PB PII Dorong Pendidikan Politik bagi Generasi Muda untuk Mengawal Demokrasi

Politik365 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB PII) mendorong penguatan pendidikan politik bagi generasi muda sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas demokrasi. Pendidikan politik dinilai penting agar generasi muda memahami proses politik secara kritis, rasional, dan bertanggung jawab.

Hal itu mengemuka dalam Bincang Demokrasi bertema “Membangun Generasi Muda sebagai Pengawal Demokrasi” yang diselenggarakan PB PII di Digra Coffee, Jalan Lebak Bulus 2, Cilandak, Jakarta, pada 28 Agustus 2026.

Kegiatan yang dipimpin Ketua Umum PB PII Kevin Prayoga tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Michael Sahertian, SE, Ketua Umum Perantara (Prakarsa Nusantara Raya), Dodi Wijaya dan Dr. Fuadi, S.Pd. dari KPU DKI Jakarta, serta Brahma Aryana, Sekretaris Jenderal KIPP. Diskusi dimoderatori M. Zulhaq.

Dalam diskusi tersebut, Michael mengatakan politik pada dasarnya merupakan bidang ilmu yang dapat digunakan untuk berbagai kepentingan, bergantung pada tujuan dan cara penerapannya. Menurut dia, persepsi negatif terhadap politik kerap muncul akibat praktik politik yang tidak sehat, seperti politik uang dan berbagai bentuk transaksi kepentingan dalam pemilu.

Kondisi tersebut, kata Michael, dapat membuat sebagian masyarakat, khususnya generasi muda, menjadi apatis terhadap politik dan memilih tidak menggunakan hak pilihnya. Karena itu, pendidikan politik dinilai perlu diperkuat melalui ruang-ruang dialog yang terbuka dan edukatif.

“Pendidikan politik perlu diperluas agar generasi muda memahami hak dan tanggung jawabnya sebagai warga negara,” ujar Michael dalam diskusi tersebut.

Ia menilai kegiatan pendidikan politik seperti yang dilakukan PB PII dapat menjadi salah satu ruang pembelajaran bagi pelajar dan mahasiswa. Aksi demonstrasi mahasiswa, menurut dia, juga dapat menjadi bagian dari dinamika demokrasi sepanjang disertai argumentasi, tanggung jawab, dan sikap konstruktif.

Michael juga mengajak generasi muda untuk menyampaikan kritik dengan menawarkan solusi serta menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi.

“Ibdabinafsih, bila kita menginginkan sesuatu yang baik, mulailah dari diri sendiri. Kritiklah dengan solusi yang elegan dan hindari hoaks,” katanya.

Menurut Michael, keberadaan oposisi dalam demokrasi semestinya dipahami sebagai bagian dari mekanisme kontrol dan keseimbangan. Kritik, kata dia, perlu diarahkan pada kebijakan atau persoalan yang dikritik, bukan menyerang pribadi.

Ia juga menyinggung pentingnya membangun ruang demokrasi yang tidak lagi terjebak dalam dikotomi mayoritas dan minoritas. Menurut dia, seluruh warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan pendapat dan berpartisipasi dalam kehidupan demokrasi.

Diskusi tersebut kemudian ditutup dengan deklarasi bersama. Peserta menyatakan komitmen untuk berani menyampaikan pendapat secara kritis dan bertanggung jawab, menghormati perbedaan latar belakang, menolak hoaks, serta menjunjung kejujuran dan keadilan.

Alumni PII Perluas Wadah melalui FAPI

Pada malam harinya, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan perluasan wadah Forum Alumni PII (FAPI). Organisasi tersebut dipimpin Agus Jabo dan turut dihadiri Imam Besar FAPI Fahmi Fachrudin.

Dalam kesempatan itu, dilakukan pelantikan Pengurus FAPI Sumatera Selatan yang dipimpin Eko Fachrudin dan Pengurus FAPI Jawa Barat yang dipimpin Calvin C.

Setelah pelantikan, kegiatan dilanjutkan dengan seminar bertema “Bertahan di Tengah Impitan: Cinta dan Ketahanan Ekonomi Urban”. Seminar menghadirkan Nanny Uswanas dari Pegiat Kirana Budi Rumi, M. Nur Jabir selaku Direktur Rumi Institute, Andy Bass sebagai seniman, Iradat Ismail selaku Sekretaris Jenderal PAFI, serta Didi M. Rosidi sebagai Ketua Harian PAFI.

Ketua Umum FAPI Agus Jabo mengatakan keberadaan FAPI menjadi salah satu wadah bagi alumni PII untuk melanjutkan kontribusi di tengah masyarakat. Ia menyebut kiprah alumni PII telah tersebar di berbagai bidang dan ruang pengabdian.

Menurut Agus, penguatan jaringan alumni diperlukan agar pengalaman dan gagasan para kader dapat terus dikembangkan untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat.

Sementara itu, Fahmi Fachrudin mengatakan perjalanan sejumlah alumni PII di berbagai organisasi dan bidang pengabdian menunjukkan luasnya kontribusi kader setelah menyelesaikan masa pendidikan di PII.

Ia mengajak para alumni untuk saling menguatkan sesuai dengan bidang dan peran masing-masing. Menurut Fahmi, keberagaman latar belakang alumni merupakan bagian dari dinamika organisasi yang perlu dikelola melalui komunikasi dan dialog.

Diskusi juga membahas pentingnya sikap otokritik dalam melihat persoalan bangsa. Sejumlah tokoh sejarah, termasuk Tan Malaka, disebut sebagai bagian dari bahan diskusi untuk melihat dinamika pemikiran dan perjalanan berbagai ideologi di Indonesia.

FAPI juga merencanakan forum diskusi rutin pada Jumat terakhir setiap bulan sebagai ruang bertukar gagasan bagi para alumni dan masyarakat.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, PB PII dan FAPI menekankan pentingnya pendidikan, dialog, serta keterlibatan generasi muda dan alumni dalam memperkuat kehidupan demokrasi dan menjawab berbagai persoalan sosial-ekonomi di masyarakat.[]

Comment