by

70 Negara Berpotensi Defaulting dan 107 Negara Akan Hadapi Krisis Pangan dan Ekonomi

 

Oleh: Chris Komari, Aktivis Democrasi,
Aktivis Forum Tanah Air (FTA)

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Sri Langka bangkrut adalah karena pemimpin negaranya tidak mampu mengelola fiscal APBN negara Sri Langka. Pemerintahnya spending more than the country’s revenues plus heavy tax cuts.

Akibatnya tidak punya cukup dana bahkan bangkrut untuk bisa bayar cicilan utang negara dan defaulting.

Kejadian yang sama akan menimpa 70 negara lain di dunia bila negara itu tidak cepat-cepat mencari solusi termasuk Indonesia.

Apa penyebab ekonomi dunia nyungsep?

1). Pandemic COVID-19
2). Invasi Militer Russia di Ukraina

Invasi militer Russia dan perang di Ukraina ini yang menyebabkan munculnya sangsi ekonomi dan ngguan pengiriman makanan.

Semua 4 hal diatas, mengakibatkan harga bahan pokok naik, harga BBM naik dan semakin sulitnya keuangan dan ekonomi di hampir seluruh negara di dunia.

Bank dunia telah membuat proyeksi global ekonomi output tahun 2023 sebesar 2,2% hingga 3.2% dan tahun 2023 hanya sebesar 3,2% hingga 4,4%. Itu artinya ekonomi global dunia untuk masa 2 tahun ke depan masih akan sulit  bahkan bisa jadi lebih sulit dari kondisi sekarang ini kecuali perang di Ukraina segera berakhir.

Sebenarnya pandemic COVID-19 saja tidaklah terlalu berat bagi ekonomi dunia. Sudah ada path to recovery tetapi dengan invasi militer Russia di Ukraina yang menyebabkan (triggering), munculnya sangsi ekonomi Barat, membuat banyaknya perubahan geopolitik dan ekonomi global.

Bahkan perang di Ukraina menyebabkan gangguan foods supply chains, membuat kondisi ekonomi dunia tambah parah. Sangsi ekonomi Barat adalah konsekwensi sikap dan tindakan negara Barat yang diambil untuk menghadapi invasi militer Russia dan Vladimir Putin di Ukraina.

Sangsi ekonomi dan sikap Barat itu berdampak besar terhadap perubahan ekonomi dunia secara drastis. Itu fakta geopolitik. Sebab bila tidak ada invasi militer Russia di Ukraina, tentu tidak akan ada sangsi ekonomi dari Barat dano food supply chain masih bisa berjalan normal. Tidak ada new cold-war era antara 53 negara (NATO + USA) Vs. RUSSIA.

Invasi militer Russia dan perang di Ukraina telah merubah geopolitik dunia dan membuat negara di dunia pecah menjadi 2 blocs:

1). Bloc RUSSIA + BRICS + negara kecil lainya.

2). Bloc NATO + USA + EUROPEAN UNION + AUSTRALIA + CANADA + NEW ZEALAND + negara kecil lainnya.

Ini adalah fakta baru a new cold-war era in the 21st century. Tinggal negara kecil secara ekonomi dan negara dunia ke #3 secara technology, yang terombang-ambing. Indonesia mau ikut bloc mana?Mau tetap ditengah-tengah? Apa manfaatnya bagi Indonesia mengambil sikap di tengah-tengah seperti rondo ucul kesasar di hutan belantara.

Sikap India is the most beneficial.

1). Bisa membeli 5x lipat oil dari Russia dengan harga discounts yang sangat murah sebanyak 60 million barrels tahun 2022 ini.

Russia needs cash, India needs oil. Bandingkan dengan tahun 2021 yang hanya 12 million barrels.

2). India mulai membuka perdagangan (trades), yang lebih besar dengan Russia seperti jual mobil dan spare parts mobil di Russia, karena banyak perusahaan mobil dari Eropa dan USA yang hengkang dari Russia.

Now we live in a new cold-war era. Negara yang terlambat mengambil sikap dan beradaptasi, akan ikut nyungsep seperti Sri Langka.[]

Comment