by

60 Pelatih Daerah Siap Menjadi Pelatih Pusdiklatnas Gerakan Pramuka

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA  – Sebagai
langkah nyata meningkatkan kualitas pendidikan Kepramukaan, Pusat
Pendidikan dan Pelatihan Nasional (Pusdiklatnas) Kwartir Nasional
Gerakan Pramuka menyelenggarakan Pelatihan Pembina Pramuka tingkat
Nasional, di Taman Rekreasi Wiladatika Cibubur, Jakarta. Kegiatan
bertema “ikhlas Bakti Bina Bangsa Ber Budi Bawa Laksana” ini diikuti 60
peserta Pembina Pramuka dari 17 Kwarda atau Provinsi.
Kepala Pusdiklatnas Kwarnas, Prof. Dr.
Kak Suyatno, M.Pd dalam sambutanya mengatakan, kita inginmerekrut
pelatih Pramuka tingkat nasional di Pusdiklatnas. Peserta akan dilatih
selama empat hari, 26 – 29 Januari 2017.
“Selama ini Pusdiklatnas tidak memiliki
pelatih tetap, sehingga terpaksa mencari pelatih dari daerah, pelatihan
ini solusi dari masalah itu. Setelah dilatih kita harapkan mereka mampu
menjalankan empat pilar Pramuka; rebranding, pramuka untuk perubahan,
penataan organisasi dan jejaring.” kata Kak Suyatno, Kamis (26/01/2017).
Kak Suyatno menambahkan, Pusdiklatnas
Pramuka saat ini sudah memiliki kurikulum tetap, peserta juga akan
diberikan materi-materi modul pelatihan yang diadopsi dari WOSM dan
negara-negara lain, pelatihan pun akan dikemas menarik dengan dialog
interaktif.
Sementara itu Ketua Kwarnas Gerakan
Pramuka, Kak Adhyaksa Dault dalam sambutannya menyebut kegiatan ini
sebagai solusi kongkrit masalah kepelatihan. “Pelatihan TOT ini sudah tepat, saya ingin para peserta bisa menyampaikan, mengembangkanmateri-materi yang didapat untuk diajarkan di gugus depan.” ucap Kak Adhyaksa.
Dalam kesempatan itu, Kak Adhayaksa juga
menyampaikan dukanya atas tewasnya tiga Mapala UII Yogyakarta. Kak
Adhayaksa menduga hal ini bisa terjadi akibat tidak ada standarisasi
perekrutan anggota pencinta alam di kampus-kampus.
“Saya khawatir  ini terjadi karena tidak
ada standarisasi, ini sama saja perpeloncoaan yang ada di kota
dipindahkan ke gunung,  kalau di gunung  gak ada yang liat,  ini yang
repot. Saya gak yakin, kalau  ada kuisioner  pasti semua di cek , ini
boleh ikut dan tidak boleh ikut.” kata Adhyaksa yang sudah mendaki lebih
dari 60 gunung ini.
Adhayksa yang juga Penasehat Vanaprastha
ini berpendapat, tidak semua komunitas pecinta alam di kampus
memperlakukan hal yang sama, namun perlu dilakukan standarisasi
perekrutan anggota dan koordinasi dengan pihak kampus.
“Kasus di Mapala UII ini jangan dipukul
rata, nanti orang khawatir, nanti orang berpikir gak usah lagi masuk
Mapala padahal ini favorit di kampus, udah gak usah,  liat aja korbannya
banyak,” ucapnya.
Dia menjelaskan untuk masuk menjadi
anggota pencinta alam memang perlu ada beberapa syarat khusus dan
standar yang jelas. Misalnya di komunitas pecinta alam Wanadri  yang
memberikan banyak persyaratan untuk menjadi anggota mulai dari riwayat
kesehatan dan sebagainya.
“Kalau di Wanadri ada persyaratan yang
jelas, justru yang saya khawtir kan organisasi pencinta alam yang ada di
kampus, mereka sendiri-sendiri, jadi harus ada standarisasi yang
jelas.” ungkapnya.[PKP]

Comment

Rekomendasi Berita