Penulis: Dinar Aslamiyah | Aktivis Muslimah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Generasi Z (Gen Z) tumbuh di tengah berbagai kemudahan. Akses informasi semakin cepat, teknologi berkembang pesat, dan kehidupan sehari-hari semakin lekat dengan dunia digital.
Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, Gen Z juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ketidakpastian ekonomi, meningkatnya biaya hidup, tekanan gaya hidup konsumtif, hingga pencarian makna kehidupan menjadi bagian dari persoalan yang mereka hadapi.
Survei Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2025 menunjukkan bahwa 48 persen Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial, sebagaimana diberitakan Harian Jurnal pada 19 Agustus 2026.
Di sisi lain, tekanan tersebut berjalan beriringan dengan budaya konsumsi yang semakin kuat. Sebagian Gen Z mengalokasikan penghasilannya untuk self reward, mengunjungi kafe yang sedang populer, bepergian, hingga membeli berbagai barang yang dianggap dapat memberikan kepuasan emosional.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi Gen Z tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan mengelola keuangan. Ada persoalan yang lebih luas, mulai dari tekanan ekonomi hingga cara memandang kebahagiaan dan tujuan hidup.
Memahami Persoalan yang Dihadapi Gen Z
Gen Z tentu tidak memilih lahir dan tumbuh dalam situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian. Kenaikan biaya hidup, tuntutan kebutuhan yang semakin besar, serta kesempatan ekonomi yang tidak selalu sebanding dengan pendapatan menjadi tantangan tersendiri.
Dalam pandangan penulis, kondisi tersebut tidak dapat dilepaskan dari sistem ekonomi yang lebih menekankan mekanisme pasar dan kepentingan ekonomi. Akibatnya, pemenuhan kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan menjadi persoalan yang harus dihadapi setiap individu dan keluarga.
Di tengah kondisi tersebut, nilai-nilai sekuler dan liberal juga dinilai turut memengaruhi cara sebagian Gen Z memandang kehidupan. Kebahagiaan kerap dikaitkan dengan kemampuan memenuhi keinginan material.
Media sosial kemudian memperkuat kecenderungan tersebut. Berbagai tren, gaya hidup, tempat nongkrong, perjalanan, hingga produk tertentu ditampilkan secara terus-menerus. Kondisi ini dapat mendorong munculnya fear of missing out (FOMO), yakni kekhawatiran merasa tertinggal dari tren yang sedang berkembang.
Dorongan tersebut tidak jarang berujung pada perilaku konsumtif dan pembelian impulsif. Barang atau pengalaman tertentu kemudian dijadikan sarana untuk memperoleh kepuasan emosional maupun pelarian dari tekanan kehidupan.
Namun, persoalan ekonomi dan konsumerisme pada akhirnya dapat bermuara pada persoalan yang lebih mendasar, yakni pencarian makna hidup.
Ketika kebahagiaan hanya diukur dari kepuasan materi, manusia akan terus mengejar sesuatu yang baru. Tren akan berganti, tempat yang dianggap populer akan terus bermunculan, dan produk baru akan selalu ditawarkan.
Dalam perspektif Islam, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya menghadirkan kembali pemahaman mengenai tujuan hidup. Kehidupan manusia tidak semata-mata diarahkan untuk mengejar kepuasan materi, tetapi juga untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT.
Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam QS Adz-Dzariyat ayat 56.
Pemahaman tersebut dapat menjadi landasan bagi Gen Z dalam menentukan prioritas kehidupan. Materi tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan, tetapi tidak menjadi satu-satunya ukuran kebahagiaan.
Islam dan Upaya Menghadapi Tantangan Gen Z
Dalam perspektif Islam, persoalan ekonomi, gaya hidup, dan krisis makna hidup perlu dihadapi secara menyeluruh.
Dalam bidang ekonomi, Islam memiliki konsep pengelolaan sumber daya alam yang menempatkan kekayaan alam sebagai amanah yang harus dikelola untuk kemaslahatan masyarakat. Dengan pengelolaan yang baik, kekayaan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Islam juga memberikan perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan hidup dan penyediaan lapangan pekerjaan. Masyarakat memiliki hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak sekaligus memiliki ruang untuk melakukan kontrol sosial terhadap pengelolaan urusan publik.
Sementara dalam menghadapi budaya konsumerisme, Islam mengajarkan pola hidup yang seimbang. Pemenuhan kebutuhan tidak dilarang, tetapi tidak semestinya berubah menjadi perilaku berlebihan yang mengabaikan kebutuhan lain maupun tanggung jawab sosial.
Media pun dapat diarahkan menjadi sarana edukasi, penyebaran informasi yang bermanfaat, serta penguatan nilai-nilai ketakwaan.
Pada akhirnya, persoalan terbesar bukan hanya bagaimana Gen Z memperoleh penghasilan lebih baik atau menghindari perilaku konsumtif. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana mereka menemukan arah dan tujuan kehidupan.
Islam memberikan pandangan bahwa kehidupan manusia memiliki tujuan yang lebih tinggi daripada sekadar pencapaian materi. Ketika tujuan tersebut dipahami dan dijadikan landasan, seseorang memiliki pedoman dalam menentukan pilihan, termasuk dalam mengelola harta, membangun karier, menggunakan media sosial, dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, berbagai “sepak terjal” yang dihadapi Gen Z tidak hanya membutuhkan solusi ekonomi, tetapi juga penguatan nilai dan orientasi hidup.
Generasi Z membutuhkan ruang untuk tumbuh, kesempatan untuk berkarya, lingkungan yang sehat, serta nilai kehidupan yang dapat menjadi pijakan dalam menghadapi perubahan zaman.
Dalam perspektif Islam, semua itu diarahkan pada satu tujuan utama: menjalani kehidupan dengan memperoleh keridhaan Allah SWT.[]









Comment