SANFFEST 2026 Bawa Nilai Al-Qur’an ke Layar Sinema

Budaya41 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Nilai-nilai Al-Qur’an akan diterjemahkan ke layar sinema melalui Santri Film Festival (SANFFEST) 2026. Yayasan Indonesia Mengasuh Berbudaya (YIMB) bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia memperkenalkan festival bertema “The Verses in Motion” dalam konferensi pers di Ulik Cafe, Jalan Ciledug Raya Nomor 10B, Petukangan Selatan, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Senin (21/9/2026).

Memasuki tahun kedua, SANFFEST yang berlangsung September hingga Desember 2026 ini mengajak santri menggali nilai, konflik, dan pesan dalam kisah Al-Qur’an untuk diolah menjadi cerita film yang relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini.

SANFFEST 2026 tidak sekadar mendorong santri mengutip atau memvisualisasikan ayat Al-Qur’an. Festival ini mengajak peserta memahami nilai dan konflik dalam kisah-kisah Al-Qur’an, kemudian menerjemahkan esensinya ke dalam cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat hari ini.

Program SANFFEST 2026 mencakup edukasi, produksi film, kurasi, kompetisi, pemutaran, pemberian penghargaan, hingga pengembangan dan distribusi karya. Penyelenggara juga menerapkan format hibrida dengan melibatkan pesantren, santri, sineas, komunitas, media, dan industri perfilman.

Ketua YIMB Putra Gara mengatakan konferensi pers tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan SANFFEST 2026 sekaligus membuka ruang lebih luas bagi santri untuk mengembangkan kreativitas melalui medium film.

Menurut Gara, SANFFEST tidak hanya diarahkan menjadi ajang perlombaan film, tetapi juga ruang pertemuan antara dunia pesantren dengan ekosistem perfilman dan kebudayaan Indonesia.

“Sekaligus mempertemukan dunia pesantren dengan ekosistem perfilman dan kebudayaan Indonesia. Membuka ruang dialog mengenai potensi kreativitas santri dalam perfilman, serta peran film sebagai medium ekspresi budaya generasi muda Indonesia,” ujar Gara.

Ia menambahkan, SANFFEST 2026 menghadirkan kolaborasi dengan sineas nasional maupun internasional. Kolaborasi tersebut diharapkan memperluas wawasan dan pengalaman kreatif para santri sehingga mereka tidak berhenti sebagai penonton, tetapi mulai mengambil posisi sebagai pencipta karya.

Dari Ayat Menjadi Cerita

Festival Director SANFFEST 2026 Gus Achmad Ubaidillah mengatakan perkembangan teknologi digital telah mengubah cara pesan disampaikan kepada masyarakat.

“Era dakwah sudah bertransformasi dengan instrumen online. Instrumen itulah yang ingin kita maksimalkan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Menurut Ubaidillah, perubahan medium komunikasi tersebut perlu dibaca sebagai peluang bagi pesantren. Dakwah tidak lagi hanya berlangsung di ruang pengajian, mimbar, madrasah, atau masjid, tetapi juga bergerak ke ruang digital yang setiap hari diakses generasi muda.

Karena itu, film menjadi salah satu medium yang dapat menjembatani nilai-nilai pesantren dengan kehidupan generasi saat ini.

Konsep “The Verses in Motion” menempatkan Al-Qur’an sebagai sumber nilai yang diterjemahkan melalui perspektif dan pengalaman santri. Portal resmi SANFFEST menjelaskan bahwa proses kreatif dimulai dengan memilih satu kisah dalam Al-Qur’an, memahami nilai dan konfliknya, kemudian mengadaptasikan esensinya ke dalam konteks kehidupan masa kini.

Adaptasi tersebut tidak harus memindahkan latar dan peristiwa dalam kisah Al-Qur’an secara langsung. Pijakan utamanya adalah nilai, konflik, atau pelajaran yang dapat ditelusuri dari kisah tersebut.

Dengan pendekatan itu, SANFFEST mempertemukan teks dan konteks: ayat dengan realitas, pesantren dengan masyarakat, serta tradisi dengan perkembangan teknologi.

Pengalaman SANFFEST 2025

Penyelenggaraan SANFFEST 2025 menjadi modal bagi festival tahun kedua.

Pada penyelenggaraan perdana, SANFFEST dirancang sebagai ruang bagi santri untuk belajar membuat film melalui rangkaian Ta’aruf Film, workshop, produksi, kurasi dan penjurian hingga malam penghargaan. Peserta kompetisi berasal dari kelompok audiovisual pesantren yang sekurang-kurangnya terdiri atas tiga santri.

Karya-karya santri pada 2025 juga memperlihatkan beragam potensi kreatif dari lingkungan pesantren. Kementerian Agama Jawa Timur, misalnya, mencatat santri Jawa Timur meraih sejumlah penghargaan dalam SANFFEST 2025, termasuk kategori Film Cerita Terbaik, Penyutradaraan, Skenario, Sinematografi, Penyuntingan Gambar, Pengarah Artistik, Penata Suara, Penata Busana dan Rias, serta Pemeran.

SANFFEST 2025 juga mendapat perhatian pemerintah sebagai bagian dari pengembangan ekosistem kebudayaan dan perfilman. Saat peluncurannya pada September 2025, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut festival tersebut sebagai wadah ekspresi budaya sekaligus upaya mendorong lahirnya sineas dari kalangan santri.

Hadiah Rp415 Juta

Pada penyelenggaraan 2026, SANFFEST menyediakan total hadiah Rp415 juta. Pendaftaran dibuka secara gratis dan kompetisi diperuntukkan bagi kelompok audiovisual pesantren dengan sedikitnya tiga santri dalam satu tim.

Film yang dikirimkan wajib mengacu pada tema “The Verses in Motion”, berdurasi maksimal 12 menit dan menggunakan format MP4 Full HD 1080p. Peserta juga diwajibkan mengirimkan sinopsis, poster, serta materi behind the scenes (BTS).

Penyelenggara tidak memperkenankan penggunaan footage atau shot yang dibuat menggunakan AI.

Pengiriman karya dibuka sejak 10 September 2026, sedangkan batas akhir pengumpulan karya ditetapkan 1 November 2026. Tahap finalisasi kurasi dan penjurian berlangsung pada 2–10 November 2026, sebelum memasuki rangkaian screening dan awarding.

Lebih jauh, SANFFEST 2026 menempatkan karya film sebagai bagian dari perjalanan yang tidak berhenti pada kompetisi. Programnya mencakup submission, kurasi dan penjurian, screening, awarding, hingga pengembangan dan distribusi karya.

Rangkaian tersebut membangun mata rantai yang lebih panjang. Santri menemukan cerita, belajar memproduksinya, mengenal bahasa sinema, bertemu sineas dan komunitas, menghasilkan film, kemudian membuka kemungkinan agar karya tersebut menjangkau penonton yang lebih luas.

Dengan demikian, “The Verses in Motion” tidak sekadar menjadi tema festival. Konsep tersebut menjadi upaya membawa nilai-nilai yang tumbuh di lingkungan pesantren dari ruang belajar menuju layar, ruang publik, dan percakapan kebudayaan.

Dari ayat menjadi gagasan, dari gagasan menjadi cerita, dan dari cerita menjadi karya sinema yang dapat bertemu dengan masyarakat.[]

Comment