SBY,” kata Ketua Dewan Kehormatan PD Amir Syamsuddin kepada wartawan, Minggu (7/4/2019). Amir mengatakan selama ini bergulir kesan politik identitas sudah sedemikian massifnya. SBY, kata Amir, khawatir kesan politik identitas itu mencapai puncaknya di kampanya akbar Prabowo-Sandi. (detik.com) 
Selain itu, SBY mengingatkan agar kampanye akbar yang digelar Prabowo-Sandi tidak menunjukkan identitas politik tertentu. Ia juga menyampaikan bahwa tak ingin Prabowo dikesankan sebagai sosok pembela Khilafah, sementara Jokowi dikaitkan dengan kelompok komunis. SBY menegaskan narasi itu menyesatkan. “Tinggalkan dan bebaskan negeri ini dari benturan indentitas dan ideologi yang kelewat keras dan juga membahayakan. Gantilah dengan platform, visi, misi dan solusi. Tentu dengan bahasa yang mudah dimegerti rakyat. Sepanjang masa kampanye, bukan hanya pada saat debat saja,” ungkap SBY. (kompas.com)
Begitulah kiranya perpolitikan demokrasi kapitalis yang membuat hati miris, alih-alih mendukung persatuan umat karena menginginkan kesejahteraan dibawah Islam malah justru men-cap serangkaian aktivitas diatas sebagai identitas politik tertentu, yakni Islam yang dianggap menyeramkan. Pemikiran dan Ideologi Islam yang ‘amiqat pun mustanir (mendalam dan cemerlang), yang mampu membangkitkan kesadaran politik kaum muslimin pun kerap ditakuti para pengusung demokrasi kapitalisme. Upaya massif pun dilakukan untuk menjauhkan umat dari aktivitas politik hakiki. 
Inilah keistimewaan identitas politik Islam yang notabene menjadikan umat sadar dibawah satu pemikiran hingga menginginkan solusi yang satu, Islam Kaffah. Kesadaran politik umat kini harus semakin dimassifkan dengan pemahaman yang benar (islam), bukan pemahaman yang bersifat pragmatis. Hanya Khilafah Islamiyyah lah yang mampu mengoptimalkan sepenuhnya kesadaran politik sekaligus aktivitas politik hakiki dibenak umat, dengan diterapkannya syariat Islam dalam kehidupan. 
Takkan ada lagi ketakutan atau framing negatif atas identitas politik Islam, karena sejatinya identitas politik Islam itu khas dan istimewa yang perlu dipelihara. Khilafah lah yang mampu melestarikannya. Wallahu’alam bi shawwab.[]

Penulis adalah Aktivis dan Founder Gumam Muslimah

Comment

Rekomendasi Berita