by

Ummu Akmal: Anak Brutal Akibat Sistem Pendidikan Sekular

Ummu Akmal
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Belum lama Kasus kematian Pak Budi Guru Seni Rupa Sampang Madura yang dibunuh muridnya menyeruak, kini media dihebohkan dengan kasus tawuran antar remaja di Ciracas Jakarta Timur yang menewaskan 2 pelajar SD dan SMP (kompas.com, 11/2/2018).
Beberapa kasus ini sebagai bukti bahwa system pendidikan saat ini tidak berhasil alias gagal mencetak siswa menjadi anak yang berkepribadian unggul. Padahal secara konsep kurikulum saat ini yakni K13, mengedepankan pembelajaran berkarakter pada peserta didik. Tapi apa hasilnya? Tidak ada perubahan yang signifikan pada hasil cetakan system pendidikan sekarang. Hal itu bisa dibuktikan dengan fenomena remaja saat ini. Seperti kasus narkoba yang menimpa kalangan pelajar/remaja. Tahun 2017 ada sekitar 27,32% pengguna narkoba dari kalangan pelajar dan mahasiswa. (Republika.co.id,30/10/2017). 
Semua kasus kasus itu bermunculan karena sistem pendidikan sekuler kapitalistik yang diterapkan saat ini. Ada upaya pemisahan antara agama dari kehidupan. Jika ingin belajar agama maka dibuatkan tempat khusus yaitu sekolah berbasis agama atau pondok pesantren. Jika ingin sekolah berbasiskan keahlian maka di SMK dan jika ingin mencari sekolah yang berbasiskan pengetahuan di SMA tempatnya. Guru ketika mengajar mau tidak mau harus dikendalikan oleh kurikulum yang ada. Dengan batasan waktu yang ditentukan, semua materi pelajaran harus tersampaikan dan tuntas dengan standar nilai yang telah ditentukan yakni sesuai kkm (kriteria ketuntasan minimal). 
Akhirnya mau tidak mau focus pembelajaran ke anak didik adalah menuntaskan kurikulum yang ada. Dalam kurikulum yang diterapkan selama ini pelajaran agama memiliki porsi yang sedikit daripada pelajaran lain seperti matematika, bahasa Indonesia, bahasa inggris. Karena tolak ukur anak berprestasi adalah dilihat dari segi itu. Masalah pembentukan kepribadian anak tidak menjadi perhatian utama. 
Ditambah lagi motivasi anak sekolah saat ini hanya difokuskan untuk mencari ijazah saja, yang kemudian digunakan untuk mencari pekerjaan. Itulah mindset berfikir masyarakat saat ini. Karena memang dibentuk oleh system seperti itu. Maka jelas sudah bahwa memang system saat ini khususnya system pendidikan ada bukan dalam rangka untuk membentuk anak berkepribadian unggul. Tapi diarahkan untuk mencetak anak hanya memiliki intelektual yang tinggi dan skill yang handal. 
Pelajaran agama tidak menjadi perhatian utama. porsinya hanya 2 jam dalam seminggu. Itupun yang dibahas sesuai kurikulum, yakni tentang rukun islam yang diulang ulang sejak SD hingga SMA ditambah hukum waris dan nikah. Padahal hukum islam sangatlah kompleks mencakup seluruh aspek kehidupan. Yang menjadi solusi atas semua permasalahan kehidupan manusia. Dan aqidah islamlah yang menjadi sandaran ketika ada permasalahan. Akhirnya ketika didera dengan permasalahan kehidupan maka bukan iman yang jadi rujukan. Tapi cara pandang kapitalis, yakni kemanfaatan dan materi yang jadi standar untuk menilai benar dan salah. Oleh karenanya wajar ketika didera masalah ekonomi misalnya maka solusinya adalah mencuri, merampok, menjadi PSK, pengedar narkoba, dan lainnya. Bahkan bunuh diri jadi pilihan terakhirnya. Karena pondasi iman yang tidak tertancap kokoh dalam jiwa.
Bukti sekularnya pendidikan saat ini bisa dilihat dari output pendidikan. Ada anak pandai tapi sisi agamanya kurang. Ada anak yang sangat terampil tapi akhlaknya buruk, kurang sopan sama guru dan orang tuanya, suka minum minuman keras, terlibat narkoba, hamil di luar nikah, melakukan aborsi, tawuran dan lainnya. Bahkan ada siswa yang membunuh gurunya. Output sistem pendidikan seperti ini apa mungkin bisa diharapkan untuk menjadi arsitek peradaban cemerlang di masa depan?
Berbeda halnya dengan hasil cetakan system pendidikan islam. Yang jadi focus perhatian dalam pendidikan adalah pembentukan kepribadian islam yang tinggi dengan tidak mengesampingkan Ilmu science dan teknologi. Dalam system pendidikan islam, Asas pendidikan adalah aqidah Islam. Aqidah menjadi dasar kurikulum yang diberlakukan oleh negara. Aqidah Islam berkonsekuensi ketaatan pada syari’at Islam. Ini berarti tujuan, pelaksanaan, dan evaluasi pelaksanaan kurikulum harus terkait dengan ketaatan pada syari’at Islam. Pendidikan dianggap tidak berhasil apabila tidak menghasilkan keterikatan pada syari’at Islam pada peserta didik, walaupun mungkin membuat peserta didik menguasai ilmu pengetahuan.
Pendidikan Islam merupakan upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis yang bertujuan untuk membentuk manusia yang berkarakter, yakni: Pertama, berkepribadian Islam. Intinya, seorang Muslim harus memiliki dua aspek , yaitu pola pikir (‘aqliyyah) dan pola jiwa (nafsiyyah) yang berpijak pada aqidah Islam. Akhirnya ketika menghadapi sebuah permasalahan senantiasa merujuk pada solusi islam. Itulah yang diharapkan dari system pendidikan sekarang. Memang hanya sistem pendidikan Islamlah yang mampu mencetak pribadi sholih dan mushlih, sesuai tujuan penciptaan manusia sebagai hamba Allah sekaligus missi khalifah pemakmur bumi. Output system pendidikan islam bisa terlihat dari munculnya para cendekiawan islam seperti Ar Razi
Ar-Razi juga diketahui sebagai ilmuwan serba bisa dan dianggap sebagai salah satu ilmuwan terbesar dalam Islam. Alhazen, adalah seorang ilmuwan Islam yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Dia adalah seorang tokoh Islam yang mempelajari dan mengembangkan dunia Islam yang pertama. Ilmu tersebut kemudian berkembang dan kita mengenal sebagai ilmu kimia. Al Khindi ahli adalah ilmuwan ensiklopedi, pengarang 270 buku, ahli matematika, fisika, musik, kedokteran, farmasi, geografi, ahli filsafat Arab dan Yunani kuno. [Bersambung]
Penulis: Ummu Akmal
Pendidik Dan Pemerhati Masalah Publik

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × one =

Rekomendasi Berita