Yanti : Kebohongan System Untuk Mengambil Hati Rakyat

Berita1535 Views
Yanti
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kepemimpinan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. 
Bagaimana rasanya dibohongi? Kecewa pastinya. Tentu saya kekecewaan itu tidak akan dirasakan lagi untuk yang kedua kalinya, untuk itu jangan mau dibohongi berkali- kali. 
Pemimpin yang pembohong sudah diniscayakan dalam system demokrasi. Demi mendapatkan dukungan rakyat segala macam cara dilakukan. Sebut saja kebohongan yang dilakukan pak Jokowi dalam acara debat capres yang mengatakan tidak adanya kebakaran hutan dan lahan selama tiga tahun terakhir ini. 
Fakta membuktikan dari laman Detik.com baru-baru ini netizen di Indonesia menyatakan, capres nomor urut 01 Joko widodo (jokowi) menyebutkan tak ada lagi kebakaran hutan dan lahan selama 3 tahun terakhir. Rupaya ada data yang berbeda menurut BNPB. 
BNPB atau Badan Nasional Penanggulangan Bencana merekapitulasi bencana alam, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bahkan ditahun 2019 ini tercatat sudah beberapa kali karhutla. 
Data karhutla di Indonesia menurut data BNPB: 
Tahun 2019 (hingga februari), 5 kali terjadi karhutla, 1 orang hilang/meninggal 
Tahun 2018: 370 kali kejadian karhutla, 4 orang hilang/meninggal dunia 
Tahun 2017: 96kali kejadian karhutla, tak ada korban jiwa/yang meninggal 
Tahun 2016: 178 kali kejadian karhutla, 2 orang hilang/meninggal dunia. (m.detik.com/news/berita/d-4432372/jokowi-bilang-tak-ada-karhutla-3-tahun-terakhir-begini-faktanya). 
Inilah yang disebut kebohongan untuk mendapatkan hati rakyat lagi, segala macam cara dilakukan untuk mendapatkan kekuasaan yang mengikuti hawa nafsunya semata. Tidak takut dengan pertanggung jawabannya di akhirat kelak. 
Bayangkan saja jika Indonesia dipimpin oleh presiden yang gemar mengungkapkan kebohongan atau yang gemar mengarang data, hal ini sangat berbahaya bagi keutuhan NKRI. Untuk itu saran saya presiden jokowi mundur sebagai pejuang dua periode. 
Adapun solusi yang saya tawarkan adalah dengan melanjutkan kehidupan islam dengan menegakkan khilafah kembali yang kepemimpinannya tidak rakus dengan kekuasaan, beda pada system sekarang. 
Kebohongan berikutnya adalah Jokowi mengungkapkan, sudah ada sebelas perusahaan yang diberikan saksi dan denda. Sehingga perusahaan- perusahaan saat ini dalam membakar lahan sudah tidak ada lagi. Tegasnya. 
Sementara Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Green Peace Indonesia dalam akun Twitter resminya, @GreenpeaceID menyebut belum ada sebelas perusahaan itu yang membayar ganti rugi ke Negara. 
“Jokowi sebut telah memenangkan gugatan perdata terhadap 11 perusahaan yang harus membayar ganti rugi akibat kerusakan lingkungan dan kebakaran lebih 17 triliun. Namun belum ada yang membayar ganti rugi pada Negara sepeserpun,” tulis Green Peace Indonesia dalam akun resminya. (www.gelora.co/2019/02/jokowi-bohong-soal-sanksi-183-t-ke.html?m=1). 
Masih banyak lagi kebohongan- kebohongan yang telah dilakukan. Sebegitu mudahnya terlisankan. Begitulah mereka tidak tau bahwasanya di akhirat kelak akan dimintai pertanggung jawaban. Sangatlah besar dosanya di sisi Allah bagi penguasa yang menipu rakyatnya. Sampai- sampai dia tidak akan bisa menjadi pengguni surga. 
Ma’qil Ibnu Yasar radhiyallahu’anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: seorang hamba yang diserahi oleh Allah untuk memimpin rakyat lalu ia mati pada hari kematiannya ketika ia menipu rakyatnya Allah pasti akan mengharamkan masuk surge. “(HR. Bukhari). 
Dalam dunia demokrasi hakikatnya memberikan banyak Kebohongan- kebohongan yang terlontarkan, sudah sering didengar dimana- mana, bahkan dalam suasana hari ini yang semakin panas perpolitikan. Terutama pada karna factor pilpres 2019 ini. 
Dimana saat ini ajang pilpres satu- satunya ladang bagi rakyat di negeri ini untuk memilih pemimpin terbaik mereka. Namun sayangnya, fakta membuktikan tidak selalu membuktikan terbaik. 
Mengapa demikian? sebab dalam system yang salah akan membawakan hal yang salah pada ujungnya yang berasaskan kapitalis yang memisahkan agama dari kehidupan. Segala perbuatannya tidak disertai halal dan haram. Sehingga berbagai cara dilakukan untuk mendapatkan kekuasaan yang setinggi- tingginya. 
Mereka begitu manis mengatakan kebohongan- kebohongannya. Tak peduli selama ini mereka banyak menghianati rakyat yang sedang mendukung kebijakan-kebijakan penguasa yang menzholimi rakyat. Itulah musibah akibat demokrasi yang telah lama melanda negeri ini yang seharusnya seseorang takut menjadi pemimpin karna amanah yang ditanggung sangat luar biasa. Tapi karna bobroknya system sekarang mereka malahan berlomba untuk mendapatkan jabatan setinggi-tinggi dengan mengikuti hawa nafsunya tanpa memikirkan apakah dia akan amanah atau tidaknya. Musibah akibat demokrasi yang sebenarnya di negeri ini adalah saat kedaulatan berada ditangan rakyat yang mengalahkan kedaulatan Allah subhanahu wa ta’ala. 
Rasulullah memerintahkan kepada kita untuk tidak membenarkan kezholimannya dan tidak mendukungnya. Dari ka’ab bin ujroh radhiyallalu’anhu ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam keluar mendekati kami, lalu bersabda: 
“akan ada setelahku nanti para pemimpin yang berdusta. Barang siapa masuk pada mereka lalu membenarkan (menyetujui) kebohongan mereka dan mendukung kezholiman mereka maka dia bukan golonganku dan aku bukan golongannya, dan dia tidak bisa mendatangi telagaku (di hari kiamat). Dan barang siapa yang tidak masuk pada mereka (penguasa dusta) itu, dan tidak memebenarkan kebohongan mereka, maka dia adalah bagian dari golonganku, dan aku dari golongannya, dan dia akan mendatangi telagaku (di hari kiamat). “(HR. Ahmad dan An-Nasa’i). Wallahu a’lam bishsowab.[]

Penulis adalah mahasiswi UIN Imam Bonjol, Padang, 
Fakultas Syari’ah, jurusan Hukum Keluarga, semester 6

Comment