by

Batasi Usia Nikah Dini, Solusikah?

-Berita-19 views

 

 

Oleh : Fina Fauziah, Aktivis Muslimah

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Perubahan batas minimal usia kawin bagi wanita sebagaimana dimaksud Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 16 tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan membawa dampak serius. Sebelumnya, di usia 16 tahun wanita sudah diperkenankan untuk melangsungkan perkawinan.

Dengan adanya perubahan dimaksud, wanita baru boleh menikah saat sudah berusia 19 tahun sebagaimana halnya laki-laki. Norma perubahan batas minimal usia kawin bagi wanita sejatinya untuk membatasi praktik pernikahan dini. Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Sejak diundangkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019, justru perkara permohonan dispensasi kawin meningkat. Merespon hal tersebut, Pengadilan Agama Soreang mengambil langkah strategis.

Selasa, 14 Juni 2022 menjadi momen yang menandai ikhtiar mulia PA Soreang. Dengan ditantanganinya Memorandum of Understanding (MoU) atau Perjanjian Kerja Sama antara PA Soreang dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung. Sebagaimana tajuk MoU, tujuan kerja sama tersebut adalah dalam rangka mencegah perkawinan di bawah umur.

Fitrah manusia terlahir dengan seperangkat potensi kehidupan. Potensi kehidupan itulah yang membuat manusia menyala dan terus hidup dalam kehidupan. Salah satu potensi yang diberikan kepada manusia tersebut adalah potensi mempertahankan generasi atau melanjutkan keturunan atau naluri seksualutas atau yang dikenal dengan ghorizatun nau’.

Dalam sistem kapitalis sekuler, nikah muda dipermasalahkan, tetapi aktivitas yang mendekati zina seperti pacaran dibiarkan, bahkan dipropagandakan melalui tayangan televisi, film dan iklan yang tidak mendidik dan menimbulkan dampak negatif bagi penontonya.

Jika dikritik, mereka berdalih ini adalah kebebasan berekspresi. Padahal Islam melarang zina, sekalipun hanya mendekati. Allah berfirman dalam surat Al-Isra’:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk“. (Terjemah Surat Al-Isra ayat 32)

Padahal masalah pernikahan timbul justru karena diterapkanya sistem pendidikan sekuler,  yang telah gagal mendewasakan pemikiran. Serta sistem sosial yang cenderung liberal begitu masif menstimulasi rangsangan seksual. Akibatnya, lahir generasi yang terlalu cepat baligh (dewasa biologis) namun lambat aqil (berakal).

Berbeda dengan sistem Islam yang menjadikan Islam sebagai landasan dalam bertingkah laku, yang menjadikan halal dan haram sebagai standart, yang menjadika ridha Allah sebagai tujuan amal. Sehingga ketika anak-anak mendapatkan pendidikan Islam secara baik, melalui kurikulum pendidikan yang shahih, akan membentuk manusia yang mampu mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya di sisi Allah.

Karena sejatinya ketika anak-anak mendapatkan pendidikan yang berlangsung dalam rangka pematangan kepribadian Islam, maka anak-anak perempuan yang sudah haid dan bermimpi basah bagi anak laki-laki, mereka sudah menjadi manusia yang kuat aqliyahnya (pola pikir) dan matang nafsiyahnya (pola perilaku). Sehingga ketika anak sudah baligh, anak sudah siap menerima taklif (beban) syara’ dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

Sudah seharusnya kita berkaca pada keberhasilan peradaban Islam di masa lalu sebelum tergesa-gesa mengkambing -hitamkan pernikahan dini atau sekadar menyalahkan pelaku dan juga para orang tua pelaku. Sebab mereka adalah korban dari sebuah sistem sekuler.

Perlu syariat Islam dalam setiap aspek kehidupan untuk mengakhiri serangan terhadap syariat pernikahan, yang dijadikan alasan untuk menutupi gagalnya sistem kapitalis sekuler saat ini.

Hanya Islam yang bisa mencetak generasi harapan umat pembentuk peradaban gemilang. Sistem yang datang dari Allah SWT yang telah sangat terperinci mengatur kehidupan manusia, termasuk dalam kehidupan keluarga dan pernikahan, agar semua elemen masyarakat bisa merasakan secara langsung bagaimana “kebaikan” dari Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Wallahu ‘alam bishowab.[]

Comment