by

VivisuaLove: Antara Dilan Dan Daulah, Throw Back 1924 Bukan 1991

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pekan terakhir bulan Februari 2019, film Dilan 1991 kembali
mengguncang dunia perfilman Indonesia. Film yang merupakan sekuel dari film
Dilan 1990 itu telah menarik perhatian banyak khususnya dikalangan muda mudi
dan remaja generasi bangsa yang sangat antusias menyaksikan kelanjutan
ceritanya.
Bahkan munculnya film layar lebar ini mendapat apresiasi
dari gubernur Jawa Barat bahwa premier Dilan 1991, 24 Februari 2019 dijadikan
sebagai hari Dilan di Bandung (sumber: detik.com). Ya, 10 hari setelah hari
‘zina sedunia’. Tidak hanya itu, hari Dilan juga dilengkapi dengan fasilitas
taman yang dinamakan sebagai taman Dilan.
Lagi dan lagi.
Demokrasi membidik para pemuda mayoritas Islam Indonesia
untuk disibukkan dengan mengulang kisah cinta dua pelajar berseragam putih
abu-abu yang divisualkan dari novel mega best seller, Pidi Baiq.
Film yang diproduksi oleh salah satu perusahaan besar Max
Picture ini lolos sensor di layar kaca Indonesia dengan mempertontonkan
adegan-adegan maksiat merusak moral, sebab tayangannya anak sekolah namun jauh
dari aktivitas bersekolah yang sebenarnya. Sehingga berakibat membunuh karakter
pemuda Islam, lost identitas dan jati diri muslim sebagai ‘abdullah’ (hamba
ALLAH,  -penj.)
Bagaimana tidak? Diusia produktif mereka yang seharusnya
sudah memikirkan bagaimana membangkitkan taraf berfikir umat, irtifa’ul fikr,
melakukan perubahan, agar kembali ke hukum ISLAM. Namun film ini malah
menumbuhkan rasa cinta kepada lawan jenis dengan mengobok-obok perasaan fitrah
manusia di jalur yang salah. Disebabkan salah gaul.
Kita memang tidak menafikkan adanya fitrah tersebut, akan
tetapi ALLAH telah ajarkan bagaimana menghandle fitrah manusia yang sebenarnya,
yakni disampaikan hanya kepada mahram nya. Sebab Islam telah mengatur bagaimana
sistem pergaulan dalam kehidupan manusia.
Kitapun tidak pungkiri bahwa bukan hanya film Dilan yang
membawa kehancuran di negeri ini. Sebab kita sadar bahwa persoalan
negeri ini tak sebatas Dilan dan Milea. Hanya saja bidikan dari demokrasi
sekuler kapitalis tersebut telah mempromosikan secara besar-besaran dan
terang-terangan di tengah-tengah kaum muda, yang uniknya ikut dimeriahkan
dengan kebijakan-kebijakan baru dari penguasa. Bukannya memberikan edukasi ke
pemuda, tetapi malah difasilitasi untuk terus melakukan maksiat.
Dan tak dipungkiri pula bahwa film ini adalah hasil dari
sebuah karya. Namun bagaimana jika karya tersebut justru menghancurkan generasi
penerus Bangsa? Jangan tanyakan pada rumput yang bergoyang, tetapi tanyakan
pada para emak.
Maka kemunculan film Dilan ke permukaan, tanpa sadar
demokrasi telah menghipnotis generasi muslim untuk melupakan tragedi berdarah
1924 diganti menjadi tayangan bercinta 1991.
Siapa yang mengira, beginilah strategi perang pemikiran
dalam menghancurkan  pioneer perubahan
(pemuda, -penj.)
Throwback Dilan diangkat ke permukaan pada 24 februari,
lebih cepat dari Throwback Daulah pada 3 maret. Untuk apa? Untuk menjadikan
pemuda Islam lupa bahwa dulu, Daulah Khilafah Islamiyah pernah tegak selama 14
abad yang ditegakkan oleh Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam beserta para
sahabat diikuti dengan perjuangan para singa-singa ALLAH. Akan tetapi Khilafah
yang merupakan ajaran Islam tersebut diruntuhkan oleh Mustafa Kemal At Taturk
(Laknatullah alayhi) pada 3 maret 1924.
Namun ketahuilah wahai Pemuda Islam, bahwa runtuhnya Daulah
Khilafah Islamiyah, akan dibangkitkan kembali oleh singa-singa ALLAH. Perjuangan
mengembalikan kehidupan Islam akan dilanjutkan oleh mereka pemuda yang penuh
cinta, ya cinta kepada ALLAH, Rasulullah, cinta kepada Dienul Islam, umat, dan
seluruh kaum muslimin yang tentunya dengan motivasi Jihad. Bukan pemuda seperti
Dilan yang cintanya hanya kepada Milea bermotivasikan jinsy.[]
*Koord. Tim Media dan Kreatif Muslimah KARIM Indonesia

Comment

Rekomendasi Berita