Untuk dan Demi Materi, Sang Ibu Hilang Naluri

Opini255 Views

 

Penulis: Lilik Solekah, SHI | Ibu Peduli Generasi

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Miris. Inilah yang disebut manusia yang baik derajatnya lebih tinggi dari malaikat dan manusia yang jahat itu lebih rendah dari binatang. Kini sudah banyak ditemui manusia yang kedudukanya lebih rendah dari binatang. Bagaimana tidak? Hewan sejenis indukan ayam saja akan melindungi anak-anaknya segenap jiwa raga. Dicarikan makan hingga mendidiknya berdikari. Melindungi dari serangan musuh dan marabahaya. Ketika dingin diselimuti dengan seluruh anggota tubuhnya semata-mata agar bertahan hidup. Tidak membedakan anak yang cantik ataupun cacat semua diperlakukan sama.

Sedang manusia justru berperilaku lebih rendah dari binatang. Dia rela menjual bayinya seperti halnya kasus di Tambora Jakarta Barat ini. Anak yang dikandungnya selama sembilan bulan bahkan ketika belum keluar dari rahim sudah diperjual belikan.

Seperti fenomena gunung es. Di mana yang tampak lebih sedikit dari yang tersembunyi. Kasus TPPO (Tindak Pidana Penjualan Orang) yang ternyata tidak hanya satu pelaku. Kasus ini setelah diselidiki – polisi Tambora menemukan 4 bayi di rumah yang diduga sindikat penjualan bayi ini.

Disebutkan dalam laman Antara bahwa Kemen PPPA (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) menyebutkan para ibu yang menjual bayinya dikarenakan mereka berasal dari kelompok rentan secara ekonomi.

Sungguh kejadian ini membuktikan pada kita bahwa kemiskinan bisa mengakibatkan hilangnya naluri keibuan. Kemiskinan juga bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya oleh pihak tertentu. Kemiskinan bisa menyebabkan tindak kejahatan dan juga menjadi korban kejahatan. Ini merupakan ekses sekularisme dan sistem ekonomi kapitalisme.

Hal ini merupakan sebuah keniscayaan dalam sistem sekularisme yang memisahkan antara agama dan kehidupan. Seorang ibu tempat ternyaman untuk berlindung buah hatinya justru menjadi tempat paling bahaya. Ibu yang lemah iman dan silau akan harta dunia. Ibu yang sudah tidak tahan dengan kemiskinan ingin mengecap manisnya kehidupan dengan banyak uang. Sehingga buntu otak bagaimana cara menghasilkan uang dengan instan. Tidal ada yang lain –  hanya bayi dalam kandungan. Disambut dengan tawaran yang menggiurkan,  terjuallah bayi yang belum terlahirkan.

Kasus seperti ini juga wajar terjadi dalam sistem ekonomi kapitalisme –   di mana negara menjamin kebebasan manusia bertindak berperilaku. Apapun bisa dijual asalkan laku. Tak peduli halal haram – asal bisa memenuhi uang di saku.

Si kaya makin kaya yang miskin dipelihara. Bahkan ada anggapan bahwa penjara adalah tempat ternyaman bagi siapa saja. Karena bagi si miskin dipenjara itu tidak perlu memikirkan biaya hidup lagi. Bisa makan dan tidur tanpa pusing memikirkan dapat uang dari mana untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Sedang bagi si kaya tidak masalah dipenjara dengan perbuatan nya. Karena dia bisa beli penjara yang nyaman untuknya dan justru dengan aman dia bisa menggerakkan sindikat dari dalam terali besi.

Sangat berbalik dengan Islam – di mana sistem ini menjadikan negara wajib mewujudkan kesejahteraan individu per individu.

Islam juga memiliki aturan yang sempurna dan paripurna –  mulai dari sistem ekonomi hingga bernegara.  Sistem ekonomi Islam memiliki berbagai mekanisme untuk menjamin kehidupan yang adil dan sejahtera.

Islam juga memiliki sistem pendidikan yang mampu mencetak individu  beriman dan bertakwa, sabar dalam menghadapi ujian, menjauhi kejahatan dan saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan.

Islam juga memiliki sistem sanksi yang tegas dan menjerakan sehingga mencegah manusia melakukan kejahatan.

Dari sini jelas perbedaan antara sistem buatan manusia yaitu kapitalisme sekuler dengan sistem Ilahiyah yang berasal dari Pencipta manusia. Maka mari campakkan sistem sekuker yang membawa kerugian terhadap semua umat manusia di muka bumi ini.[]

Comment