by

SW. Retnani, S.Pd: Politisasi Agama dan Ulama

SW. Retnani, S.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Jakarta pernah menjadi saksi bisu berkumpulnya kaum muslim dari berbagai belahan wilayah negara Republik Indonesia. Peristiwa dahsyat yang mampu mendatangkan jutaan manusia dengan tujuan satu, yakni membela Islam dari fitnah keji dan penistaan agama oleh seseorang yang beragama non muslim. Peristiwa 212 yang telah mempererat ukhuwah islamiyah di nusantara ini, membuktikan bahwa Islam ada dan kaum muslim peduli terhadap agamanya serta pembuktian adanya Amar ma’ruf nahi mungkar.
Allah SWT berfirman:
وَلْتَكُنْ  مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ  عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ  وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 104).
Persaudaraan alumni 212 kini telah digadang-gadang untuk menjadi tim pendukung calon presiden 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Seperti dilansir dari m.detik.com bahwa Tim Kampanye Nasional (TKN)Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Aminmenyebut alumni 212 sebagai bagian dari gerakan politik pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Persaudaraan Alumni (PA) 212 menyatakan mereka akan berjuang untuk Prabowo-Sandi karena patuh pada ulama.
Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif mengatakan keputusan ini diambil terkait ijtimak ulama yang sudah digelar. Alumni 212 taat dan patuh pada ulama sehingga akan berjuang untuk memenangkan capres dan cawapres hasil ijtimak ulama, yaitu Prabowo-Sandi, untuk perubahan yang lebih baik bagi Indonesia menuju Indonesia adil dan makmur. Kata Slamet lewat pesan singkat, Jumat (5/4/2019).
Sebelumnya, Ketua Media Center PA 212 Novel Bamukmin menyebut TKN panik karena gerakannya mampu mengumpulkan jutaan orang. Novel menyebut Alumni 212 memiliki semangat melawan penista agama.
Saya rasa apa yang dikatakan takut hanya bentuk kepanikan saja karena hanya para Alumni 212 dan simpatisannya yang bisa mengumpulkan orang sampai jutaan. Kata Ketua Media Center PA 212 Novel Bamukmin kepada wartawan, Jumat (5/4).
Di tahun politik ini, para Alumni 212 dan simpatisannnya tentu akan memberikan aspirasi politiknya atau memberikan suara. Tentu yang sejalan dengan roh Aksi 212, yaitu melawan penista agama dan pendukungnya. Perjuangan kami jelas berada di kubu yang akan melawan kubu kelompok pendukung penista agama.
Novel menanggapi ucapan juru bicara TKN Jokowi-Ma’ruf, Ace Hasan Syadzily, soal diundangnya alumni 212 ke kampanye akbar Prabowo-Sandi pada Minggu (7/4) nanti. Ace menyebut kini makin jelas Alumni 212 merupakan gerakan politik untuk Prabowo-Sandi.
Memang dari sejak awal sudah makin jelas bahwa Alumni 212 itu bagian dari gerakan politik untuk 02. Mereka mempolitisasi berbagai gerakan, seperti alumni 212 ini, untuk kepentingan politik. Kata juru bicara TKN Ace Hasan Syadzily kepada wartawan, Jumat (5/4).
Politisasi Islam dalam ranah demokrasi tidak sungguh-sungguh menggunakan Islam sebagai standar. Islam hanya berfungsi sebagai pemanis luarnya saja. Demokrasi hanya menjadikan Islam sebagai penarik masa, sebab dengan rayuan yang berbau Islam akan lebih menarik perhatian umat, yang notabene penduduk Indonesia mayoritas nya adalah muslim.
Beberapa contoh bukti nyata demokrasi telah meradikalisasikan Islam dan kaum muslim.  Yaitu, dengan terjadinya kriminalitas ulama, pembiaran terhadap orang-orang non muslim yang menyerang ajaran- ajaran Islam. Seperti mencitra burukkan hukum- hukum penerapan syariat Islam.
Demokrasi dan antek-anteknya juga telah merekayasa tuduhan negatif terhadap hukum syara misalnya hukum jilbab, jihad, dakwah Amar ma’ruf nahi mungkar, riba, Khilafah dan lain-lain. Yang lebih ekstrim lagi, demokrasi selalu membuka jalan bagi para pembenci Islam dan kroni-kroninya untuk menindas dan menghabisi kaum muslim.
Lihatlah, kaum Muslim di Palestina, Suriah, Rohingya, Uyghur, China, New Zealand, Yaman, Irak, Mesir dan bahkan di negeri kita sendiri. Ustadz Abdul Somad yang telah di fitnah, Habib Rizieq Shihab yang telah dicemarkan nama baiknya dengan tuduhan-tuduhan yang tak terbukti, Ustadz Ismail Yusanto yang selalu disudutkan dan lain-lain. Ulama dimusuhi dan diadu domba, dakwah Islam dibubarkan. Umat Islam harus membuka mata atas ketidakadilan dan kezaliman ini. Mereka pikir cara jahat, kotor dan licik bisa menghentikan kebenaran. Kebenaran itu adalah cahaya. Cahaya tak mungkin bisa dipadamkan, apalagi Cahaya Ilahi.
Allah SWT berfirman:
يُرِيْدُوْنَ لِيُطْفِـئُـوْا نُوْرَ اللّٰهِ بِاَ فْوَاهِهِمْ وَاللّٰهُ مُتِمُّ نُوْرِهٖ وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُوْنَ
“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya.” (QS. As-Saff 61: Ayat: 8).
Jadi, apabila ada ulama yang mau berkecimpung didunia politik saat ini (dimana demokrasi dijadikan acuan utama Para penguasanya) haruslah berhati-hati dan selalu berfikir cemerlang serta mawas diri. Sebagai ulama, rentan sekali masuk ke dalam jebakan penguasa. Mereka dijadikan sebagai legitimasi kebijakan. Ulama dipolitisasi untuk kepentingan penguasa dan kekuasaan. Seringkali pula ulama hanya dijadikan “bamper” oleh para pasangan calon tertentu. Maka jangan sampai nafsu, ambisi, keinginan dan kepentingan tertentu, membutakan ulama dari tugas utamanya sebagai pewaris para nabi dan penyokong moral umat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ
“Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiallahu ‘anhu).
Ulama adalah orang-orang pilihan.
Allah SWT berfirman:
ثُمَّ اَوْرَثْنَا  الْكِتٰبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۚ  فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ ۚ   وَمِنْهُمْ مُّقْتَصِدٌ   ۚ  وَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِالْخَيْرٰتِ بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ  ذٰلِكَ  هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيْرُ 
“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.”
(QS. Fatir 35: Ayat 32).
Jangan sampai hanya gara-gara ingin terkenal di jalur politik, akhirnya sebagian ulama berkelahi dan berperang dengan para tokoh agama serta ulama yang mendukung pasangan calon lainnya. Bahkan tak segan membelokkan ayat-ayat Alquran dan hadist sebagai penguat argumen dari kepentingannya.
Fungsi ulama adalah melakukan Muhasabah Lil hukum yakni mengoreksi penguasa dalam menjalankan pemerintahannya. Jangan sampai penguasa mendzolimi, menipu menindas rakyat serta tunduk pada asing dan aseng, yang akan menghancurkan bangsa. Ulama harus mampu memberikan nasehat-nasehat kebenaran kepada seluruh umat termasuk penguasa. Sebab ulama adalah tokoh masyarakat yang memiliki pemahaman lebih mengenai agama, maka fungsi agama sebagai nasehat dan petunjuk dalam menjalankan segala aktivitas di dunia ini akan terlaksana.
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
اَلدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، قَالُوْا: لِمَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: ِللهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ، وَِلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ أَوْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ.
“Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat. Mereka (para Sahabat) bertanya: ‘Untuk siapa, wahai Rasulullah?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Imam kaum Muslimin atau Mukminin, dan bagi kaum Muslimin pada umumnya” (HR. Muslim).
Karena fungsi agama sebagai nasehat atau petunjuk hidup, maka harus direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Baik pada individu masyarakat ataupun negara.
Akan tetapi, kenyataannya agama tidak diterapkan sebagai dasar dalam menjalankan pemerintahan. Maka menjadi tugas dan kewajiban kaum muslim untuk memperjuangkan pelaksanaan dan penerapan Syariat Islam. Agar Islam tidak dipolitisasi ataupun didiskreditkan dengan tuduhan dan fitnah- fitnah keji seperti: mayoritas akan melenyapkan minoritas dan lain-lain. Sehingga nampak ketidak adilan dan Islam akan terlihat tidak mampu dalam mengurusi urusan negara.
Wahai kaum muslim, kewajiban kita lah memperjuangkan Khilafah Rasyidah ala minhaj an-nubuwwah. Sebab, selama kepemimpinan dunia dalam pangkuan Khilafah, kafir barat tidak punya kesempatan untuk menyebarkan ideologi liberalnya dan paham-paham jahat seperti: sekulerisme, demokrasi, nasionalisme, kapitalisme dan lain-lain serta kafir tidak akan bisa menguasai kekayaan alam dunia. Wahai kaum kafir Islam akan menang. Allah SWT berfirman:
هُوَ الَّذِيْۤ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ  كُلِّهٖ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ
“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik membencinya.”
(QS. As-Saff 61: Ayat 9).
Yakinlah, dengan Islam seluruh umat manusia akan selamat dan sejahtera.
Allah SWT berfirman:
وَاِذَا جَآءَكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاٰيٰتِنَا فَقُلْ سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلٰى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ  ۙ  اَنَّهٗ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوْٓءًۢا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْۢ بَعْدِهٖ وَاَصْلَحَ ۙ  فَاَنَّهٗ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Dan apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka katakanlah, Salamun ‘alaikum (selamat sejahtera untuk kamu). Tuhanmu telah menetapkan sifat kasih sayang pada diri-Nya, (yaitu) barang siapa berbuat kejahatan di antara kamu karena kebodohan, kemudian dia bertobat setelah itu dan memperbaiki diri, maka Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 54).
Dengan demikian, sistem Islam akan menjaga agama dan ulama dari politisasi kaum kuffar. Wallahu A’lam B Bishawab.[]

Comment

Rekomendasi Berita