Lagu “Basstamam” Viral, Syed Iqbal Kini Bidik Pasar Musik Indonesia

Hiburan34 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Penyanyi sekaligus performer asal Malaysia, Syed Iqbal, mulai memperkenalkan karya musiknya kepada publik Indonesia. Penyanyi berusia 25 tahun tersebut membawa musik bernuansa Islami dengan memadukan unsur bahasa Arab, Melayu, dan Indonesia.

Syed Iqbal memperkenalkan kiprahnya kepada awak media di Saka Social House, Warung Jati Raya No. 18, Jakarta Selatan, Minggu (20/9/2026). Kehadirannya di Indonesia menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan musiknya sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan musisi Tanah Air.

Salah satu karya yang tengah diperkenalkan adalah “Basstamam”. Berdasarkan keterangan yang disampaikan dalam pertemuan tersebut, lagu itu masuk Top 10 Malaysia Viral dan menempati posisi ke-7 di ERA. Lagu tersebut juga telah digunakan lebih dari 395 ribu pengguna TikTok.

Dari sisi capaian digital, pihak manajemen menyebut “Basstamam” telah meraih sekitar 5 juta streams di berbagai platform. Selain itu, tercatat sekitar 3,8 juta pemutaran di YouTube Music, 2,4 juta views untuk video musik (MV), serta 1,7 juta streams di Spotify.

Syed Iqbal mengatakan, kehadirannya di Indonesia tidak hanya untuk memperkenalkan lagu, tetapi juga membawa karya yang menurutnya dapat menyampaikan pesan positif kepada pendengar, khususnya generasi muda.

“Saya ingin memperkenalkan lagu-lagu saya di Indonesia. Basstamam tahun lalu cukup viral di Malaysia dan sedikit di Indonesia. Karena itu saya ingin memperkenalkannya lebih luas kepada teman-teman media dan masyarakat Indonesia,” ujar Syed Iqbal.

Syed Iqbal yang kini menetap di Kuala Lumpur diketahui berasal dari Perlis, Malaysia Utara. Ia memiliki latar belakang keluarga yang beragam, dengan garis keturunan Arab dan India serta keturunan Melayu Malaysia dari pihak ibunya.

Dalam perjalanan bermusik, Syed Iqbal telah merilis sejumlah karya, di antaranya “Basstamam”, “Marhaban”, dan “Bersamamu”. Ia juga membuka peluang menghadirkan karya baru yang tidak hanya menghibur, tetapi membawa pesan yang dapat dinikmati pendengar lintas negara.

Kedekatan Syed Iqbal dengan Indonesia salah satunya terbentuk ketika ia menempuh pendidikan di Mesir. Ia mengaku pernah berinteraksi dan berteman dengan sejumlah warga Indonesia selama berada di negara tersebut.

“Saya pernah berkawan dengan orang-orang Indonesia ketika di Mesir. Ada yang mengajarkan saya bahasa Indonesia dan juga ilmu agama. Jadi saya cukup dekat dengan orang Indonesia,” tuturnya.

Pengalaman tersebut turut mendorong Syed Iqbal memasukkan unsur bahasa Indonesia dalam karya musiknya. Menurut dia, perpaduan musik Arab dengan bahasa Indonesia dapat menghadirkan warna yang berbeda sekaligus memperluas pemahaman pendengar terhadap pesan lagu.

“Saya ingin lagu-lagu yang saya bawakan bisa dinikmati masyarakat Indonesia. Kalau mereka memahami maknanya, kemudian menghayati dan menyanyikannya, itu menjadi sesuatu yang sangat baik,” katanya.

Selain karya musik, Syed Iqbal juga memiliki latar belakang pendidikan agama. Dalam kesempatan tersebut, Syakir Daulay menyampaikan bahwa Syed Iqbal pernah menimba ilmu di Al-Azhar, Kairo, serta Hadramaut, Yaman.

Sebelum lebih jauh masuk ke industri musik, Syed Iqbal dikenal sebagai pembaca qasidah, selawat, dan nasyid. Pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan bermusiknya dalam mengembangkan karya bernuansa Islami dengan pendekatan yang lebih dekat dengan pendengar muda.

Untuk memperluas kiprahnya di Indonesia, Syed Iqbal menggandeng Bimo Maxim sebagai bagian dari manajemen di Tanah Air. Bimo menyampaikan bahwa pihaknya tengah membahas sejumlah agenda untuk memperkenalkan Syed Iqbal kepada publik Indonesia, termasuk kemungkinan menggelar mini konser atau kegiatan musik.

Syed Iqbal juga membuka peluang berkolaborasi dengan musisi dan vokalis Indonesia. Ia menyebut konsep kolaborasi masih dalam tahap pembicaraan, termasuk kemungkinan memadukan vokal penyanyi Indonesia dengan lagu berbahasa Arab maupun karya yang menggabungkan bahasa Arab dan Indonesia.

“Saya terbuka untuk berkolaborasi dengan vokalis Indonesia. Bisa saja penyanyi Arab berkolaborasi dengan penyanyi Indonesia, atau lagu berbahasa Arab yang dikemas dengan sentuhan Indonesia,” ujarnya.

Sejumlah nama musisi Indonesia juga disebut sebagai pihak yang ingin diajak berkolaborasi, di antaranya Opick, Hanan Attaki, Wali Band, hingga Dewa. Namun, rencana tersebut masih berupa penjajakan dan belum menjadi kolaborasi yang telah direalisasikan.

Di luar musik, Syed Iqbal mengaku memiliki ketertarikan terhadap berbagai hal tentang Indonesia, termasuk kuliner. Ia mengatakan pernah menikmati sejumlah makanan khas Indonesia saat berada di Tanah Air.

Ke depan, Syed Iqbal bersama tim juga menyiapkan karya baru dengan penggunaan bahasa Indonesia. Salah satu rencana karya tersebut mengangkat tema Ramadan dan Idulfitri.

“Saya masih 25 tahun. Perjalanan masih panjang. Harapan saya, masyarakat Indonesia bisa menikmati lagu-lagu saya dan semoga karya-karya saya dapat diterima dengan baik,” pungkasnya.

Kehadiran Syed Iqbal di Indonesia menjadi langkah untuk memperluas jangkauan musiknya dari Malaysia ke Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.

Selain memperkenalkan karya yang telah dirilis, ia juga membuka ruang untuk kolaborasi dengan musisi Indonesia serta pengembangan karya dengan perpaduan unsur Arab, Melayu, dan Indonesia.[]

Comment