Satu Muharam, Momentum Kebangkitan Umat

Opini9 Views

Penulis: Dewi Ummu Azkia | Aktivis Dakwah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Bulan Muharam merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam kalender Hijriah. Kehadirannya tidak sekadar menandai pergantian tahun bagi umat Islam, tetapi juga mengingatkan pada peristiwa besar yang menjadi titik balik perjalanan dakwah Islam, yakni hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah.

Hijrah tersebut bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan awal lahirnya sebuah peradaban Islam yang kokoh. Di Madinah, kaum muslimin dapat menjalankan ajaran Islam dengan lebih tenang dan penuh ketaatan. Dari kota inilah pula Islam berkembang menjadi sebuah kekuatan peradaban yang ditopang oleh sistem pemerintahan khas yang berbeda dari bentuk pemerintahan mana pun pada masa itu.

Sejak saat itu, kaum muslimin mengalami kebangkitan pemikiran. Mereka tunduk sepenuhnya kepada perintah Allah SWT dan Rasul-Nya, melaksanakan segala yang diperintahkan serta meninggalkan segala yang dilarang. Ketaatan tersebut menjadi fondasi lahirnya masyarakat Islam yang kuat dan berpengaruh.

Lalu, mengapa Rasulullah SAW memilih Madinah sebagai tujuan hijrah sekaligus pusat pembangunan peradaban Islam?

Dalam kitab Ad-Daulah al-Islamiyah pada pembahasan Baiat Aqabah Kedua, Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa Rasulullah SAW melihat Madinah sebagai wilayah yang lebih potensial untuk pengembangan dakwah Islam dibandingkan Makkah. Masyarakat Madinah dinilai lebih siap menerima Islam dan menjadikannya sebagai dasar kehidupan.

Namun, hijrah bukanlah langkah yang ditempuh Rasulullah SAW karena ingin menghindari kesulitan dakwah di Makkah. Sebaliknya, beliau tetap bersabar menghadapi berbagai tantangan dan terus berupaya mengatasinya. Hijrah dilakukan sebagai bagian dari strategi dakwah untuk memperluas penyebaran Islam dan membangun masyarakat yang siap menerapkan ajarannya.

Sebelum hijrah berlangsung, Rasulullah SAW telah menyiapkan Madinah melalui dakwah yang dilakukan oleh sahabat muda, Mush’ab bin Umair. Dengan pertolongan Allah SWT, Mush’ab berhasil membina masyarakat Madinah hingga mengalami perubahan besar. Mereka yang sebelumnya hidup dalam berbagai konflik dan fanatisme kesukuan mulai menerima Islam sebagai pedoman hidup, sehingga siap menyambut Rasulullah SAW sebagai pemimpin mereka.

Momentum hijrah sejatinya adalah momentum kebangkitan. Sosok Mush’ab bin Umair menjadi teladan bagaimana seorang pemuda yang telah ditempa oleh Rasulullah SAW mampu mengemban amanah dakwah dengan penuh keberanian. Ia berhasil menyampaikan Islam kepada para tokoh masyarakat Madinah hingga banyak di antara mereka yang memeluk Islam.

Perubahan yang terjadi pun sangat signifikan. Kota Madinah yang sebelumnya sering dilanda konflik antarkabilah perlahan berubah menjadi masyarakat yang dipersatukan oleh akidah Islam. Semangat menerima dan membicarakan ajaran Islam menyebar luas di tengah masyarakat.

Dalam konteks saat ini, kaum muslimin perlu menjadikan hijrah sebagai inspirasi untuk bangkit dari berbagai persoalan yang dihadapi umat. Kebangkitan tersebut harus dimulai dengan memahami Islam secara menyeluruh (kaffah), bukan hanya sebatas aspek spiritual dan ibadah individu.

Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Hubungan manusia dengan Allah SWT diwujudkan melalui akidah dan ibadah. Hubungan dengan sesama manusia mencakup muamalah dan aturan sosial. Adapun hubungan manusia dengan dirinya sendiri tercermin dalam akhlak, pola konsumsi, serta tata cara berpakaian yang sesuai dengan tuntunan syariat.

Karena itu, pemahaman Islam yang komprehensif perlu terus disebarluaskan dan dibumikan di tengah masyarakat. Dengan pemahaman yang benar dan penerapan yang konsisten, umat Islam diharapkan mampu bangkit menjadi umat yang kuat, berkepribadian Islam, serta memberikan kontribusi positif bagi peradaban.

Semoga momentum Tahun Baru Hijriah menjadi pengingat bagi kaum muslimin untuk terus memperbaiki diri, memperkuat pemahaman Islam, dan berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih baik.

Wallahu a’lam bishshawab.

Sumber:

Taqiyuddin an-Nabhani, Ad-Daulah al-Islamiyah (Bab Baiat Aqabah Kedua), terjemahan.

Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 20 dan Surah Al-Anfal ayat 74 tentang keutamaan hijrah dan perjuangan di jalan Allah.

Comment