Namun dalam situasi panas ini ada yang tengah melakukan spekulasi gila yakni bank bank milik pemerintah dengan mengalokasikan uang kepada pada calo saham sektor pertambangan.
Tiga bank pemerintah yakni PT Bank Mandiri, PT Bank BNI, PT Bank BRI, mengalokasikan pinjaman dalam jumlah raksasa kepada Medco perusahaan milik Arifin Panigoro untuk membeli saham perusahaan tambang senilai USD 2,6 miliar dolar di Nusa Tenggara Barat. Saham tambang tersebut milik Newmont (48%) dan mitranya milik Abu rizal Bakrie (24 %). Pembelian saham yang ditenggarai illegal, melanggar UU minerba, Kontrak Karya (KK) dan banyak menyisahkan masalah ketenagakerjaan serta lingkungan hidup.
Ketiga Bank Milik pemerintah tersebut beberapa waktu lalu mengambil pinjaman senilai 3 miliar dolar, katanya untuk membangun infrastruktur, faktanya malah membiayai calo saham Arifin Panigoro. Pertanyaannya mengapa bukan Arifin Panigoro sendiri yang meminjam ke China.
Di tengah resiko kredit pertambangan yang tinggi, tindakan tiga bank BUMN adalah tindakan paling gila yang dilakukan sebuah bank di masa pemerintahan Jokowi. Mengapa dikatakan demikian? Alokasi kredit dalam jumlah besar diduga tanpa studi kelayakan yang jelas. Ini adalah transaksi yang tidak masuk akal ditengah jatuhnya harga komoditas tambang emas perak dan tembaga.
Lagipula dasar pembelian saham ini adalah deposit tambang di lokasi pertambangan baru milik Newmont namanya Elang Dodo yang berlokasi sekitar 90 km dari lokasi pertambangan lama Batu Hijau. Padahal lokasi ini adalah lokasi konflik. Newmont sendiri gagal melakukan explorasi katena camp dibakar massa.
Sementara cadangan deposit Elang Dodo belum jelas. Perlawanan masyarakat di sana terhadap tambang terus menyala. Bagaimana mungkin bank BUMN membiayai kredit dengan resiko sedemikian besar?
Publik tau bahwa transaksi pembelian saham newmont tidak terjadi dalam situasi yang normal. Newmont sendiri tengah dililit utang yang besar dan terancam bangkrut. Penyebabnya adalah jatuhnya harga komoditi tambang.
Lalu bagaimana mungkin bank pemerintah berani membiayai pembelian saham perusahaan tambang dalam turbulensi semacam ini ? Lagi pula kredit diberikan kepada calo yang pengalamannya akusisi saham tambang minyak? Para petinggi bank BUMN maksudnya apa ya? Jangan jangan ada gajah dibalik batu.[NICHOLAS]










Comment