Penulis: Faiz Zahra | Mahasiswi Fakultas Dakwah, Universitas Tazkia
RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA – Pemuda adalah generasi yang kelak akan menggantikan generasi sebelumnya dalam memimpin peradaban, karena pada hakikatnya setiap manusia di dunia ini adalah pengembara dan sedang menuju tujuan yang sama yaitu kematian. Karena itulah, setiap generasi memiliki estafet perjuangan yang akan diteruskan oleh generasi setelahnya.
Berangkat dari pemahaman tersebut, kita dapat memahami mengapa membangun kualitas generasi muda bukan sekedar pilihan, akan tetapi telah menjadi sebuah kebutuhan, sebab masa depan sebuah peradaban akan sangat ditentukan oleh kualitas pemudanya hari ini.
Lantas, bagaimana realitas pemuda saat ini?
Kita tidak dapat menutup mata bahwa berbagai persoalan terus menghantui generasi muda. Angka kriminalitas, kekerasan, hingga penyimpangan perilaku menunjukkan angka yang mengkhawatirkan.
Melansir dari World Heath Organization (WHO) diperkirakan sekitar 193.000 pembunuhan terjadi setiap tahun di kalangan pemuda dengan rentang usia 15-29 tahun.
Selain itu, 1 dari 5 perempuan dan 1 dari 7 laki-laki melaporkan mengalami kekerasan seksual. Bahkan secara global, sekitar 25% anak mengalami perundungan (bullying).
Jika kita cermati lebih jauh dari berbagai fakta tersebut, terdapat satu benang merah yang saling berkaitan, yaitu karakter pada pemuda yang perlahan menghilang (loss of character).
Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar, mengapa penanaman karakter menjadi begitu penting? Jawabannya sederhana, ilmu tidak pernah berdiri sendiri.
Ia selalu bergantung pada karakter orang yang membawanya. Sehebat apa pun ilmu seseorang, ketika ia kehilangan karakter, ilmu itu pun dapat kehilangan arah.
Oleh karena itu, agama memiliki peran yang sangat krusial dalam upaya membentuk kepribadian manusia serta menanamkan tujuan penciptaan manusia, sehingga setiap ilmu yang dimiliki oleh seseorang akan memiliki orientasi yang jelas.
Namun demikian, karakter tidak terbentuk secara instan. Ia lahir melalui proses pendidikan yang panjang dengan dukungan di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
Karena itu, pendidikan dalam Islam tidak hanya dipandang sebagai sarana menambah ilmu, tetapi juga sebagai sarana membentuk kepribadian Islam (Syahsiyyah Islam).
Sayangnya, realitas pendidikan saat ini lebih banyak berorientasi pada transfer of knowledge, bukan transfer of character. Karena pendidikan saat ini tidak berdiri di ruang kosong. Ia dipengaruhi oleh sistem yang mengaturnya, sementara sistem itu sendiri dibangun di atas suatu ideologi.
Sebab, kebijakan publik yang ada pada suatu negara, termasuk pendidikan akan sangat bergantung pada ideologi yang dianut. Karena itu, ketika kapitalisme-sekulerisme menjadi ideologi yang dianut suatu negara, sektor pendidikan akan menjadi cermin dari ideologi tersebut.
Salah satu wujud nyata dari pengaruh ideologi tersebut dapat dilihat dengan pendidikan yang perlahan berubah menjadi komoditas.
Privatisasi membuat negara semakin sedikit mengambil tanggung jawab secara langsung, E.S. Savas memandang privatisasi dari perspektif politik-filosofi dan memaknainya sebagai “the act of reducing the role of government, or increasing the role of private sector, in activity or in the ownership of assets.” (tindakan mengurangi peran pemerintah, atau meningkatkan peran sektor swasta, dalam aktivitas atau kepemilikan aset), sementara komersialisasi menjadikan pendidikan dipandang sebagai investasi ekonomi, sehingga hubungan antara lembaga pendidikan dan peserta didik mulai menyerupai hubungan antara penjual dan pembeli.
Akibatnya, akses terhadap pendidikan berkualitas lebih dinikmati oleh mereka yang memiliki kemampuan dalam segi ekonomi. Bahkan ilmu pengetahuan dan keterampilan pun akhirnya lebih banyak beredar di kalangan mereka yang mampu secara ekonomi.
Tidak berhenti sampai di situ, tujuan pendidikan pun bergeser. Pendidikan lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri dan mencetak tenaga kerja yang siap memasuki pasar, sehingga karakter yang lahir dari sistem ini cenderung sekuler, materialis, individualis, dan hedonis.
Islam memandang pendidikan dengan tujuan yang jauh lebih besar, yaitu membentuk individu yang memiliki kepribadian sekaligus menguasai ilmu-ilmu kehidupan seperti sains, teknologi, matematika, dan bidang lainnya.
Output pendidikan Islam adalah lahirnya peserta didik yang kuat keimanan, mendalam pemahaman agama (tafaqquh fiddin), serta memiliki keterikatan terhadap hukum Allah, sehingga tidak hanya terciptanya individu yang bertakwa, namun juga menciptakan masyarakat yang tentram, dan saling mengingatkan.
Semua itu tidak dapat dipisahkan dari peran negara yang menjaga masyarakat melalui penerapan syariat Islam dalam berbagai aspek kehidupan, sehingga berbagai bentuk kerusakan dapat dicegah.
Lantas, apa yang bisa kita lakukan?
Sering kali kita merasa pesimis ketika mengetahui bahwa persoalan ini bersifat sistemik, namun bukan berarti kita tidak dapat melakukan hal apapun. Karena di tengah kondisi tersebut, peran keluarga menjadi teramat penting karena keluarga adalah institusi pertahanan terkecil yang menjadi benteng terakhir dalam upaya membentuk kepribadian Islam (syakhsiyyah Islam) melalui pola pikir Islam dan juga pola sikap generasi.
Hingga pada akhirnya, perjuangan mencetak generasi hari ini l terasa lebih berat. Namun selama masih ada keluarga yang berusaha menanamkan akidah, karakter, dan keteladan, harapan itu akan selalu ada. Sebab, dari rumah yang kuat akan lahir generasi yang kuat pula.[]











Comment