Universitas Paramadina dan Nagasaki Women’s Junior College Perkuat Persahabatan Indonesia-Jepang

Pendidikan354 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Universitas Paramadina Kampus Cipayung bersama Nagasaki Women’s Junior College dan AWINA memperkuat hubungan persahabatan Indonesia-Jepang melalui kegiatan Bridges Beyond Borders: Strengthening Friendship Through Cultural Understanding and Global Collaboration, Senin (31/8/2026).

Kegiatan yang digelar di Aula TP Rachmat, Universitas Paramadina Kampus Cipayung, itu menjadi forum pertukaran perspektif mengenai budaya, sejarah, pendidikan, dan hubungan masyarakat kedua negara.

Sejumlah pembicara hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain Ketua Program Studi Hubungan Internasional Universitas Paramadina Dr. Rizki Damayanti; dosen Hubungan Internasional Universitas Paramadina Asriana Issa Sofia, MA; Iwamoto Yoshinori dari Nagasaki Women’s Junior College; Lurah Cipayung Yulian Fathinah, S.STP.; serta Director of Marketing dan Beasiswa Universitas Paramadina sekaligus dosen Paramadina Graduate School of Diplomacy, Dr. Peni Hanggarini.

Rizki mengatakan hubungan antarnegara tidak hanya dibangun melalui diplomasi dan kerja sama antarpemerintah. Hubungan antarmanusia atau people-to-people connections, kata dia, juga memiliki peran penting.

“Hubungan antarnegara tidak hanya dibangun melalui hubungan diplomatik dan kerja sama antarpemerintah, tetapi juga melalui people-to-people connections—melalui pertemanan, pendidikan, kebudayaan, dan pengalaman yang kita bagikan bersama,” ujar Rizki.

Menurut Rizki, hubungan Indonesia dan Jepang yang telah berlangsung panjang perlu terus diperkuat melalui mutual understanding. Hal itu mencakup kemauan untuk memahami cara berpikir, berinteraksi, menghargai budaya, serta melihat dunia dari perspektif yang berbeda.

“Kami percaya, generasi muda adalah jembatan terbaik untuk membangun hubungan tersebut,” katanya.

Dalam forum itu, Asriana Issa Sofia memaparkan perjalanan hubungan Indonesia-Jepang, dari masa konflik dan pendudukan, rekonsiliasi, kerja sama pembangunan, hingga berkembang menjadi kemitraan strategis yang mencakup berbagai bidang.

Menurut Asriana, hubungan kedua negara mengalami transformasi dari pengalaman traumatis dan proses rekonsiliasi menuju kerja sama yang semakin luas. Kerja sama tersebut mencakup pembangunan, infrastruktur, teknologi, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia.

Ia juga menyoroti Fukuda Doctrine pada 1977 sebagai salah satu tonggak penting dalam hubungan Indonesia-Jepang. Doktrin tersebut menekankan hubungan yang setara dan saling menguntungkan serta mendorong penguatan hubungan antarmasyarakat melalui pertukaran budaya dan pendidikan.

“Hubungan Indonesia-Jepang pada perkembangan berikutnya juga semakin multidimensional, mencakup perdagangan, investasi, energi, infrastruktur, pendidikan, teknologi, keamanan, maritim, dan kerangka Indo-Pasifik,” kata Asriana.

Perspektif berbeda disampaikan Iwamoto Yoshinori. Ia membawa kisah keluarganya di Nagasaki, termasuk pengalaman ibunya yang selamat dari bom atom pada 9 Agustus 1945.

Iwamoto mengatakan ibunya kehilangan seluruh anggota keluarganya akibat tragedi tersebut dan kemudian menghadapi diskriminasi sebagai penyintas.

“Saya lahir karena ibu saya tidak pernah menyerah,” ujar Iwamoto.

Ia memaknai pengalaman tersebut sebagai gambaran tentang keterhubungan kehidupan antargenerasi.

“Ibu saya memberikan hidupnya kepada saya. Kehidupan beliau terhubung dengan kehidupan saya,” katanya.

Iwamoto juga mengungkapkan bahwa hubungan Nagasaki dengan Indonesia telah berlangsung selama berabad-abad. Pada masa Edo, gula dari Indonesia menjadi salah satu komoditas yang masuk ke Nagasaki melalui perdagangan internasional.

Perdagangan tersebut, menurut Iwamoto, turut memengaruhi budaya pangan di Nagasaki. Ia mengaitkannya dengan sejarah Castella, kue tradisional yang kemudian identik dengan kota tersebut.

“Saya sangat senang Universitas Paramadina dan Nagasaki Women’s Junior College dapat bersatu, melintasi batas negara, dan menyelenggarakan kegiatan seperti ini,” kata Iwamoto.

Sementara itu, Peni Hanggarini mengatakan Bridges Beyond Borders tidak berhenti pada pengenalan budaya kedua negara. Kegiatan tersebut, menurut dia, merupakan bagian dari upaya membangun jembatan persahabatan antara Indonesia dan Jepang, termasuk di kalangan generasi muda.

“Bagi Universitas Paramadina, Bridges Beyond Borders bukan sekadar tentang memperkenalkan budaya Indonesia dan Jepang, tetapi tentang membangun jembatan—jembatan persahabatan antara Indonesia dan Jepang, antara masyarakat dan generasi muda, serta antara dua budaya yang mungkin berbeda, tetapi memiliki banyak hal untuk dipelajari dan dibagikan bersama,” ujar Peni.

Menurut Peni, kegiatan tersebut sejalan dengan visi Universitas Paramadina sebagai kampus peradaban dan kampus global yang terbuka terhadap dunia. Kampus, kata dia, perlu mampu berdialog dengan masyarakat internasional sekaligus memperkenalkan Indonesia kepada dunia.

Kegiatan Bridges Beyond Borders menunjukkan bahwa hubungan Indonesia-Jepang tidak hanya bertumpu pada kerja sama antarpemerintah. Pendidikan, pertukaran budaya, pengalaman bersama, dan hubungan antarmanusia turut menjadi ruang untuk memperkuat persahabatan kedua negara, terutama di kalangan generasi muda.[]

Comment