by

Ummu Dzakiyah S. Al-Faizah: Solusi Cerdas Agar Korupsi Tuntas

Ummu Dzakiyah S. Al-Faizah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Satu persatu, roda KPK melindas dan terus berputar untuk memberantas korupsi. Baru baru ini berita Kementerian Agama (Kemenag)  didera skandal korupsi jual beli jabatan lewat Ketum PPP Romahurmuziy (Rommy). Prof Hibnu Nugroho menyerukan perubahan radikal di lembaga berslogan ‘Ikhlas Beramal’ itu. Setelah itu merembet ke Menpora Imam nahrowi  juga disebut dalam persidangan dalam pembacaan berita acara pemeriksaan (BAP) seorang saksi atas nama Suradi yang merupakan Sekretaris Bidang Perencanaan dan Anggaran KONI. Menyebut Imam dengan inisial M, Suradi menyebutkan bahwa Imam menerima jatah uang sebesar Rp 1,5 Miliar. Salah satu staf Imam, Miftahul Ulum, juga disebut menerima uang suap sebesar Rp 500 juta. ( Jawapos.com 22 maret 2019) 
 Sungguh Korupsi atau rasuah (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok) harus segera di berikan solusi yang bukan hanya memangkas masalah korupsi tapi harus mematikan bibit korupsi agar benih – benih korupsi tidak tumbuh subur di Indonesia.
Lihatlah korupsi memakan siapa siapa saja. Sampai para menteri, bahkan yang memegang amanah keagamaan. Ini sungguh memalukan, sebelum korupsi itu ketahuan mereka bersembunyi dibalik jargon “saya cinta NKRI, NKRI harga mati, saya Pancasila“ sungguh miris  Buah penerapan demokrasi yang rusak dan bathil ini. 
Ahirnya ada statemen apakah cinta NKRI dg korupsi? Apa orang-orang yang mengaku paling Pancasilais itu hanya sebagai topeng untuk menutupi kebusukanya dimata rakyat? Atau masih banyak lagi tuduhan buruk di sanubari rakyat untuk penguasa yang berujung pada tidak percayanya lagi rakyat pada penguasa. 
Yang kita pahami saat ini korupsi dalam wadah demokrasi subur bagai jamur yg takkan pupus. Dimana pejabat negara terjerat korupsi secara berulang dan massif, dan dengan melihat orang- orang berkopyah bersorban yang tau agama tidak ada jaminan akan selamat dari korupsi, karena demokrasi menghalalkan segala cara. 
solusi cerdas agar korupsi tuntas hanya jika kita mau kembali kpd sistem Islam, mska sungguh korupsi dapat dihentikan secara tuntas. Kemudian yang jadi pertanyaan bagaimana Islam memberikan solusi untuk masalah korupsi ini? 
Berikut beberapa solusi cerdas agar korupsi tuntas dalam sistem Islam:  
Pertama, Dasar Aqidah Islam.
Inilah yang melahirkan kesadaran bahwa manusia senantiasa diawasi oleh Allah dan melahirkan ketaqwaan pada diri politisi, pejabat, aparat, pegawai, dan masyarakat.  Hal ini melahirkan kontrol dan pengawasan internal yang built in menyatu dalam diri pemimpin, politisi, pejabat, aparatur dan pegawai, yang bisa mencegah mereka untuk korupsi. 
Kedua, Sistem Politik Islam.
Sistem politik Islam termasuk dalam hal pemilihan pejabat dan kepala daerah, tidak pakai mahal.  Perlu kita ketahui bahwa salah satu faktor maraknya korupsi yaitu untuk mengembalikan modal biaya politik. Untuk bisa menjadi pejabat negara harus ada mahar, harus ada biaya besar kampanye, biayanya dicari melalui hutang bahkan ada yang dari merampok, mencuri ini mengerikan sekali. Maka dalam jangka waktu selagi menjabat harus bisa segera mengembalikan modal biaya politik. 
Ketiga, politisi dan proses politik, kekuasaan dan pemerintahan tidak bergantung dan tak tersandera oleh parpol. 
Peran parpol dalam Islam adalah fokus dalam mendakwahkan Islam, amar ma’ruf dan nahyi munkar atau mengoreksi dan mengontrol penguasa. 
Keempat, struktur dalam system Islam, semuanya berada dalam satu kepemimpinan kepala negara yakni imam atau khalifah, sehingga ketidakpaduan antar instansi dan lembaga bisa diminimalisir bahkan tidak terjadi. 
Kelima, praktek korupsi, andai terjadi, bisa diberantas dengan sistem hukum syariah, bahkan dicegah agar tidak terjadi.
Dalam syariah, kriteria harta ghulul, yakni harta yang diperoleh secara illegal itu jelas.  Harta yang diambil/ditilap di luar imbalan legal; harta yang diperoleh karena faktor jabatan, tugas, posisi, kekuasaan (sekalipun disebut hadiah) harta pejabat, aparat dan sebagainya yang melebihi kewajaran yang tidak bisa dibuktikan diperoleh secara legal; semua itu termasuk harta ghulul.  Di akhirat akan mendatangkan azab. Maka akan ada sanksi dalam Islam bagi pelaku korupsi.sanksinya berupa  ta’zir, yang bentuk dan kadar sanksi atas tindakan korupsi diserahkan pada ijtihad khalifah atau qadhi (hakim).  Sanksi Bisa dengan pensitaan seperti yang dilakukan khalifah Umar, atau tasyhir (diekspos), penjara, hingga hukuman mati dengan mempertimbangkan dampak, kerugian bagi negara dan dhararnya bagi masyarakat.
maka dengan sistem Islam, pemberantasan korupsi bisa benar-benar dilakukan secara cerdas hingga tuntas. Aturan Islam ini lengkap dan efektif dalam menangani masalah tindak pidana korupsi.  Islam menyelesaikan masalah dari hal yang mendasar sampai cabangnya.  Sistem Islam juga memiliki cara dalam pencegahan, hingga penyelesaian.
Ingatlah Allah berfirman:
 “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki. Siapakah yang lebih baik hukumnya bagi orang-orang yang yakin? (QS. Al-Maidah: 50).
Oleh karena itu, mari kita perjuangkan penerapan sistem Islam ini, yang bisa membawa umat kepada keberkahan dan kesejahteraan. Wallahu’alam bi ash shawab.

Penulis adalah Ibu Rumah Tangga, Sarjana Hukum di UIN Sunan Ampel Surabaya sekaligus Penulis buku “Catatan Hati Muslimah Perindu Surga “

Comment

Rekomendasi Berita