Serangan Amerika Terhadap Venezuela, Dr. Shamsi Ali, Lc, PhD: Arogansi Amerika dan Kenaifan Dunia Internasional

Internasional242 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, NEW YORK – Direktur Jamaica Muslim Center sekaligus Presiden Nusantara Foundation, Dr Shamsi Ali, Lc, PhD, menilai serangan militer Amerika Serikat terhadap Republik Venezuela sebagai bentuk arogansi kekuatan global yang terang-terangan melanggar hukum internasional dan norma hubungan antarnegara.

Demikian dikatakan Dr Shamsi Ali, Lc, PhD melalui rilis ke Redaksi, Selasa (6/1/2026).

Shamsi dalam pernyataan tersebut mengatakan bahwa tindakan Amerika menyerang sekaligus menangkap Presiden dan Ibu Negara Venezuela—sebagai preseden berbahaya bagi tatanan dunia, termasuk bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia yang selama ini menjunjung prinsip kedaulatan dan multilateralisme.

“Venezuela adalah negara berdaulat dan anggota PBB. Tindakan sepihak semacam ini bukan hanya melanggar hukum internasional, tetapi juga mencederai etika global yang selama ini diklaim Amerika sendiri,” ujar Shamsi Ali yang juga sebagai tim transisi wali kota New York Zohran Mamdani.

Shamsi menambahkan, Pemerintah Amerika Serikat berdalih bahwa serangan tersebut dilakukan atas dasar self-defense, dengan tudingan Venezuela sebagai sumber utama peredaran narkoba yang merusak masyarakat Amerika. Namun menurut Shamsi Ali, dalih tersebut tidak memiliki pijakan hukum yang kuat.

Dalam hukum internasional, lanjut Shamsi, kejahatan transnasional seperti narkotika diatur dalam konvensi PBB dan harus diselesaikan melalui mekanisme multilateral, bukan melalui serangan militer sepihak.

“Kalaupun ada persoalan narkoba lintas negara, penyelesaiannya bukan dengan hukum rimba. Dunia internasional memiliki mekanisme hukum yang jelas,” katanya.

Shamsi Ali menilai, motif utama serangan tersebut lebih didorong oleh kepentingan ekonomi dan geopolitik.

Venezuela diketahui memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, bahkan melampaui Arab Saudi. Fakta ini, menurutnya, diperkuat oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat yang secara terbuka mendorong perusahaan minyak AS untuk masuk dan mengelola sektor energi Venezuela.

Selain itu, kebijakan Venezuela yang mengekspor minyak menggunakan mata uang non-dolar kepada negara-negara seperti China dan Rusia juga disebut sebagai faktor pemicu kemarahan Washington.

“Ini bukan semata soal keamanan, tapi soal dominasi ekonomi dan politik global,” tegasnya.

Lebih jauh, Shamsi Ali menilai konflik ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika global pasca agresi Israel di Gaza. Amerika Serikat, menurutnya, kini semakin terisolasi dalam mendukung Israel, sementara resistensi masyarakat sipil dunia—including di Amerika sendiri—terus menguat.

Kondisi ini, kata Shamsi Ali, perlu menjadi perhatian serius negara-negara berpenduduk Muslim besar seperti Indonesia.

“Indonesia dan dunia Islam harus bersuara lebih tegas. Diamnya komunitas internasional hanya akan memperpanjang siklus ketidakadilan global,” ujarnya.

Menariknya, Shamsi Ali juga menyoroti adanya perbedaan sikap antara pemerintah Amerika dan masyarakat sipilnya. Gelombang protes terhadap kebijakan luar negeri AS, termasuk penolakan terhadap serangan ke Venezuela, terus bermunculan.

Bahkan, salah satu tokoh yang secara terbuka menyuarakan penolakan adalah Zohran Mamdani, Wali Kota Muslim pertama New York yang baru menjabat beberapa hari.

“Ini menunjukkan bahwa nurani masyarakat Amerika masih hidup, meski kebijakan negaranya kerap melenceng,” kata Shamsi Ali.

Shamsi Ali menutup pernyataannya dengan peringatan bahwa pembiaran terhadap tindakan sepihak Amerika akan menjadi ancaman serius bagi kedaulatan negara-negara lain.

“Jika hukum internasional terus diabaikan, maka tidak ada negara yang benar-benar aman, termasuk negara-negara di Asia Tenggara,” pungkasnya.[]

Comment