RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Ruang masyarakat sipil di Indonesia menghadapi tantangan yang semakin beragam. Kebebasan menyampaikan pandangan, berorganisasi, berpartisipasi dalam kehidupan publik, serta menjalankan fungsi pengawasan menjadi salah satu topik yang dibahas dalam diskusi publik Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Jumat, 28 Agustus 2026.
Diskusi bertajuk “Memperkuat Resiliensi Masyarakat Sipil di Tengah Krisis Demokrasi” tersebut digelar secara daring untuk memperingati 55 tahun LP3ES.
Direktur Eksekutif LP3ES Fahmi Wibawa mengatakan masyarakat sipil perlu memiliki daya tahan dan kemampuan beradaptasi dalam menghadapi perubahan politik. Menurut dia, penguatan kapasitas masyarakat sipil penting agar kehidupan demokrasi tetap memiliki ruang partisipasi dan pengawasan publik.
Direktur Media dan Demokrasi LP3ES Wijayanto mengatakan terdapat sejumlah perkembangan yang perlu menjadi perhatian dalam kehidupan demokrasi, antara lain dinamika yang dihadapi aktivis, media, dan kebebasan sipil.
Pakar hukum tata negara Feri Amsari mengatakan berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat dapat menjadi momentum untuk memperkuat partisipasi publik dalam memperjuangkan kepentingan bersama. Ia juga menyoroti peran partai politik yang, menurut dia, masih perlu terus diperkuat agar semakin mampu menjalankan fungsi representasi masyarakat.
Menurut Feri, diperlukan partisipasi publik yang konsisten untuk mendorong lembaga politik menjalankan fungsi representasi secara optimal.
Persoalan ruang digital turut menjadi perhatian dalam diskusi tersebut. Direktur Eksekutif SAFEnet Nenden Sekar Arum mengatakan internet yang sebelumnya dipandang sebagai ruang terbuka bagi masyarakat kini menghadapi dinamika berupa berbagai bentuk pengaturan dan pengawasan.
Menurut Nenden, penguatan gerakan masyarakat sipil tidak cukup hanya mengandalkan media sosial. Pengorganisasian di tingkat akar rumput, kata dia, juga perlu diperkuat agar partisipasi publik memiliki basis yang lebih luas.
Peneliti Pusat Riset Politik BRIN Aisah Putri Budiarti menekankan pentingnya memperluas keterlibatan berbagai kelompok dalam kehidupan demokrasi. Jurnalis, mahasiswa, individu warga negara, dan kelompok masyarakat lainnya, menurut dia, memiliki ruang untuk berkontribusi dalam menjaga kualitas demokrasi.
Aisah juga menilai penguatan jejaring dan konsolidasi diperlukan agar berbagai inisiatif masyarakat sipil dapat berlangsung secara berkelanjutan dan tidak hanya muncul pada momentum tertentu.
Forum tersebut turut membahas kemunculan “Kabinet Bayangan” sebagai salah satu eksperimen masyarakat sipil dalam membangun pengawasan publik di luar institusi politik formal.
Feri mengatakan inisiatif tersebut diarahkan untuk mempertemukan dan mengonsolidasikan berbagai elemen masyarakat sipil. Adapun Nenden memandangnya sebagai salah satu alternatif bagi masyarakat dalam menyampaikan aspirasi dan melakukan partisipasi publik.
Para narasumber pada akhirnya menekankan pentingnya konsolidasi, pengorganisasian, perluasan jejaring, serta kemampuan beradaptasi dalam menjaga keberlanjutan gerakan masyarakat sipil.
Energi masyarakat sipil dinilai masih cukup kuat. Tantangannya adalah bagaimana energi tersebut dapat dikelola menjadi partisipasi publik yang konsisten, konstruktif, dan berkelanjutan.[]









Comment