Ummu Raihan: Kapitalisasi Pariwisata

Berita978 Views
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Indonesia adalah surga dunia, begitulah kebanyakan orang menyebutnya, bagaimana tidak begitu banyak keindahan alam yang diciptakam Allah SWT dibumi pertiwi ini yang terbentang dari sabang sampai merauke berupa pengunungan, lautan, sungai, hutan, air terjun, goa, dan masih banyak yang lainnya.
Kekayaan alam yang indah ini dimanfaatkan oleh kaum kapitalis untuk meraup untung sebesar-besarnya bahkan tanpa memikirkan dampak negatif yang ditimbulkan. Tak hanya eksploitasi alam tali manusia khususnya perempuan dan anak-anak.
Pariwisata dijadikan primadona baik didunia desa maupun dikota bahkan negara melirik sektor ini sebagai sumber pendapatan negara.
Bak dua sisi mata uang perkembangan pariwisata di dunia dan Indonesia khususnya disatu sisi menambah pendapatan beberapa orang, daerah, maupun negara tapi disisi lain mengundang bencana.
Diantaranya bencana masuknya budaya asing, tak jarang budaya asing berupa kebebasan bicara, berekspesi mewarnai penduduk lokal bahkan mengerus budaya lokal yang ketimuran. Gaya hidup serba bebas ditukarkan pada penduduk lokal sehingga budaya lokal yang ramah dan ketimuran berangsur-angsur menjadi kebarat-baratan. Sistem kapitalis yang hanya mencari keuntungan tidak memperhatikan dampak ini seperti banyaknya turis yang mengumbar aurat, bahkan telanjang, minuman keras, perayaan kemusyrikan, eksploitasi alam dan manusia besar-besaran dll.
Pemerintah Indonesia sendiri sudah memulai mengembangan potensi pariwisata sejak tahun 1991 dengan slogan visit Indonesia year untuk menarik wisatawan mancanegara. Kemudian dilanjutkan pada tahun 2008 dengan mengusung slogan Pesona Indonesia atau Wondeeful Indonesia, dampaknya luar biasa dari tahun ketahun jumlah kunjungan mengalami kenaikan.
Data kementrian pariwisata menyebutkan rata-rata wisatawan asinh yang datang sebanyak 1,25 juta orang perbulan dan tahun ini pemerintah menargetkan 17 juta kunjungan wisatawan asing ( travel.kompas.com 26/07/2018).
Dari sektor pemasukan pada tahun 2017 sebesar $16,8 miliar dollar dan ditargetkan naik 20% pada tahun ini ( tempo.com 20/08/2018). Pemerinta menargetkan pemasukan dari sektor ini jadi sumber utama devisa negara pada tahun 2019.
Untuk itu pemerintah mendorong semua pihak agar menyukseskan program -program pemerintah demi tujuan ini.Dibuatlah undang-undang khusus kepariwisataan dan pembangunan infrastruktur penunjang, fasilitas pendukung, penggalakan investasi, dan meningkatkan peran serta masyarakat. Karna diyakini sektor ini mampu menyumbang devisa untuk negara, membuka lapanagan kerja,  menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi yg tersebar diseluruh negri.
Namun semua itu hanya sebuah harapan karna nyatanya kapitalisasi pariwisata justru menimbulkan mudhorat yang juga besar. Rusaknya keasrian alam karna ekploitasi besar-besaran, budaya asing yang mengerus budaya lokal, gaya hidup bebas, kerusakan moral, sengketa dan pemiskinan karna kepemilikan lahan berpindah, misalnya pihak Taman Nasional Gunung Rinjani sejak 1997 mengklaim tanah seluas 40.000 hektar dusun jurang koak akibatnya masyarakat tidak dapat lagi berktifitas,mengelola lahan dan melestarikan wilayah adat yang berada dikawasan ini(agraria.org)
Adalagi kesenjangan pendapatan dan kesejahtraan masyarakat antara pelaku dengan masyarakat lain yang tidak bersentuhan dengan pariwisata secara langsung. Ketidakberdayaan masyarakat lokal dalam bersaing dengan para investor asing, dll.
Ini adalah strategi penjajahan asing terhadap negri ini dengan cara pertama, klaim bahwa pariwisata adalah kunci pertumbuhan ekonomi. Dibeberkan data penunjang dan klaim positif lainnya.
Kedua, membuat regulasi pengembangan sustainable tourism melalu permen no 14 tahun 2016 tentang pedoman Destinasi pariwisata berkelanjutan, mempermudah prosedur pembuatan visa, dan ijin masuk negara lain serta kerjasama bilateral.
Ketiga, jerat hutang lembaga keuangan dunia melalui investasi. Keempat, liberalisasi budaya, nilai demokrasi sekuleristik. 
Maka butuh kesadaran penuh untuk melepaskan diri dari penjajahan pariwisata ini bukan hanya sekedar melihat keuntungan materi yang sedikit, wallahu a’lam.[]
Penulis adalah ibu rumah tangga
Nama asli:Yuli Ema Marini

Comment