by

Yuli Ummu Raihan: Berkatalah yang Baik, Atau Diam

Yuli Ummu Raihan
RADARINDONESIANEWS.COM, Mulutmu harimaumu, begitu ungkapan yang sering kita dengarkan. Setiap ucapan, perbuatan kita semua ada pertanggungjawabannya, maka sebaiknya berfikirlah terlebih dahulu sebelum berkata, atau berbuat, karena apa yang sudah keluar dari mulut kita tidak akan bisa ditarik kembali.
Seperti yang lagi viral beberapa hari ini di sosial media, tentang seorang komedian berinisial AT yang memplesetkan nama dua orang ustadz yang hanif dan banyak mencerahkan umat menjadi nama sebuah merk sepatu dalam acara talkshow yang dipandunya di salah satu stasiun TV swasta.
Belum reda kasus penghinaan terhadap ulama tersebut, publik dihebohkan lagi dengan vidio berikutnya ,masih dilakukan oleh AT kali ini sang komedian menghina sosok manusia pilihan, sang panutan umat, yaitu sosok yang mulia Nabi Muhammad saw.
Ini berawal dari  pernyataan bintang tamu diacara tersebut V, yang mengatakan jika dirinya senang tampil wangi karena terinspirasi sosok sang teladan Nabi Muhammad saw. Ia mengatakan menyukai merk sebuah parfum dan ditimpali oleh AT dengan sebuah kalimat bernada negatif.
Meski akhirnya AT meminta maaf kepada publik, khususnya umat Islam, dan mengaku tidak memiliki niatan menghina, hanya sebuah spontanitas, dan ia menganggap ini hal yang biasa di dalam dunia lawak. Ia mengatakan bahwa hal ini menjadi viral karena publik hanya melihat potongan vidio yang terlanjur beredar dan menyimpulkan bahwa ia telah melakukan sebuah penghinaan.
Publik tentu tidak menerima permintaan maaf AT begitu saja, apalagi sebelumnya juga viral status media sosial istrinya  yang bernada negatif terhadap salah satu capres. 
Ini bukanlah hal pertama, dan mungkin bukan yang terakhir. Kasus penghinaan terhadap ulama, simbol Islam, bahkan Nabi Muhammad saw sudah banyak, dan akan terus terjadi tanpa ada sanksi hukum yang tegas serta memberi efek jera.
Ini bertolak belakang jika korbannya bukan Muslim, ulama, atau Islam. Kasusnya akan tenggelam ditelan waktu, menguap begitu saja tanpa ada kejelasan. Kita tentu masih ingat sosok kontroversial seperti Vicktor Laiskodat, Sukmawati,  komedian Uus, Panji, Joshua, dan masih banyak yang lainnya.
Semua ini bersumber dari sistem Demokrasi yang melahirkan azas Liberalisme (kebebasan). Dalam sistem Demokrasi ada 4 kebebasan diantaranya kebebasan berekspresi dan berpendapat. Sayangnya kebebasan ini kebablasan, sehingga menimbulkan masalah. Bebas yang tidak bertanggungjawab, dan tanpa arah yang jelas.
Lalu bagaimana Islam mengatur seseorang dalam berbicara atau berpendapat? Islam adalah agama yang sempurna, ia memikiki seperangkat aturan yang sempurna yang mengatur segala aspek kehidupan termasuk etika dalam berbicara.
Dalam Islam kita dianjurkan berbicara yang baik, baik dalam pembicaraan biasa, atau sekedar candaan. Bercanda atau bergurau (mizah) berarti berbicara secara ramah untuk menimbulkan kegembiraan terhadap orang lain. (Al jailany dalam syarah Al -Adabul Mufrad, Ath-Thahthawi, senyum dan tangis Rasulullah, halaman.116).
Menurut An nawawi hukumnya mubah, artinya boleh dilakukan atau tidak. Nabi pernah ditanya oleh para sahabat,” Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau telah mencandai kami” lalu Rasulullah SAW menjawab ,” 
Sesungguhnya tidaklah aku berbicara, kecuali yang benar”.(HR. Tirmidzi). Jadi becanda itu boleh, asal tidak mengandung kebohongan. Canda adalah bumbu dalam kehidupan, karena hidup akan terasa membosankan jika kita terlalu serius, tapi yang namanya bumbu tidak boleh berlebihan, secukupnya saja. 
Hari ini kita melihat bercanda justru menjadi hobi, bahkan profesi yang mendatangkan pundi-pundi rupiah. Lihatnya begitu banyak pelawak baik senior atau pendatang baru, stasiun TV seolah berlomba membuat acara yang berisi candaan, tanpa mengindahkan norma-norma agama atai kesopanan, asal meraih rating yang tinggi semua dihalalkan.
Candaan bahkan dijadikan ajang kompetisi,  beragam materi, topik, dijadikan sebagai bahan candaan. Kebiasaan masyarakat yang latah membuat candaan tak bermutu seperti ini semakin marak. Beragam prank dilakukan mulai dari hal yang sepele sampai yang diluar akal sehat, demi sebuah kepuasaan atau eksistensi diri.
Sungguh Nabi pernah mencandai seorang nenek  dengan mengatakan bahwa di surga kelak tidak ada nenek-nenek, ini membuat sang nenek bersedih tapi kemudian Rasulullah menghibur dengan mengatakan kelak di surga semua akan berusia muda, maka ini membuat sang nenek gembira. Dalam hal ini nabi tidak melakukan kebohongan, serta menyakiti perasaan sang nenek.
Kisah lainnya saat Nabi mencandai seorang gadis yatim piatu di rumah Ummu Sulaim. Rasul berkata,” Engkau masih muda, tapi Allah tidak akan membuat keturunanmu nanti tetap muda”. Ummu Sulaim lalu berkata,” Wahai Nabi, Engkau berdoa kepada Allah bagi anak yatimku agar Allah membuat keturunannya tetap muda”. Demi Allah, ya memang benar dia tidak akan muda selama-lamanya”.(HR. Ibnu Hibban, dari Anas bin Malik ra).
Seorang lelaki juga pernah datang kepada Imam Abu Hanifah rahimahullah, kemudian bertanya, ” Bila saya sudah melepas baju dan hendak menyebur ke sungai untuk mandi, apakah saya harua memghadap kiblat?”
Mendengar pertanyaan itu, Imam Abu Hanifah menjawab, ” Yang lebih baik hendaklah wajahmu menghadap ke arah bajumu, agar tidak hilang dicuri orang”. Canda sang imam. Hal ini mengundang senyum orang disekitarnya.
Islam juga melarang becanda dalam urusan agama seperti talak,  Al quran,  sunnah rasul. Maka sebisa mungkin kita tidak becanda dalam masalah sensitif ini karena Rasulullah mengatakan,” Sebagian tanda bagusnya kualitas keislaman seseorang adalah ketika ia mampu meninggalkan hal-hal yang tidak berguna baginya”.(HR Muslim).
Alhamdulillah kita telah memasuki bulan suci Ramadhan , bulann mulia, bulan berlimpah pahala, maka mari kita isi dengan aktifitas yang bermanfaat, bernilai pahala. Kurangi hal-hal yang tidak bermanfaat salah satunya becanda. Apalagi hanya untuk membuat orang lain tertawa dengan membuat kebohongan.
“Celakalah bagi orang yang berbicara, lalu berbohonh untuk membuat orang lain tertawa, celaka baginya, Celaka baginya, Celaka baginya”! (Shaihul jaami’).
Sayangnya sistem kapitalisme membuat semua diukur dengan materi, maka tidak heran Ramadhan yang seharusnya bulan untuk ketaatan tapi godaan untuk berbuat kemungkaran masih banyak. Tayangan TV justru seolah berlomba disaat menjelang berbuka dan sahur menyuguhkan acara-acara lawakan, yang isinya tak lepas dari kebohongan, menjelekkan, mengolok-olok, bahkan menyakiti orang lain. Bulan yang seharusnya diisi dengan ibadah malah habis dengan menonton acara-acara lawakan murahan semacam itu. Ingatlah sesungguhnya  Nabi Muhammad saw pernah bersabda kepada Abu Hurairah, ” Janganlah engkau banyak tertawa, karena sesungguhnya banyak tertawa itu mematikan hati”.
Bahkan khalifah Umar bin Abdul Aziz khawatir karena canda yang dungu dapat mewariskan rasa dengki.
Maka benarlah baginda Nabi kita Muhammad saw berpesan, “Barangsiapa yang berimam kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik, dan hendaklah ia diam”.( Muttafaq a’laih Al Bukhari: no 6018, Muslim no :47).Wallahu a’lam.[]

Penulis adalah anggota Komunitas Akademi Menulis Kreatif

Comment

Rekomendasi Berita