by

Zeng Wei Jian: Hendardi Dan Jendral TNI Gatot Nurmantyo Pasca Rosi

Hendardi.[dok.radarindonesianews.com]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Dengan Tema Membidik Jokowi Lewat Ahok, Kompas TV gelar dialog bersama Rosiana Silalahi yang menjadi host dengan bintang tamu Jendral TNI Gatot Nurmantyo, Kamis (4/5).

Diskusi yang tampak menggiring pada sebuah opini tersebut mendapat sanggahan secara tegas dari Jendral TNI Gatot Nurmantyo. “Tidak ada makar itu” Jelas Jendral TNI menjawab pertanyaan Rosiana.

Dalam diskusi yang dipandu Rosiana Silalahi tersebut, Hendardi menyayangkan pernyataan Jendral Gatot Nurmantyo yang mengatakan bahwa upaya makar adalah hoax.

“Pernyataan Panglima (Gatot) yang menyatakan bahwa upaya makar adalah
hoax telah merendahkan integritas institusi TNI sendiri,” kata Hendardi dalam keterangan tertulisnya, Jumat (5/5/2017). Kritik Hendardi terhadap Jendral TNI Gatot Nurmantyo pun langsung dikomentari Zeng Wei Jian.

“Hendardi, Impartial dan Todung memang segaris. Warnanya serupa. Rada-rada kiri. Sama-sama prohok.” Ujar Zeng melalui tulisan yang banyak tersebar di WhatsApp.

Dulu, lanjut Zeng, mereka galak dan pro rakyat. Bela aktifis yang dituduh makar. Sekarang, Joko Edhi mensinyalir Hendardi adalah orangnya Tito. Masuk akal, setelah Hendardi menurunkan mutunya. Berkomentar ngasal soal Panglima TNI dan makar. Jadilah Hendardi masuk kategori komentator abal-abal. Bukan lawyer. Bukan pengamat. Apalagi aktifis. Komprador dan “antek” lebih tepat disematkan ke dada Hendardi.

“Aneh ya, Hendardi seolah ngga ngikuti berita. Kasus makar 02 Desember tidak terbukti. Malah sebaliknya, Sri Bintang menggugat Tito dan Iwan Bule ke Mahkamah Internasional yang biasa gelar pengadilan genosida dan HAM Berat.” Tambah Zeng.

Ditambahkan Zeng, aksi Bela Islam berkali-kali dirilis. Diikuti jutaan mujahid. Pengumpulan massa termasif sepanjang sejarah Indonesia modern. Rezim Joko tidak rontok. Karena memang, bukan gerakan politik. Apalagi makar.

“Panglima Gatot Nurmantyo benar dong. Saya refresh ingatan Hendardi, Aksi Bela Islam merupakan suara menuntut keadilan hukum. Jangankan rezim, setangkai tanaman di depan Balai Kota pun tidak dirusak.

Aksi Bela Islam, tegas Zeng, sampai aksi 05 Mei, tidak pernah bersifat ofensif. Kalah beringas dengan seorang Daniel Maukar.

Zeng Wei Jian mengingatkan kembali peristiwa makar sesungguhnya yang pernah terjadi pada era Soekarno. “Rabu 9 Maret 1960, sekitar jam 9.00 pagi, Daniel Maukar membombardir Istana Merdeka. Gunakan pesawat tempur Mig-17. Kursi presiden hancur kena bomnya. Maukar divonis hukuman mati. Dia tolak minta maaf kepada Bung Karno. Itu baru makar.” Tegasnya.

Tapi, Bung Karno malah senang. Vonis mati dicabut. “Aku suka anak ini. Ia masih muda dan punya masa depan,” ujar Bung Karno.

“Nah, begitu itu contoh kebesaran jiwa seorang negarawan. Seorang patriot. Benar dikatakan benar. Salah dikatakan salah. Ngga cengeng. Dikit-dikit makar. Dikit-dikit resuffle dan mutasi.” Papar Zeng.

Di akhir tulisannya, Zeng berharap komentator freelance dan amatiran, berhentilah merusak Presiden Jokowi. “Hentikan bisikan ngaco anda. Stop adu domba antara presiden dengan rakyatnya sendiri. Rakyat masih butuh TNI di bawah kepemimpinan Jenderal Gatot Nurmantyo.” Imbuhnya.[GF]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fourteen − 6 =

Rekomendasi Berita