Universitas Studiorum Vs Universitas Industriarum, Tidak Ada Salah Jurusan

Opini1622 Views

Saat ini banyak sekali tulisan yang beredar tentang jurusan kuliah apa yang nantinya akan diminati oleh industri atau dunia kerja

 

Penulis: Dr. H. J. Faisal | Pensyarah UNIDA Bogor/ Pemerhati Pendidikan dan Sosial/ Director of Logos Institute for Education and Sociology Studies (LIESS) / Anggota PJMI

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Di satu sisi, hal ini dapat memancing universitas untuk berlomba-lomba membuka jurusan atau program pendidikan (prodi) yang nantinya bisa menjadi ‘Safety Net’ para mahasiswanya setelah lulus, untuk mendapatkan pekerjaan dengan mudah.

Namun di sisi lain, secara kultural, telah terjadi pergheseran makna dari prosesn pendidikan itu sendri, yang tadinya kampus sebagai tempat untuk membuka wawasan pemikiran dan akal secara ilmiah, menjadi ‘pabrik’ tenaga kerja siap pakai.

Hal ini memang merupakan problem besar yang sedang kita hadapi dalam dunia pendidikan tinggi.

Ada semacam tarik-menarik antara fungsi ideal kampus sebagai ruang pembentukan nalar kritis dengan fungsi pragmatis kampus sebagai ‘pabrik’ tenaga kerja.

Akhirnya, komersialisasi pendidikan menjadi sesuatu yang wajar, dimana universitas kini sering dipaksa mengikuti logika pasar.

Jurusan yang dianggap “kurang menjanjikan” ditutup, sementara jurusan yang sedang tren dibuka demi menarik mahasiswa. Akibatnya pula, orientasi kampus bergeser dari mencetak manusia berpengetahuan menjadi mencetak pekerja siap pakai.

Dan menurut hemat saya, suka tidak suka, sadar atau tidak sadar, terjadilah reduksi makna belajar, dimana pendidikan yang seharusnya melatih berpikir kritis, membangun karakter, dan memperluas cakrawala intelektual, kini sering dipersempit menjadi sekadar “investasi” untuk mendapatkan pekerjaan.

Mahasiswa pun lebih fokus pada output berupa ijazah dan peluang kerja, bukan pada proses intelektual itu sendiri.

* Pergeseran Fungsi Pendidikan Tinggi Yang Sebenarnya

Jika kampus hanya mengikuti tren industri, maka bukan tidak mungkin ada bahaya besar dan resiko jangka panjang yang akan diterima oleh generasi bangsa kedepannyua nanti, yaitu jurusan yang dibuka bisa cepat usang ketika kebutuhan industri bergeser.

Padahal, kemampuan berpikir kritis, beradaptasi, dan berinovasi justru lebih tahan lama dibanding keterampilan teknis yang spesifik.

Dengan demikian, maka kebudayaan akademik akan terkikis. Kampus kehilangan peran sebagai ruang dialektika, tempat mahasiswa berdebat, bereksperimen, dan mengembangkan gagasan. Yang muncul adalah mentalitas “kuliah untuk kerja”, bukan “kuliah untuk ilmu”.

Dan di sinilah dilemma atau paradoksnya sistem pendidikan tinggi bangsa ini. Di satu sisi, para lulusan perguruan tinggi tentu saja ingin aman secara ekonomi, namun di sisi lain mereka juga haus akan makna dan relevansi ilmu.

Kampus memang seharusnya bisa menjembatani keduanya, bisa dengan cara tetap memberi bekal keterampilan kerja, tetaapi tidak mengorbankan idealisme akademik.

* Beda Tujuan Awal Pendirian Kamopus Antara Ilmuan Islam Dan Ilmuan Barat

Jadi, menurut hemat saya, narasi besar yang sedang dihadapi oleh pendidikan atau perguruan tinggi modern dalam kurun waktu satu abad terakhir ini adalah, pendidikan tinggi sedang mengalami transformasi dari arena pencarian ilmu menjadi arena produksi tenaga kerja.

Pertanyaannya, apakah kita rela kampus kehilangan jati dirinya sebagai pusat peradaban dan hanya menjadi “pabrik ijazah”?

Untuk menjawab itu, mungkin kita bisa mengaitkan dengan sejarah awal berdirinya perguruan tinggi di era awal jaman keemasan Islam dulu, yaitu di abad ke-9 Masehi.

Pada waktu itu, universitas-universitas yang berlandaskan Islam lahir sebagai universitas studiorum, artinya adalah tempat orang belajar demi ilmu itu sendiri.

Namun kini, tujuan berdirinya universitas telah berubah menjadi universitas industriarum, tempat orang belajar untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, sesuai dengan tujuan pendirian universitas yang bersifat materialisme dan kapitalisme buatan negara-negara Barat non Islam.

Memang kita juga tidak bisa menutup mata terhadap kebutuhan materialisme ini, namun ketika pemenuhan kebutuhan materialisme manusia ini semuanya ‘ditarik’ paksa ke ranah pendidikan, yang dijadikan media short cut secara pragmatis tersebut, maka pendidikanlah yang akan selalu dijadikan kambing hitamnya jika terjadi kendala atau kegagalan dalam pemenuhan kebutuhan materialisme tersebut.

Dan ketika mahasiswa lulus kuliah, kemudian tidak dapat pekerjaan, maka kampusnya yang akan disalahkan.

Di titik ini kampus sering dijadikan “kambing hitam” atas problem struktural yang sebenarnya jauh lebih kompleks.

Ada semacam ilusi sosial bahwa kuliah adalah shortcut menuju pekerjaan, padahal realitas dunia kerja ditentukan oleh banyak factor, antara lain kondisi ekonomi, kebijakan industri, bahkan dinamika global.

Padahal sejatinya, kampus bukanlah biro tenaga kerja, karena memang kampus bisa memberi bekal keterampilan, tetapi bukan lembaga penyalur kerja.

Menyalahkan kampus ketika lulusan menganggur adalah bentuk simplifikasi yang menyesatkan.

Pendidikan tinggi seharusnya dilihat sebagai proses membuka potensi intelektual, kreativitas, dan daya kritis mahasiswa.

Dengan potensi itu, mereka bisa lebih adaptif menghadapi perubahan dunia kerja yang tidak pernah stabil.

Ketika kebutuhan ekonomi ditarik paksa ke ranah pendidikan, maka pendidikan akan kehilangan makna filosofisnya. Pendidikan hanya akan direduksi menjadi sekadar “alat produksi” tenaga kerja, bukan “ruang pembentukan manusia”.

Mahasiswa dan orang tua sering menganggap ijazah sebagai jaminan kerja.

Maka, ketika terjadi krisis ekspektasi terhadap ‘kesaktian ijazah’ yang dimiliki, dan apalagi ketika ekspektasi itu tidak terpenuhi, maka kampus tersebut yang akan disalahkan. Padahal, kampus hanya salah satu faktor dalam ekosistem besar yang melibatkan pemerintah, industri, dan masyarakat.

Jadi, pendidikan harus dikembalikan ke makna sejatinya, yaitu membentuk manusia berpikir, bukan sekadar pekerja. Jika tidak, kita akan terus terjebak dalam lingkaran salah kaprah, yaitu kampus disalahkan, mahasiswa kecewa, industri tidak puas, sementara akar masalahnya ada pada cara kita memaknai pendidikan itu sendiri.

Paradigma utama yang perlu dibangun adalah kesadaran bahwa kuliah bukan sekadar ticket to job, melainkan ticket to knowledge. Dengan pengetahuan, mahasiswa bisa menciptakan peluang, bukan sekadar menunggu peluang alias menyodor-menyodorkan ijazah demi mendapatkan pekerjaan.

* Realitas Dunia Kerja

Sekali lagi, realitas dunia kerja ditentukan oleh banyak factor, seperti kondisi ekonomi, kebijakan industri, kebijakan politis, bahkan dinamika global, bukan semata-mata oleh kampus atau jurusan yang dipilih mahasiswa.

Kondisi ekonomi nasional maupun global adalah faktor utama yang menentukan peluang kerja. Ketika ekonomi sedang tumbuh, lapangan kerja terbuka lebih luas, dan lulusan dari berbagai jurusan bisa lebih mudah terserap.

Sebaliknya, saat terjadi krisis atau perlambatan ekonomi, bahkan lulusan dari jurusan yang dianggap “paling menjanjikan” pun bisa kesulitan mencari pekerjaan. Artinya, kampus tidak bisa dijadikan satu-satunya penentu nasib lulusan yang juga menentukan nasib ekonomi mereka di masa depan.

Kebijakan industri juga berperan besar. Dunia usaha sering kali mengubah arah kebutuhannya sesuai dengan perkembangan teknologi, regulasi, dan tren pasar.

Misalnya, ketika digitalisasi meningkat, kebutuhan tenaga kerja di bidang teknologi melonjak, sementara sektor lain bisa menurun. Dalam hal ini, kampus hanya bisa menyesuaikan kurikulumnya, tetapi tidak bisa mengendalikan arah kebijakan industri yang sangat dinamis.

Selain itu, dinamika global seperti geopolitik, perdagangan internasional, dan perubahan iklim turut memengaruhi dunia kerja.

Perang dagang, perang militer, konflik politik, atau transisi energi, juga sangat berperan dalam menggeser kebutuhan tenaga kerja secara drastis.

Lulusan yang tadinya dianggap relevan bisa tiba-tiba kehilangan relevansi karena perubahan global yang tidak terduga. Ini menunjukkan bahwa dunia kerja adalah arena yang cair, penuh ketidakpastian.

Jadi, sekali lagi, kampus seharusnya tidak dilihat sebagai “pabrik tenaga kerja” yang menjamin pekerjaan, melainkan sebagai ruang pembentukan kapasitas intelektual dan adaptabilitas.

Mahasiswa yang dilatih berpikir kritis, kreatif, dan mampu beradaptasi akan lebih siap menghadapi perubahan faktor eksternal tersebut. Dengan demikian, kampus berfungsi sebagai fondasi, bukan sebagai penentu langsung hasil akhir.

Jadi, menyalahkan kampus ketika lulusan sulit mendapatkan pekerjaan adalah bentuk reduksi masalah. Realitas dunia kerja ditentukan oleh kombinasi faktor ekonomi, kebijakan industri, dan dinamika global yang berada di luar kendali kampus.

Langkah yang bisa dilakukan kampus adalah membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir, berinovasi, dan beradaptasi, sehingga mereka tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta peluang.

Bahkan sebenarnya yang lebih penting bukan jurusan apa yang dipilih, melainkan bagaimana kampus membentuk daya tahan intelektual mahasiswa agar tidak mudah goyah menghadapi perubahan dunia kerja.

* Jalan Tengah

Artinya, jika mahasiswa ingin mengambil jurusan yang memang diminatinya, tetapi masa depan dari jurusannya dianggap tidak menjanjikan untuk dijadikan tumpuan mencari nafkah, maka menurut saya tidak ada masalah.

Tetap saja ambil jurusan prodi tersebut, dan ketika sedang kuliah, mahasiswa tersebut bisa sambil mengembangkan diri dan ilmunya, dengan mengikuti banyak pelatihan dan kursus Bahasa asing atau kursus keterampilan hidup lainnya, misalnya.

Sehingga ketika mahasiswa keluar kampus, dia akan tetap mempuinyai bekal keterampilan hidup yang tidak diajarkan di kampus, namun bisa menjadi tumpuan dalam mendapatkan penghidupan yang layak.

Memilih jurusan sesuai minat bukanlah masalah, meski dianggap kurang “menjanjikan” secara ekonomi.

Justru di situlah letak kekuatan pendidikan, yaitu membuka ruang bagi manusia untuk tumbuh sesuai passion atau hasrat terbesarnya, sambil tetap realistis menghadapi dunia kerja.

Hal penting yang harus diingat adalah bahwa minat atau hasrat terhadap suatu ilmu adalah fondasi motivasi. Mahasiswa yang belajar sesuai minatnya cenderung lebih tekun, lebih kreatif, dan lebih tahan menghadapi tantangan.

Walaupun jurusan itu dianggap kurang prospektif, semangat belajar yang lahir dari minat akan membuat mahasiswa lebih produktif dalam mengembangkan diri.

Namun, dunia kerja memang menuntut keterampilan praktis yang tidak selalu diajarkan di kampus. Karena itu, mahasiswa perlu melengkapi studinya dengan pelatihan, kursus, atau pengalaman magang.

Inilah bentuk upskilling dan reskilling yang bisa menjadi jembatan atau jalan tengah antara idealisme akademik dan kebutuhan pragmatis dunia kerja.

Menuerut saya, dengan cara ini, kampus tetap berfungsi sebagai ruang pengembangan akal dan nalar, sementara pelatihan tambahan berfungsi sebagai bekal keterampilan hidup.

Mahasiswa tidak hanya menjadi lulusan yang berpengetahuan, tetapi juga individu yang siap menghadapi realitas kerja dengan keahlian yang relevan.

Lebih jauh, kombinasi antara minat akademik dan keterampilan praktis justru bisa melahirkan inovasi.

Mahasiswa yang mencintai bidangnya akan lebih mudah menemukan cara kreatif untuk menghubungkan ilmu dengan kebutuhan pasar.

Inovasi sebagai kunci: Dengan menggabungkan ilmu dari jurusan yang diminati dan keterampilan tambahan, mahasiswa bisa menciptakan peluang baru. Misalnya, lulusan sejarah yang juga belajar teknologi bisa mengembangkan platform edukasi digital berbasis sejarah.

Atau contoh lain misalnya, lulusan sastra yang juga belajar digital marketing bisa menjadi penulis konten yang unggul.

* Tidak Ada Yang Namanya “Salah Jurusan.”

Ya, kemampuan berdaptasi terhadap zaman justru lebih utama.

Dunia kerja berubah cepat. Profesi yang dulu dianggap mapan bisa hilang, sementara profesi baru bermunculan. Mahasiswa yang terbiasa belajar adaptif akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan perubahan ini, dibanding mereka yang hanya mengandalkan ijazah.

Jadi, mulai sekarang, skip saja membaca tentang jurusan-jurusan kuliah yang akan menjanjikan atau tidak menjanjikan di masa depan. Percayalah, semua jurusan prodi itu menjanjikan untuk masa depan,

Tinggal bagaimana mahasiswa mengembangkan diri selama kuliah, setelah selesaikuliah, dan terus belajar adaptif terhadap zaman, dengan kemampuan yang inoveatif tentunya.

Jurusan bukanlah takdir akhir. Jurusan hanyalah pintu masuk untuk memperdalam bidang tertentu, bukan garis finish yang menentukan masa depan.

Banyak orang bekerja di bidang yang berbeda dari jurusan kuliahnya, dan tetap sukses karena mereka terus belajar dan beradaptasi.

Kesimpulannya, tidak ada yang namanya “salah jurusan.”

Jurusan yang dianggap “tidak menjanjikan” bukanlah penghalang untuk hidup layak; yang menentukan adalah bagaimana mahasiswa mengembangkan dirinya selama kuliah, memperdalam ilmu sesuai minat, sekaligus menambah keterampilan praktis melalui kursus, pelatihan, dan keterampilan hidup lainnya. Wallahu ’allam bisshowab.[]

Comment